Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 35


__ADS_3

"Kenapa kakak ipar ikut, Dira kedalam? Cepat sana makan, nanti keburu dingin!" tanya Dira dengan tatapan sinis.


"Please jangan panggil aku kakak ipar terus, Dira! Ya aku salah karena membuat mood kamu anjlok, tapi sumpah demi apapun. Itu tadi hanya bercanda," jelas Arya sangat frustasi. Arya sungguh-sungguh tak bisa jika, di diami oleh Dira.


"Tak perlu meminta maaf, karena aku juga salah disini. Aku terlalu cerewet, aku terlalu bawel, aku juga terlalu cengeng. Jadi bukan salah kakak ipar, jika merasa jengkel. Aku memang manja dari dulu, tapi itu aku lakukan jika sudah merasa nyaman dengan seseorang," jelas Dira dengan mata berkaca-kaca. Entah ini gegara PMS, atau apa yang pasti hati Dira sedang campur aduk.


"Maaf... Sungguh aku minta maaf Dira, tadi aku hanya bercanda dan niat menggoda kamu saja. Tapi aku gak tau, jika kamu tersinggung," balas Arya sambil memeluk erat tubuh Dira. Di kecup pucuk kepala Dira, hingga menimbulkan rasa hanya di hati Dira.


Setelah itu, Arya menggenggam erat tangan Dira seakan takut Dira lari dan meninggalkan dirinya. Namun tak lama setelah itu, Dira langsung menjerit kesakitan saat Arya menggenggam erat tangan Dira. Arya yang begitu panik, langsung menanyakan apa yang Dira rasakan.


"Kamu kenapa, Dira?" tanya Arya yang sangat khawatir.


"Gak apa-apa Kak, ini tadi pas masak teriris pisau. Nanti juga sembuh, tapi jangan di pegang ini sangat sakit," jelas Dira sambil menyembunyikan tangannya.


"Sini lihat, biar aku obati. Ini sangat sakit pastinya, dan kamu bisa-bisanya kamu menyembunyikan semua dari aku. Kalau kita menikah nanti, kamu gak perlu masak. Aku akan mencari pembantu rumah tangga, untuk mengurus rumah kita nanti," ucap Arya sambil melihat luka Dira. Sedangkan Dira langsung terkekeh melihat pengobatan yang di berikan Arya, bukannya sembuh malah semakin perih dan sedikit geli.


"Ha ha ha... Kak, itu pengobatan atau memang niat nge*mut jari Dira?" tanya Dira sambil terkekeh. Sungguh ingin sekali Dira nampol Arya, tapi Dira terlanjur sayang dan membuat dia tak tega jika harus mengasari lelaki itu.


"Ini pengobatan mujarab, Dira! Kata orang-orang di sini, kalau terkena sayatan pisau harus di hisa*p seperti ini. Karena air liur, bisa menyembuhkan luka," jelas Arya sambil melirik Dira.


"Ck... Gak ada teori begitu, itu mah maunya kak Arya saja. Sudah lepasin tangan Dira." Dira pun mendorong tubuh Arya, hingga tangannya terlepas dari mulut Arya.


"Ya sudah kalau tak percaya, aku mau makan dulu. Tunggu di dalam, aku isi perut dulu nanti aku buat kamu menjerit di atas ranjang," goda Arya sambil berlari meninggalkan Dira. Arya sengaja berlari, karena Dira sudah mengambil posisi untuk melemparkan kemoceng yang Dira ambil.

__ADS_1


Bug...


"Ye... Gak kena," ejek Arya.


"Dasar, mesumm!"


****


Di lain tempat, Dinda mengurus semua keperluan Fani. Setelah mendapat persetujuan pulang dari dokter, akhirnya Dinda memutuskan untuk membawa Fani pulang ke rumahnya.


Ini semua juga untuk kepentingan tes DNA, Dinda sudah bertekad akan melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Fani dan semua akan berjalan dengan mulus, jika Fani tinggal di rumahnya.


"Kamar kamu dibatas, ingat kamu hamil jangan banyak gerak. Aku gak mau nanti kamu kenapa-napa," ucap Dinda dengan nada tak bersahabat. Sedangkan Fani merasa sangat tak nyaman dengan sikap Dinda, namun dia tetap berusaha sabar demi mendapatkan Arya.


"Apa!" jawab Dinda dengan tatapan tajam.


"Arya kemana, Tan? Dari kemarin aku tak melihat Arya, apa dia ada tugas?" tanyanya dengan nada gemetar, sekaligus takut saat di tatap tajam oleh Dinda.


"Arya ada urusan! Mungkin akan lama perginya jadi, kamu cukup diam saja di rumah ini dan satu lagi. Kemarikan ponselmu, karena aku tak mau kamu terus mengganggu Arya," jelas Dinda sangat ketus. Namun berbeda dengan Fani, Fani merasa bingung saat Dinda meminta ponselnya.


"Fani janji gak akan menghubungi Arya, Tante. Jadi tak perlu menyita ponsel Fani," jawab Fani tergagap-gagap. Sebenarnya Fani bukan takut tak bisa menghubungi Arya, melainkan takut kehilangan jejak Rangga jika ponselnya disita Dinda.


"Gak bisa! Pokoknya ponselmu tante sita, kalau gak mau jangan pernah berharap bertemu lagi dengan Arya!" ancam Dinda. Dinda berfikir cara ini yang paling tepat untuk mengetahui apa itu anak Arya atau anak orang lain, dan Dinda akan berusaha mencari kontak kontak terakhir yang Fani hubungi.

__ADS_1


"Gak bas gitu Tante! Aku juga harus menghubungi kakakku, jika ponselku di sita bagaimana bisa aku menghubungi kakak?" Protes Fani sambil menahan air matanya. Entah kenapa semenjak hamil, Fani jadi sensitif dan sering menangis. Padahal ini bukan sikap Fani seperti biasa.


"Bukan urusan saya, cepat sini kan ponsel kamu dan setelah itu kamu istirahat di atas!" Dengan sangat cepat Dinda mengambil ponsel milik Fani, dan setelah itu Dinda langsung pergi meninggalkan Fani sendiri yang sedang menangis.


Bagaimana caranya aku membujuk Rangga, jika ponselku di ambil tante Dinda? Setidaknya aku ingin berusaha, sampai Rangga mau bertanggung jawab dengan anak ini. gumam Fani dalam hati. Setelah itu Fani memutuskan untuk naik ke atas, dan mencari kamar yang di tunjukkan Dinda.


Dengan langkah gontai, Fani berjalan menyusuri tangga demi tangga. Pikiran Fani pun berada jauh di sana, memikirkan nasip anaknya nanti gimana jika Arya tau ini bukan anak dia.


Dengan perlahan Fani membuat pintu, dan langsung menuju ranjang yang sangat luas itu. Di dudukan bokongnya, di atas kasur sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.


"Kenapa kamu hadir Sayang? Padahal papa tak menginginkan kamu hadir, bahkan sampai hati juga menyuruh mama membunuhmu. Kamu yang sehat di dalam ya, Sayang. Mama akan berusaha supaya papa mengakui kamu," ucap Fani sambil mengelus perutnya. Ada sedikit rasa sesal didalam hati Fani, namun dia juga bahagia di beri anugrah terindah dari Allah. Walaupun dengan jalan yang salah.


"Terkadang terasa aneh Sayang, mama juga gak menyangka akan mengandung anak orang yang sangat mama cintai dulu. Tapi sekarang semua berbeda, tak ada cinta di antara kami melainkan dendam yang sangat melekat di hati papamu Sayang," ucap Fani sekali lagi, dengan senyuman getir. Dia benar-benar tak menyangka, akan berakhir seperti ini.


.


.


.


Happy Reading


Catatan: Cerita ini di revisi total, jelas berbeda alur seperti yang dulu. Banyak kata-kata yang saya buang, karena gak nyambung. Jadi kalau yang gak sabar nunggu sesaon 2, boleh di loncat dulu kok. Se you

__ADS_1


__ADS_2