
"Eh... Ra disitu ada tetangga baru ya? Kok Mbak lihat daritadi banyak orang yang membersihkan rumah sebelah, dan banyak mengganti barang." tanya Dira pada Aira.
"kayaknya iya Mbak, soalnya aku tadi tanya Mas Pras gitu. Mas Pras bilang ada pendatang baru, dan sangat kaya katanya," jawab Aira. Sedangkan Dira hanya menganggukkan kepala.
Setelah itu Dira kembali membereskan barang dan segera menutup warungnya. Setelah selesai membersihkan semua peralatan warung, Dira langsung menyuruh Aira pulang karena hari mulai petang.
"Ini uang buat kamu, dan ini juga jatah makan malam untuk kamu nanti. Ingat langsung pulang jangan keluyuran, ini sudah mau maghrib. Mbak gak mau kamu tersesat, atau sampai kenapa-napa," ucap Dira dengan serius. Bagaimanapun juga Dira sudah menganggap Aira seperti adiknya sendiri, dan Dira gak mau terjadi apa-apa dengan Aira.
"Iya Mbak." Setelah itu Aira mencium tangan Dira dan langsung pergi meninggalkan warung Dira. Dan tak selang berapa lama, datanglah Pras dengan senyuman yang sangat manis..
"Baru tutup Nyonya?" tanya Pras kepada Dira.
"Iya Pras. Emm.. Bisa tidak kamu gak perlu panggil aku Nyonya, karena sangat tak enak di dengar. Lebih baik kamu panggil Mbak, atau Dira saja." protes Dira saat Pras masih saja memanggilnya Nyonya
"Jatuhnya tidak sopan jika saya panggil Dira, bagaimana kalau Mbak Dira saja. Itu masih terlihat sopan, dan juga enak di dengar," jawab Pras.
"Baiklah, kita sepakat," balas Dira dengan tersenyum. Senyuman yang sangat manis, dan ingin sekali Pras mencium bibir itu. Tapi sayang beribu sayang, orang yang dia cintai bukanlah miliknya.
"Oh ya, tadi Aira bilang kamu tau tentang tetangga baru kita. Apa kamu mengenal orang itu?" tanya Dira.
Bagaikan di sambar petir, Pras sungguh terkejut dengan pertanyaan Dira. Pras sangat bingung harus jawab apa, gak mungkin kan dia bilang kalau itu adalah Arya.
"Emm... Itu saya hanya dengar dari tetangga sebelah, katanya orang yang akan menyewa tempat itu adalah orang kaya. Bahkan orang itu berani menerima harga sewa yang diberikan pemilik rumah," jawab Pras. Lelaki itu terpaksa bohong, walaupun tak semuanya bohong. Tapi, setidaknya Pras bisa memberikan jawaban untuk Dira.
"Memang berapa yang di tawarkan pak Zaenal, perasaan kemarin aku menawar rumah itu sekitar lima jutaan setahun. Sekarang jadi berapa?" Dira semakin kepo dengan informasi yang akan diberikan oleh Pras, biasanya Dira gak akan sekepo ini. Tapi entah kenapa hari ini dia sangat penasaran.
"Saya dengar sih, seratus juta dalam setengah tahun..."
Prang...
Pras tak jadi melanjutkan ucapannya karena melihat Dira yang menjatuhkan nampan yang Dira pegang, karena terkejut dengan ucapan Pras.
"Astaghfirullah, seratus juta dalam setengah tahun. Seperti apa bentuk uang seratus juta, walaupun aku ada tabungan dari Vano tapi, gak sampai seratus juta." gumam Dira dalam hati.
__ADS_1
"Mbak Dira gak apa-apa kan, apa ada yang sakit atau ada yang membuat Mbak terkejut?" tanya Pras yang panik. Pasalnya Dira langsung menjatuhkan loyang itu, saat Pras berkata nominal uang Seratus juta.
"Aku gak apa-apa, Pras! Aku hanya terkejut saja. Kalau boleh tau dia orang mana, kelihatan sangat kaya tapi kenapa pindah di desa kecil dan hanya setengah tahun pula." tanya Dira dengan penuh rasa penasaran.
"Besok Mbak Dira akan tau, siapa orangnya. Saya kesini hanya ingin bilang sesuatu sama Mbak," ucap Pras sambil mengalihkan pembicaraan tentang tetangga baru.
"Bicara apa Pras? Kamu gak akan memberitahu Kak Arya kan?" tanya Dira. Bahkan kini Dira merasa takut, jika Pras keceplosan tentang keberadaan dirinya. Jika memang iya, Dira pastikan akan langsung kabur malam ini juga.
"Insting dia sangat tajam ya? Belum juga aku bilang dia sudah tau tapi, aku gak akan jujur dulu sama dia, takutnya malah kabur karena tau bos akan datang." gumam Pras.
"Bukan, saya hanya mau pamit saja kok. Sebenarnya saya sudah tak ditugaskan oleh bos Arya, waktu saya sudah habis untuk mencari Mbak Dira. Jadi bos memperbolehkan saya pulang dan kerja seperti biasa, jadi tujuan saya hanya ingin berpamitan saja," Pras akhirnya menjawab pertanyaan Dira. Ingin rasanya dia jujur, tapi itu tidak mungkin.
"Gak akan bertemu kamu lagi, dong? Padahal aku sudah sangat nyaman sama kamu Pras. Tapi, jika memang Kak Arya menyuruh kamu kembali, ya sudah gak apa-apa. Toh kamu juga perlu menghidupi keluarga kamu, kalau kamu terus di sini gak akan dapat uang." jelas Dira yang mencoba menyembunyikan rasa sedihnya, namun usaha Dira bisa dilihat jelas oleh Pras.
"Jangan sedih Mbak, kita akan bertemu lagi di jakarta jika Mbak mau kembali. Dan saya akan setia menjadi Bodyguard Mbak, sampai raga ini tak bernyawa," ucap Pras dengan tulus. Dira pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Jika aku kembali nanti, kamu orang pertama yang akan aku temui. Kamu sudah aku anggap saudara, jadi jangan pernah lupakan aku ya?" ucap Dira dengan mata berkaca-kaca. Sungguh Pras tak bisa melihat Dira menangis, ingin rasanya Pras memeluk Dira.
Dengan sangat bahagia Pras langsung memeluk tubuh mungil Dira, dengan sangat erat. Sedangkan Dira langsung membalas pelukan Pras, karena memang Dira menganggap ini adalah pelukan perpisahan sebelum Pras pergi.
"Aku mencintaimu, Dira Larasati."
****
Suasana Dingin di kota Malang pun mulai terasa dan menusuk hingga tembus ke tulang-belulang Arya. Ingin rasanya dia mengumpat berkali-kali, karena dia lupa membawa jaket tebal.
"Tau gini aku akan membawa mantel saja. Bisa-bisa Dira tinggal di kota sedingin ini, bahkan setara dengan kota Swiss," gerutu Arya saat baru datang.
Tepat pukul 04:00 Arya sampai di Bandar Udara Internasional Juanda. Dan setelah itu Arya harus menyewa Grab Car agar bisa sampai ke desa Rojo pasangan, dan itu membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Arya bahkan sangat mengutuk jalan yang dia lalui beberapa waktu itu, karena jalan yang terlalu terjal dan berbelok belok, membuat perut Arya mual hingga memuntahkan isi perutnya.
"Sungguh aku akan protes ke balai desa, aku akan bilang jika membuat jalan jangan belok belok. Apalagi itu terlalu menanjak, bagaimana jika supir tadi masih amatiran, pasti aku akan jatuh kejurang dan rencana ku ambyar semuanya!" omel Arya sekali lagi. Namun ocehan Arya tiba-tiba berhenti, saat melihat seorang wanita yang baru keluar dari rumah dengan menggunakan baju tidur satin yang sangat tipis.
"Dira!" ucap Arya sedikit geram. Bagaimana tidak geram, jika Dira memakai baju yang amat tipis di tengah kota dingin ini. Dan satu lagu, lekuk tubuhnya sangat menggoda iman.
__ADS_1
"Bisa-bisanya dia hanya memakai baju seperti itu! Bahkan itu tidak bisa dibilang baju, karena sangat tipis!" gerutu Arya sekali lagi. Namun tak lama setelah itu, Arya langsung menghentikan gerutuannya saat melihat Dira mendekati dirinya. Karena gak mau ketahuan, akhirnya Arya mengambil sapu tangannya dan menutup mulutnya dengan sapu tangan.
"Sial... Untung aku pakai topi, jadi gak terlihat sangat jelas. Lagian kenapa Dira kesini sih, kan ini belum waktunya kota bertemu!" geram Arya dalam hati.
"Mas yang baru pindahan ya?" tanya Dira saat berada di dekat Arya.
"Aduh jika aku jawab, Dira paham gak ya suaraku?" Arya semakin bingung karena jika di jawab apakah Dira hapal suara Arya, atau tidak.
"Mas kok diem saja sih?" tanya Dira sekali lagi.
"Dira awas kamu ya!"
"Mbak!" panggil Aira sambil menepuk tangan Dira. Terkejut itulah yang dirasakan Dira, hingga membuatnya langsung menoleh ke arah Aira.
"Aira kamu sangat mengagetkan Mbak, lain kali gak boleh gitu ya?" Dira berusaha menasehati Aira, jika yang dia lakukan adalah salah. Sedangkan Arya mengambil kesempatan ini untuk kabur, dengan sangat cepat Arya langsung masuk tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Wusss... (anggap bunyi hilangnya Arya)
"Maaf Mbak," jawab Aira dengan rasa bersalah. Gak tega itu yang dirasakan Dira, karena memang Dira gak tegangan.
"Ya sudah jangan sedih, lain kali gak boleh begitu. Itu namanya gak sopan, karena Mbak lagi bicara sama Mas..."
Dira langsung terkejut saat tak menemukan keberadaan tetangga barunya itau, kesal sangat Dira hingga Dira mendengus dengan kasar.
"Dasar tetangga gak punya etika!"
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1