Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 114 Drama kejutan 1


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan bu Ratih, Arya dan Dira memutuskan untuk pulang ke rumah mama Dewi. Arya dan Dira mau memberikan kabar jika dirinya sedang mengandung, mereka akan memberikan kejutan untuk keluarganya.


"Assalamu'alaikum, Ma," ucap Dira yang baru masuk kedalam rumah bersama Arya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Dewi.


"Mama sedang apa? Apa kami mengganggu Mama, kalau iya maaf ya, Ma." Dira pun langsung memeluk Dewi sangat erat.


"Kamu apaan sih, Mama sama sekali tak pernah merasa terganggu tau. Malahan Mama sangat senang kamu datang ke sini, gimana kabar kalian?" tanya Dewi membalas pelukan Dira. Sedangkan Arya langsung meraih tangan Dewi, dan mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Sehat, Ma?" tanya Arya.


"Alhamdulillah, sehat. Kamu bagaimana, sehat kan?" tanya Dewi balik.


"Arya sehat Ma. Sebenarnya kami kesini mau memeberikan kabar bahagia untuk kalian, tapi kelihatannya semua belum kumpul di rumah," ucap Arya sambil melihat sekelilingnya.


"Kabar apa itu? Mama mau mendengar lnya sekarang, Mama gak mau nunggu yang lain, karena mereka lagi sibuk dengan urusannya masing-masing," jawab Dewi dengan raut wajah yang berbinar-binar.


"Memang Papa dan kak Sintal, kemana Ma? Apa mereka masih sibuk, atau yang lainnya?" tanya Dira dengan kecewa.


"Papa kamu masih ada jadwal operasi, Sayang. Sedangkan kakak kamu masih ada di rumah calon istrinya, entah pulang atau tidak," jawab Dewi.


"Oke ... Dira akan hubungi Kakak, aku mau menagih janji sama dia. Enak saja dia mau lari dari tanggung jawab, padahal ini sudah perjanjian dari awal kalau aku menang dia akan memenuhi semua keinginanku," ucap Dira dengan kesal.


"Sayang, kamu kok gitu sih. Kan ada kakak, kamu mau minta apapun akan kakak belikan. Biarkan kakak kamu bersenang-senang dengan Fani," celetuk Arya. Namun mood Dira lagi modem ngambek, jadi makin ngambek saat Arya membela Sintal dan Fani.


"Kakak kok bela kak Sintal sih, istri kamu sebenarnya aku atau kak Sintal? pokoknya titik, Dira mau telfon kak Sintal, Dira mau bertemu kak Sintal pokoknya," ucap Dira dengan mata berkaca-kaca.


Astaghfirullah, istri ku lagi ngidam ini kayaknya. Tapi dia gak sadar tentang ngidamnya sendiri, gumam Arya dalam hati.


"Kamu kok mau nangis sih, Sayang. Memang Kakak kamu buat janji apa, biar Mama hubungi Kakak kamu sekarang ya?" ucap Dewi. Sedangkan Dira langsung menganggukkan Kepalanya.


Dewi berusaha menghubungi Sintal namun lagi-lagi panggilan itu di tolak, Dewi semakin cemas saat Dira semakin menjadi menangis.


"Arya ini Sintal gak mau angkat telepon Mama, tapi setidaknya kamu jelaskan kenapa Tia jadi begini?" tanya Dewi dengan panik.


"Sebenarnya Dira lagi berbadan dua, Ma. Dan mood Dira semenjak hamil itu naik, turun. Jadi Arya fikir Dira begini karena bawaan bayi, sepertinya Dira mengidam," balas Arya dengan lembut. Dewi yang mendengar penjelasan Arya langsung bahagia, sampai-sampai Dewi menutup mulutnya karena merasa tak percaya.


"Kamu serius Nak. Kamu gak bohong sama Mama kan? Mama sangat ingin Dira menyusul Fani," ucap Dewi yang bahagia.


"Arya serius Ma, ini juga masih jalan 2 bulan." Jawab Arya dengan senyuman mereka.


"Kalian mikir bayi mulu, tapi gak mikirin Dira. Dira pokoknya mau kakak, Dira mau kakak!" teriak Dira dengan menangis. Setelahnya Dira langsung berlari ke arah kamarnya, di dalam kamar Dira langsung mencurahkan isi hati nya di dalam bantal.


"Hey... bantal! Namamu hampir mirip sama nama kakak ku Sintal. Pokoknya ada Tal nya, boleh kan aku jewer kamu. Aku anggap kamu kakakku, jadi kamu harus diam waktu aku cubit," gerutu Dira dengan sesegukan. Sedangkan Arya dan Dewi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dira, dengan cepat Dira langsung menutup pintu dan menguncinya setelah mendengar percakapan Arya dan Dewi.


Braaakkk....!

__ADS_1


"Sayang." Bentak Arya. Namun dengan cepat Dewi melarang Arya agar tak membentak istrinya, Dewi sangat tau mood orang hamil itu sangatlah jelek.


"Biarkan Dira sendirian dulu. Lebih baik kamu berusaha menghubungi Sintal, kalau perlu cari dia," ucap Dewi sambil menepuk punggung Arya. Akhirnya Arya menurut dengan mertuanya, Arya yakin jika mertuanya lebih tau dengan mood ibu hamil.


"Baik, Ma"


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 23:33 namun Sintal masih tetap tak bisa di hubungi, sedangkan Dira dia masih tetap dengan pendiriannya.


Dira mengunci pintu kamarnya dan tak mau keluar bahkan tak mau minum atau minum obatnya. Arya dan Dewi sangat khawatir dengan keadaan Dira tapi anak itu sama sekali tak mau di khawatirkan.


Sedangkan Angga, dia mencari Sintal ke apartemen Fani yang baru. karena semenjak kejadian Rangga yang terus meneror Fani, Sintal memutuskan untuk menjual apartemen Fani dan membelikan yang baru.


"Sayang, buka pintunya," panggil Arya sangat khawatir.


"Gak mau! Dira mau kakak, kalau kakak belum datang Dira gak akan keluar. Pokoknya Dira mau kak Sintal!" teriak Dira dari dalam kamar.


"Sayang kamu gak boleh begitu, nanti anak kita lapar. Papa juga masih cari Sintal, jadi sebelum Sintal datang kamu makan dulu ya?" bujuk Arya lagi. Namun pendirian Dira tetap, dia sangat merindukan Sintal dan tak akan keluar jika Sintal belum pulang.


"Tia keluarlah ini kakak," ucap Sintal yang baru datang. Sintal sangat menyesal karena dia sama sekali tak ingat dengan adiknya itu, semenjak kenal Fani.


Tak lama setelah itu Dira membuka kamarnya dan langsung menarik Sintal masuk kedalam. Sedangkan Arya langsung melongo melihat kelakuan istrinya.


"Loh, Kakak gak boleh masuk?" tanya Arya.


"Dira mau sama kak Sintal saja, kak Arya gak boleh ggangg," balas Dira sebelum menutup pintunya dengan keras.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Kamu harus memaklumi semuanya, karena Tia dalam fase hamil muda," ucap Dewi yang melihat Arya mematung di depan kamar Dira.


Arya hanya bisa menunggu istrinya di luar kamar, sambil duduk di bawah lantai. Arya merasa tak tenang karena Dira sama sekali belum makan apapun, di tambah lagi dia belum meminum obatnya.


Jam juga sudah menunjukkan pukul 00:00, berarti menunjukkan jika Arya sudah 2 jam duduk di depan pintu Dira. Arya tetap menunggu di depan pintu kamar Dira, sampai istrinya itu membuka pintu dan mau memakan sesuatu.


Ceklek..


Arya pun langsung berdiri saat melihat Dira keluar dari kamar, Dira memandang Arya yang begitu melas tapi dia harus pura-pura dan menahan tawa.


"Sayang, akhirnya kamu keluar. Apa kamu lapar, atau kamu haus biar aku buatkan susu." Arya terus memberondong pertanyaan.


"Kak, Dira ingin kita udahan saja."


Duaaarrr...!


Bagai di sambar petir di malam hari, itu lah yang di rasakan Arya sekarang. Dia tak tau salahnya apa, tiba-tiba Dira ingin udahan. (Udahan apa dulu 🤔)


"Kamu pasti ngelantur ini. Sini ikut kakak, dan kakak buatkan makanan. Biar fikiranmu fresh lagi," ucap Arya sambil menarik tangan Dira. Namun Dira langsung menepis tangan Arya, dan membuat Arya semakin bingung.

__ADS_1


"Tidak! Dira sadar seratus persen, Dira ingin udahan," Jawab Dira.


"Sayang.., kakak gak mau dengar kata-kata perpisahan, kakak sangat mencintai kamu dan kita juga gak ada masalahkan?" Tanya Arya sambil memohon.


"Memang gak ada, tapi Dira ingin udahan saja." Arya pun mengusap wajahnya sangat kasar, dia sangat bingung kenapa istrinya seperti ini.


Gak mungkin ngidam kan ini? Tapi kok minta cerai, gak masuk akal banget ini anak!"


Lebih baik kita bicarakan besok, dan sekarang kamu tidur saja. Jangan membantah, sepertinya kamu butuh istirahat," ucap Arya yang sedikit panik.


"No.. Papa, kakak, dan Mama juga sudah setuju kalau kita udahan, sekarang papa menunggu kakak di ruang kerjanya. Jadi ayo kesana aku antar, biar kamu tau pasti kenapa aku minta udahan," Ucap Dira dengan menarik tangan Arya. Sedangkan Arya langsung berhenti tak mau masuk kedalam ruang kerja mertuanya, Arya takut di suruh menandatangani surat perceraian.


"Dira aku mohon aku gak mau pisah, aku akan lakukan apapun itu asalkan jangan berpisah. Aku mohon Sayang. Aku sudah terlanjur cinta sama kamu." Mohon Arya sambil memeluk tubuh Dira, sedangkan Dira semakin merasa bersalah. Apakah dia akan terus terang.


"Aku tau kakak cinta sama Dira, jadi Dira mohon ikut Dira keruangan Papa. Nanti di sana kakak akan tau semuanya, kenapa Dira ingin begini." Sebenarnya Dira ingin menggampol suaminya.


Bagaimana bisa dia berfikir udahan adalah permintaan cerai, tapi Dira gak bisa jujur karena takut usahanya akan sia-sia kalau Arya tau.


"Gak mau, pokoknya kakak gak mau masuk kedalam, kakak takut Papa nyuruh aku tanda tangan surat perceraian. Please Dira aku sangat mencintaimu, aku gak mau pisah." Rengek Arya sambil menangis.


"Aku tau jika aku ini gak sempurna, aku juga tau aku banyak kurangnya. Tapi aku mohon biarkan aku berusaha merubah apa yang kamu tak suka, tapi jangan pernah meminta perpisahan," Jawab Arya lagi. Dira pun semakin bingung, Dira menggaruk keningnya karena bingung mau pakek cara apa biar Arya mau masuk kedalam.


Namun tak lama setelah itu, datanglah Sintal dengan wajah emosi karena tak sabar. Dengan cepat sintal langsung menggendong tubuh Arya seperti karung beras, dan berusaha membawanya ke dalam ruangan kerja Angga.


"Lepasin aku. Sintal jangan gila kamu, aku gak mau masuk keruangan itu," teriak Arya dengan histeris. Bahkan Arya memukul tubuh Sintal, dengan keras. Sakit? Jelas sakit, tapi Sintal lakukan ini demi kejutan yang di berikan Dira.


"Jangan banyak gerak bodoh! tubuhmu sangat berat, seperti batu!" balas Sintal dengan dongkol.


"Aku gak mau berpisah dengan Dira, pokoknya aku gak mau. Walaupun kalian pakasa, aku gak akan menandatangani surat perceraian itu!" teriak Arya lagi saat dirinya sudah dibawah masuk kedalam ruangan Angga.


"Happy birthday Arya."


.


.


.


Happy Reading


BERDOSA SEKALI KAMU DIRA 😭


...Si Bucin gemuk ya bun 😅...


...Woeee Arya, diaet jangan terlalu banyak susu nanti overdosis kamu. Liat pipi udah kayak bakpo, saja 🤣...


__ADS_1


...My Hubby & My Wife...



__ADS_2