
Setelah kepergian Dira juga Arya. Suasana di dalam kamar seperti gak ada penghuni sama sekali, karena manusia yang ada di sana hanya diam dan saling pandang langit-langit atap ruangan.
Mereka bingung mau bicara seperti apa, dan seperti kehilangan topik pembicaraan. Apalagi semua terasa sangat canggung, setelah kejadian yang menimpa Lessy.
Karena merasa bosan, dan merasa ingin ke kamar mandi. Lessy berusaha bangun dari tidurnya. Tapi, dengan cepat Vano membantu Lessy.
"Mau kemana? Biarkan aku bantu, kamu belum pulih sepenuhnya," ucap Vano sambil memegang tangan Lessy.
"Anu, aku bisa sendiri. Lagian, aku gak mungkin bersama kamu. Karena aku mau ke toilet, gak mungkin kan kamu iku?" tanya Lessy dengan tatap bertanya.
Seketika Vano terdiam. Benar kata Lessy, Aku gak mungkin ikut ke kamar mandi. Tapi, aku juga gak bisa biarkan Lessy pergi ke kamar mandi dengan keadaan lemas.
Setelah itu Vano melirik kanan-kirinya, mencari sesuatu agar Lessy gak terlalu capek, atau kesulitan saat ke kamar mandi.
"Tunggu sebentar, jangan berdiri dulu."
Vano pun langsung keluar dari dalam ruangan. Entah kemana Vano, tapi kelakuannya ini sangat membingungkan bagi Lessy.
"Ada-ada saja kamu, Vano. Jika kamu selalu seperti ini, maka sulit untuk bagiku untuk melupakanmu. Sungguh beruntung sekali Alena, bisa mendapatkan cintamu. Mungkin dari sekarang aku harus belajar, cinta tak harus memiliki."
Tak lama setelah itu, Vano datang dengan membawa kursi roda. Vano sengaja membawa kursi roda, agar Lessy bisa melakukan sendiri tanpa berjalan.
"Sini, aku bantu duduk. Nanti di dalam kamar mandi, kalau gak kuat berdiri kamu bisa pegangan ini," ucap Vano.
__ADS_1
Sedangkan Lessy hanya mengangguk, dan menerima uluran tangan Vano. Lessy duduk di kursi roda, dengan di bantu Vano. Setelah selesai, Vano mengantar Lessy sampai di depan pintu.
"Aku tunggu di sini, kalau ada apa-apa kamu teriak saja."
"Iya."
Lessy masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Vano menunggu di depan pintu. Karena merasa bosan Vano melihat ponselnya, dan Vano melihat pesan dari Alena.
Alena : Vano, apakah kamu marah denganku? Jika iya, maafkan aku. Mungkinkah hubungan kita bisa di pertahankan, atau kamu sudah berpaling dariku?
Vano menghembuskan napasnya sangat kasar. Jika di tanya apakah dia masih mencintai Alena, jawabnya iya. Tapi, Vano juga marah dengan kelakuan Alena. Mereka belum menikah, tapi Alena sudah melarang ini itu. Vano butuh kebebasan untuk mewujudkan cita-cita, dan itu semua harus berinteraksi dengan banyak orang.
Jika Vano menurut terus dengan Alena, dan menganggap cemburu nya Alena wajar. Maka dia gak akan pernah bisa berkembang, atau meraih kesuksesan. Vano hanya membutuhkan dukungan, tapi Alena tak pernah memberi dukungan apapun.
Yang ada di otak Alena hanya cemburu, curiga, berprasangka buruk, bahkan menuduh tidak tidak. Pernah sekali Alena membuat Vano gagal melakukan ujian, karena merengek minta di antar ke Mall.
Vano : Beri aku waktu, Alena. Jika pun aku memberikan kesempatan, apakah kamu mau berubah? Kamu gak sekali dua kali, melakukan kesalahan. Berapa kali juga aku memaafkan mu, tapi berakhir kamu mengulang kesalahan yang sama. Aku lelah Alena, jika seperti ini terus.
Alena : Maaf, aku memang salah. Aku pantas mendapatkan ini semua, dan aku mengaku salah. Jika kamu lebih memilih Lessy, maka aku akan menerima itu.
Seketika Vano menarik rambutnya sangat frustasi. Lagi-lagi Alena menyangkut pautkan Lessy, padahal jelas-jelas dia dan Lessy gak ada apa-apa.
Vano : Inilah yang gak aku suka darimu, Alena. Kamu selalu SU'UDZON, denganku. Sudah berapa kali, dan beribu kali. Jika aku gak ada hubungan apapun dengan Lessy. Aku gak pernah mencintai Lessy, dan kamu tau aku hanya mencintai kamu. Apakah kamu masih curiga denganku, Alena? Mencintai bagiku membutuhkan waktu sebentar, tapi melupakan, hingga meninggalkan seseorang itu membutuhkan proses yang sangat lama Alena. Lebih baik, kita introspeksi diri masing-masing. Aku lelah Alena.
__ADS_1
Setelah selesai membalas pesan Alena, Vano langsung menoleh ke samping. Betapa kagetnya Vano, saat melihat Lessy berdiri di samping nya, sambil mendorong kursi roda nya.
Vano merasa ada yang aneh dengan Lessy, apalagi Lessy sedang nangis saat ini. "Lessy, kamu kenapa?" tanya Vano sangat khawatir.
Namun Lessy tak menjawab ucapan Vano. Dia lebih memilih diam, dan kembali ke ranjang pesakitan nya.
Vano yang masih bingung hanya bisa mengikuti Lessy dari belakang. Vano membantu Lessy, dan menyelimuti Lessy.
"Van, aku mau istirahat. Aku capek, maaf merepotkanmu," ucap Lessy sambil menahan air matanya agar gak jatuh.
"Les, kamu ada masalah? Atau kamu merindukan orang tuamu, atau apa?" tanya Vano yang sangat penasaran. Vano bingung kenapa Lessy menangis, dan tiba-tiba menjadi diam.
"Iya, aku merindukan orang tuaku. Sudah ya, aku mau tidur. Oh ya, bilang sama Alena. Aku gak akan merebut kekasihnya, aku juga sadar diri kok. Aku gak mau mengambil milik seseorang, karena aku juga wanita. Lagian, setelah aku pikir-pikir. Kita masih remaja, kenapa sih harus mempermasalahkan ini? Masa depan masih panjang, lebih baik kita meraih cita-cita yang tinggi," ucap Lessy sambil tersenyum.
Vano yang mendengar ucapan Lessy, langsung tersenyum simpul. Di sini Vano mulai paham, jika Lessy melihat isi chat nya dengan Alena.
"Kamu benar, lebih baik kita fokus ke cita-cita kita. Masalah jodoh, jika pikir nanti. Lebih baik menikmati masa muda kita, daripada kita ribut terus. Lebih baik kita berteman, apakah kamu mau berteman denganku, Lessy?" tanya Vano sambil mengulurkan tangan.
Lessy pun membalas uluran tangan Vano. Mereka sepakat akan menjadi teman saja, dan mulai dari sini, Lessy akan berusaha melupakan Vano. Berjuang pun juga percuma, jika hati Vano bukan untuknya.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading.