
Setelah di periksa oleh Dokter, dan di nyatakan sehat. Kini Arya pergi ke ruang tamu, yang di sana sudah ada Dinda, Ryant, Seto, dan juga Lisma.
Dokter yang menangani Arya sempat menyuruh Arya memakai kursi roda, tapi Arya menolak karena dia merasa sehat. Arya gak mau terlihat seperti orang sakit, apalagi waktu delapan bulan koma membuat Arya kuat lagi.
"Bisa jelaskan apa yang sedang terjadi, saat aku koma?" tanya Arya dengan tatapan tajam.
Sedangkan Mereka berempat hanya bisa diam. Dari mereka gak ada yang berani bersuara, apalagi mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa diam! Aku tanya sekali lagi, apa yang terjadi saat aku koma? Kenapa aku melihat Mama begitu tega mengusir Dira, padahal Mama tau dia sedang hamil?" tanya Arya sekali lagi. Arya berusaha sangat keras menahan emosinya, karena Arya gak mau tersulut terlebih dahulu.
"Emm ... ini hanya salah, paham Ar ...."
"Papa yang akan menjelaskan segalanya, Papa juga yang akan meminta maaf padamu karena telah menyia-nyiakan Dira saat kamu koma." Potong Ryant.
Sedangkan Arya langsung mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Ryant. Arya benar-benar tak menyangka mereka akan menyia-nyiakan Dira, di saat ia tak sadarkan diri.
"Cepat jelaskan!"
__ADS_1
"Arya, aku mohon jangan seper ...." Seto pun tak bisa meneruskan ucapannya karena Ryant langsung menggenggam tanyanya.
"Om ...."
"Sudahlah, Seto. Ini waktunya Arya tau yang sebenarnya, dan Om gak mau menyembunyikan ini semua," ucap Ryant dengan tatapan sendu.
"Cepat jelaskan!"
Brakkk!
Arya pun langsung menggebrak meja. Semua orang langsung terkejut saat melihat kemarahan yang sangat mendalam di mata Arya.
Tapi sayangnya Dira orang yang sangat kuat, jadi dia terus melawan karena memang Dira ingin melihatmu. Papa juga sudah menjelaskan pada mamamu, tapi dia tetap dengan pendiriannya. Hingga mamamu mengurus kepindahanmu, tanpa di ketahui Dira.
Waktu itu Papa gak tau jika Dira hamil, bahkan kami juga baru tau dia hamil. Setia hari Dira selalu datang kesini, tapi kamu taukan gimana keras kepalanya Mamamu? Jadi aku sepakat dengan Seto untuk merencanakan sesuatu, agar Dira bisa menemuimu. Tapi Papa lupa, jika di depan gerbang ada CCTV.
Mamamu melihat segalanya dari CCTV, dan marah besar di jalan. Kita cekcok, hingga mamamu memutuskan untuk pulang sendiri dan setelah itu seperti yang kamu lihat," jelas Ryant panjang lebar sambil menangis.
__ADS_1
Sedangkan Arya hanya bisa terpaku mendengar segalanya. Arya benar-benar menyesal telah menelantarkan istrinya, Arya terlalu hanyut dengan bualan sang adik di dalam mimpinya. Tapi Arya merasa itu baru satu hari, tapi kenyataannya dia sudah koma selama delapan bulan.
"Kalian benar-benar gak punya hati nurani. Apa kalian pikir nyawa seseorang ada di tangan Dira? Apa kalian pikir, aku gak akan mati jika tanpa Dira? HA? jawab aku!" teriak Arya sangat keras.
Arya terlalu kecewa dengan sikap keluarganya itu. Mereka telah menyiksa batin istrinya, di saat dia gak ada.
"Tapi setiap orang yang dekat dengan Dira selalu saja mati, Arya! Jadi bukan salah Mama jika berpikiran seperti ini, karena Mama sangat takut kehilanganmu," balas Dinda sambil menangis.
"Orang mana, Ma? Apa yang Mama maksud, Vano? Mama tau sendiri Vano sakit, dan dia juga menyembunyikan segalanya dari kita. Begitupun aku, yang menyembunyikan kenyataan jika aku pernah mendonorkan ginjal untuk Seto. Jadi Dira gak salah apapun, karena yang melarang Dira memberi tau Mama adalah aku!" balas Arya sangat keras.
"Dan kamu juga Seto! Sudah berapa kali aku bilang, jika aku gak ada Dira jadi tanggung jawabmu. Kenapa Mama melakukan ini, kamu tak mencegahnya? Memang apa yang kamu lakukan selama delapan bulan ini, apa kamu selalu sibuk dengan Sekar dan Nadia?"
Duaarrr ....
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading ðŸ¤