
"Pras, apakah Dira baik-baik saja?" tanya Arya yang begitu khwatir. Sungguh pikirannya sekarang terbagi dua, di antara Fani dan Dira. Terakhir kali Dira menghubungi Arya saat Arya berada apartemen Fani, dan setelah itu Dira mulai sulit di hubungi.
"Anu Tuan..." jawab Pras tergagap-gagap. Pras benar-benar bingung mau menjawab apa, kalau dia jujur akan mati dan kalau bohong pun juga akan mati di tangan Arya.
"Jangan anu anu mulu, jawab yang benar! Apa yang terjadi dengan Dira, dari kemarin dia tak mengaktifkan ponselnya dan ini membuat aku sangat khawatir," bentak Arya sangat keras.
"Tuan... Saya akan jujur, tapi saya mohon jangan bunuh saya," pinta Pras dengan takut. Bergidik itu yang dirasakan Pras, dia berasa berada di pinggir jurang yang sangat dalam dan di tepi kandang buaya. Jika gak loncat jurang akan di makan buaya, dan jika dia dia loncat akan mati di dasar jurang.
Sial kenapa orang kaya membuat aku bingung, mereka selalu seenaknya sendiri tanpa berpikir bagaimana keadaanku saat ini. Setidaknya mikir, aku ini takut atau engga, eh malah ngamuk-ngamuk gak jelas semua. gerutu Pras dalam hati.
"Pras!" Pras pun langsung tersentak mendengar teriakan Arya, ingin sekali Pras mengumpat dan memarahi Arya. Namun lagi-lagi Pras ingat, jika Arya adalah bosnya.
Sabar Pras, sabar. Ini semua demi keluargamu, agar adikmu bisa sekolah ke jenjang tinggi. gerutunya lagi.
"Iya Tuan. Jadi begini, dari semalam saya melihat Nyonya Dira menangis. Waktu saya tanya, ternyata Nyonya menangis karena Tuan," jelas Pras sedikit takut.
"Teruskan," pinta Arya. Setelah itu Pras mulai menceritakan semuanya, apa yang dia dengar dari Dira dan membeberkan semua pada Arya.
"Shi*t! Mama biasa deh, ngapain bilang-bilang sama Dira kalau Fani hamil. Makin rumit begini sih! Agrrrht..." oceh Arya yang membuat Pras meringsut.
__ADS_1
"Sekarang dia dimana? Coba berikan ponselmu pada Dira, aku ingin bicara empat mata," pinta Arya. Namun bukannya menjawab, Pras menjadi diam terpaku. Dia benar-benar bingung harus berkata apa?
"Pras!"
"Gini Tuan, karena Nyonya merasa kecewa dengan Tuan dan juga merasa jadi perusak hubungan kalian. Akhirnya Nyonya memutuskan untuk pergi meninggalkan kota Malang, bahkan sekarang Nyonya sedang berkemas," ucap Pras dengan lirih.
Bagikan di sambar petir dimalam hari, Arya merasa tubuhnya seakan lemas tak bertenang. Inilah hasil dari kebodohan yang Arya buat, harus kehilangan Dira untuk kedua kalinya. Arya merasakan kepalanya pening, dan berputar-putar saat mendengar ucapan Pras. Namun sebisa mungkin Arya menahan semua itu, karena bagi Arya ini bukan waktunya untuk merenungi kesalahan fatal yang dia perbuat.
"Pras, aku mohon cegah Dira pakai cara apapun itu. Aku akan kesana hari ini juga, dan kamu harus bisa mencegah Dira. Jika kamu gagal, jangan salahkan aku jika aku akan melemparmu ke kandang buaya!" tanpa menunggu jawaban Pras, Arya langsung mengakhiri pangilan tersebut dan memilih menemui Seto.
****
"Jadi bagaimana, menurutmu?" ucap Arya saat dirinya berada di kantor Seto.
"Maksudmu!" jawab Arya sambil menatap tajam Seto. Lucu itu yang dirasakan Seto saat melihat wajah garang, dengan sedikit kebodohan yang hakiki.
"Sialan, jangan ketawa mulu. Aku ini serius, nanti sore aku harus berangkat ke Malang dan waktuku hanya sebentar saja," jelas Arya sambil melemparkan segenggam kacang goreng kesukaan Seto.
"Aku serius, Arya! Akun ini menjadi temanmu sudah lama, jadi aku heran saja saat melihat sifat barumu yang begitu bodoh," ledek Seto sekali lagi dan berhasil membuat Arya geram.
__ADS_1
"Seto! Jaga sopan santun mu!" cerca Arya dengan geram.
"Eh kamu lupa? Ini kan perusahaan ku, jadi disini aku bos dan kamu hanya tamu," ledek Seto sambil terbahak-bahak. Arya benar-benar lupa, jika sekarang dia berada di kandang Seto. Jadi dia tak berhak memarahi Seto, seperti biasa.
"Ck, aku lupa," balas Arya sambil melirik tak suka. Gemas Seto sungguh gemas dengan Arya, bahkan ingin sekali Seto memfoto muka jutek Arya dan mengabadikan foto itu di IG. Untuk di jadikan kenang-kenangan.
"Udah ah bercandanya, aku mau serius. Jadi gini, kenapa kamu gak bilang sama aku dari awal. Lagian ini otak dodol banget sih, kok gak cerdas gitu. Seharusnya jika kamu memang ragu, kenapa gak cek CCTV di kamar hotel itu, dan Bar yang kalian kunjungi," jawab Seto sambil meminum jus jeruknya.
"Aish, kenapa aku bodoh sekali. Benar juga kata-katamu, bahkan sampai bodohnya aku membiarkan ini sampai satu bulan," gerutu Arya sambil menepuk-nepuk kepalanya. Seto jelas tertawa melihat tingkah Arya, hingga perutnya terasa sakit akibat kebanyakan tertawa.
"Ya sudah cari sana, aku mau lanjut kerja," ucap Seto sedikit mengusir Arya. Namun belum sempat Seto mengerjakan laporannya, Arya sudah mencekal tangan Seto dan memberikan kejutan yang sangat melelahkan lagi.
"Tunggu, bukan akun yang cari rekaman itu. Tapi kamu yang harus cari, karena aku harus pergi nanti. Kalau sampai aku terlambat, maka aku akan kehilangan Dira lagi," jelas Arya. Sedangkan Seto hanya bisa melongo mendengar ucapan Arya, dia harus melakukan tugas lagi dan itu tak bisa di ganggu gugat.
"Sialan!"
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading