
Dreet Dreet Dreet
Dering ponsel Arya. Setelah merasakan ada panggilan, akhirnya Arya langsung mengambil ponselnya di dalam saku. Melihat nama Pras, Arya langsung berfikir aneh-aneh di kira Dira kenapa-napa.
"Fan, aku angkat telepon dulu. Kamu tunggu disini sebentar, nanti aku kembali lagi," pamit Arya. Fani hanya menganggukkan kepala, dan kembali menikmati cemilannya.
"Hallo," ucap Arya saat sampai di balkon apartemen.
"Hallo, Kak." Arya pun langsung melotot saat mendengar suara Dira dari sebrang sana.
"Dira!"
"Iya, ini Dira," balas Dira sekali lagi.
"Jangan bilang kamu sekarang dengan Pras!" tanya Arya dengan kesal. Entah mengapa bayang-bayang lucknut tiba-tiba melintas di dalam kepalanya.
"Iya, Pras ada disini. Dia menemani aku, kakak tenang saja. Dia gak akan meninggalkan aku kok, dia adalah bodyguard yang sangat patuh. Aku suka sama kepolosan yang dia miliki," jawab Dira tanpa memikirkan perasaan Arya.
Awas saja jika sampai kamu macam-macam, Pras! Aku gak akan segan-segan membunuhmu, dan menarik semua fasilitas adikmu itu! gumam Arya dalam hati.
"Kak, aku tau kamu diam karena geram kan? Aku hanya ingin tau kabarmu saja, sebab itu aku minta tolong Pras. Jadi jangan berfikir aneh-aneh, aku dan Pras murni sebagai teman," ucap Dira. Dira sangat tau jika Arya marah, sebab itu Dira memperingati Arya.
"Ingin tau kabarku, kenapa harus pakai nomor Pras? Kenapa gak menghubungiku dengan nomormu?" jawab Arya dengan mengatur emosinya. Namun tak lama terdengar suara tawa dari sebrang, dan membuat Arya bingung.
"Kenapa ketawa, Dira?"
"Aku tertawa karena, kak Arya. Jika aku tau nomor kakak, mana mungkin aku pinjam ponsel Pras. Lebih baik aku hubungi kakak daritadi sore, daripada menunggu Pras." Setelah mendengar penuturan Dira, Arya mulai berfikir dan memang benar apa adanya. Dira tak memiliki nomornya, dan begitu juga Arya.
"Ya sudah, nanti kamu kirim nomor kamu lewat ponsel Pras dan nanti saat aku pulang langsung aku hubungi kamu. Untuk sekarang aku lagi di apartemen Fani, jadi aku tak bisa lama-lama," ucap Arya.
__ADS_1
"Kamu di rumah kak Fani?" tanya Dira.
"Iya aku di apartemen, Fani. Tadi mama menyuruh aku mengakhiri hubunganku dengan Fani secepatnya, dan sekarang aku mau melakukan semua tapi aku belum bisa," jawab Arya dengan penuh penyesalan. Diam itu yang dilakukan Dira, dia tak bisa berkata apa-apa. Karena disini posisi Dira seperti seorang pelakor.
"Dir?" panggil Arya saat menyadari tak ada jawaban dari Dira.
"Emm, maaf tuan. Nyonya Dira sedang masuk kedalam rumah, katanya perlu ke toilet," jawab Pras. Arya tau jika Dira sedih, tapi dirinya juga bingung harus melakukan apa.
"Pras, kamu kirim nomor Dira dan tolong jaga dia. Aku masih ada urusan disini, jadi aku mohon bantuannya untuk mengawasi Dira," pinta Arya.
"Baik, tuan." Setelah itu panggilan pun terputus dan tanpa Arya sadari, ternyata Fani mendengarkan semua ucapannya dengan Dira. Marah, kesal, ingin mengamuk itu yang Fani rasakan sekarang.
Aku gak akan pernah biarkan kalian bersatu! Arya hanya milikku, dan akan tetap milikku. Aku gak mau sampai mereka bersatu, lihat saja aku gak akan biarkan kalain menyingkirkan aku! gumam Fani dalam hati.
"Sayang, kamu kok lama sih?" ucap Fani pura-pura tenang, padahal hatinya lagi panas. Sedangkan Arya langsung terkejut karena mendengar suara Fani, takut jika Fani mendengarkan ucapannya dengan Dira.
"Baru saja aku datang, karena kamu lama jadi aku menghampirimu. Tapi, maaf jika aku mengganggumu," jawab Fani dengan manja.
"Kamu tidak menganggu, kok. Ayo kita kembali ke ruang tamu, sepertinya aku akan kembali pulang karena ini sudah sangat larut. Besok aku usahakan datang kesini, dan kita akan berbicara sesuatu hal yang serius," balas Arya dengan lembut.
Fani hanya bisa menganggukkan kepada, dia sudah tau apa yang akan di ucapkan Arya dan dia akan mengatur strategi agar Arya tak jadi mengucapkan kata-kata perpisahan.
"Baiklah,"
****
Sedangkan di sisi lain, Dira sedang menangis tersedu-sedu. Dia merasakan sakit di dalam hatinya, karena jawaban Arya tadi. Dira benar-benar merasa seperti wanita bodoh, dan gampang di bodohi.
"Sudahlah, Mbak. Aku yakin tuan Arya serius dengan anda, karena saya tau bagaimana bingungnya tuan Arya saat anda tak ada," ucap Pras yang berusaha menenangkan Dira.
__ADS_1
"Pras, bukan masalah itu Pras. Aku itu nangis karena, aku merasa seperti pelakor. Huaaaa, Pras dalam sekejap aku jadi pelakor Pras." Pras semakin bingung dan kelabakan saat Dira semakin menangis. Pras takut jika warga salah paham.
Astaghfirullah, mbak Dira kalau menangis kencang sekali. Aku takut warga salah paham, dan aku yang di kira ngapa-ngapain mbak Dira. Ya Allah tunjukkan cara menenangkan seorang wanita, sungguh aku takut ya Allah. gumam Pras dalam hati, dia sangat bingung dan takut jika ada seseorang yang melihat.
"Mbak Dira bukan pelakor, mbak Dira gak salah dalam hal ini. Mbak Dira hanya menjalankan amanat, jadi Mbak bukan pelakor." Ucapan Pras sungguh tak didengarkan oleh Dira, dia tetap menangis karena bingung harus bagimana.
"Mbak itu cantik, kalau nangis nanti makin jelek. Jadi jangan nangis ya, tuh liat pipinya makin tembem jadinya." Karena kehabisan kata-kata, akhirnya Pras melenceng jauh. (seperti author)
"Apaan sih! Aku itu lagi sedih, kenapa malah bahas cantik segala?" protes Dira.
"Mbak, saya kasih tau ya. Ini rahasia, sebenarnya kak Nunuk lagi bingung cari kata-kata. Sebab itu dia puter-puter ini cerita, agar sampai 1000 kata. Namun karena dia udah habis ide, jadi dia nyuruh saya bilang kayak gitu," jawab Pras dengan senyuman jahil.
"Eh, apa iya?" Dira pun semakin penasaran.
"Apaan kalian ini, gak ada kerjaan apa? Cepat kembali ke dialog pertama, aku sudah susah-susah mikir biar nyambung kalian malah ngejek! Balik gak 😡"
"Huaaa, mommy datang. Pras kembali ke skenario awas kena amukan nya." ~ Dira
"Iya Mbak, aku kapokk." ~ Pras
"Dah, kelamaan. Aku mau mikir lagi, break sejenak." ~ Author geje
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1