
Hoeeekk... Hoeeekk....
Hoeeekk... Hoeeekk....
Terdengar suara orang muntah-muntah di dalam kamar mandi, sedangkan Dira yang mendengar itu langsung berlari menuju suara itu. Dan betapa terkejutnya Dira saat melihat Arya muntah-muntah, dengan terduduk lemas di atas lantai.
Air mata Dira pin langsung menangis, takut jika Arya keracunan atau apa. Apalagi Arya terlihat sangat pucat, dan tak bertenaga.
"Kak, kita ke rumah sakit saja yuk. Dari pagi Kakak muntah-muntah terus, Dira jadi takut. Dira gak mau di tinggal suami lagi, bukan karena apa-apa sih, tapi saat aku jadi janda dulu masih segelan. Kalau sekarang sudah enggak lagi," ucap Dira sambil memijat tengkuk Arya.
"Kamu do'ain aku cepat menyusul Vano? Bisa-bisanya kamu mikir kayak gitu, aku hanya masuk angin. Jadi gak akan sampek mati!" jawab Arya dengan kesal. Arya merasa kesal karena Dira masih sempat memikirkan, ketidak suciannya daripada kondisinya sekarang.
"He He He, maaf. Tadi hanya bercanda, tapi aku serius loh Kak. Ayo kita kerumah sakit, aku gak mau Kakak seperti ini," ucap Dira lagi. Sedangkan Arya merasa bersalah karena sedikit membentak barusan.
"Sudah jangan nangis lagi, aku hanya bercanda juga tadi. Katanya kamu mau berangkat, lebih baik kamu cepat samperin Opah, sebelum Opah keluar taring lagi," balas Arya sangat lembut.
"Dira gak mau ikut, Opah. Kakak sedang sakit, dan Dira mau rawat kakak saja. Nanti kalau Dira gak ada terus kakak begini lagi gimana?" Ucap Dira sambil membantu Arya berdiri.
Setelah itu mereka keluar dari kamar mandi, dan saat mereka di ambang pintu. Opah mereka sudah menunggu di dalam, sambil duduk di atas ranjang.
"Ayo Dira. Mamamu sudah ada di mobil, kami hanya menunggu kamu. Jadi jangan terlalu lama," ucap Wiguna sambil menatap Arya.
__ADS_1
"Opah, Dira gak mau ikut Opah. Dira mau sama Kakak saja di sini, Dira mohon, Dira gak mau pisah," jawab Dira dengan memasang wajah sok imut.
"Gak bisa, Sayang. Cepat kamu ke mobil, atau aku suruh Pras gendong kamu?" balas Opah dengan tegas. Sedangkan Dira merasa ucapan Opah begitu keras, hingga membuat dirinya takut dan reflek memeluk Arya.
"Jangan pernah membuat istriku takut, Opah! Iya aku salah, aku akan menjalankan perusahaan dengan benar. Tapi aku mohon jangan paksa Dira," ucap Arya yang mulai geram dengan sikap sangat Opah.
"Berani kamu sama, Opah! Opah lakukan ini juga demi kalian, Opah berusah membuat kalian normal gak gila kaya kemarin! Bikin malu keluarga saja," balas Opah yang mulai tersulut emosi. Sedangkan Dira semakin bingung nurut Opah atau suaminya. Apalagi Dira merasa tak tega melihat kondisi Arya.
"O.... Opah, boleh gak Dira tinggal di sini beberapa hari saja sampai kak Arya sembuh?" tanya Dira sangat gugup.
"Opah bilang tidak, ya tidak! Kamu ini mengerti gak sih, Dira!" Dira pun langsung terjingkat mendengar ucapan Opah. Bahkan Arya juga semakin geram, dan ingin membalas ucapan Opah nya.
"Jangan bentak Dira, Pa. Dira anak yang lembut dan polos, dia gak akan bisa menerima bentakan dari siapa pun. Setiap orang itu berbeda, ada yang bisa menerima bentak kan ada yang tidak bisa. Mungkin Dinda bisa menerima bentak kan Papa, tapi Dira...."
"Dira gak mau ikut, Opah. Dira mau rawat kak Arya dulu, nanti setelah kak Arya sembuh, Dira akan ikut Opah," ucap Dira sangat takut. Tatapan tajam Wiguna, sungguh membuat hati Dira takut.
"Opah dengar kan? Sekarang Opah kembalilah ke vila dengan Mama, aku akan ke perusahaan siang ini. Jangan khawatir, aku akan bersungguh-sungguh," ucap Arya dengan posisi memeluk tubuh istrinya.
"Terserah kalian! Kalau sampai perusahaan bangkrut, kalian jangan sampai menyesal akan semuanya! Opah pergi dulu," jawab Wiguna dengan amarah yang berkobar. Dan setelah mengatakan semuanya, Wiguna langsung pergi meninggalkan kamar tamu dan menghampiri Dinda.
"Sudah, jangan nangis lagi. Aku gak apa-apa, aku hanya masuk angin saja," jelas Arya sambil menciumi puncak kepala Dira.
__ADS_1
"Kakak yakin mau ke kantor? Jika iya, aku ikut saja. Aku takut kamu kenapa-napa di sana, lagian aku juga was-was Opah menyuruh Pras nyulik aku," ucap Dira sambil menatap Arya.
"Kamu ada-ada saja, Sayang. Kalau kamu mau ikut ayo cepat pakai baju yang cantik, biar seluruh karyawan Kakak tau, jika Kakak punya istri yang sangat cantik," balas Arya sambil mengecup lembut bibir istrinya.
"Tapi masih mual gak? Kalau masih, kita ke dokter dulu saja. Atau aku hubungi kak Sintal saja, eh tapi aku lupa. Kak Sintal sekarang sekolah lagi, ambil jurusan spesialis jantung. Aku kemarin dengar seperti itu, tapi gak tau pastinya sih," ucap Dira.
"Kenapa baru sekarang, kemarin-marin kemana saja dia?" tanya Arya.
"Aku juga gak tau, Kak. Itu saja aku tau dari kak Fani, saat kita chatan kemarin," balas Dira. Setelah itu Arya hanya mengangguk saja, dan menyuruh Dira cepat ganti baju.
"Ya sudah, kalau gitu cepat mandi. Ganti baju setelah itu kita berangkat ke kantor, dan nanti kita memberikan pengumuman untuk mereka. Jika kamulah istriku, apa kamu siap Nyonya Arya?" ucap Arya sedikit menggoda.
"Tentu tuan Arya, aku sudah siap lahir batin."
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1
Judulnya aja lebay, berati isinya lebay. ingin aku ubah, tapi otak pagi buntu ide 💡