
Setelah selesai berbicara dengan Seto, kini Dira sudah ada di dalam ruang ICU. Dokter sudah memberikan izin untuk menengok Arya, selama satu jam saja.
Tentu Dira tak mau melewatkan kesempatan ini. Dira langsung masuk, dan membersihkan tubuh suaminya itu. Dengan telaten Dira menyeka seluruh badan Arya, hingga kini bau Arya sangat harum.
Setelah selesai Dira mencium kening Arya, sambil membisikkan kata cinta di sana. Dira juga terushmenerus mengajak Arya berbicara, dan berusaha menarik Arya agar bangun.
"Mau apa kamu di sini, Dira?" tanya Dinda yang baru saja masuk kedalam ruangan.
Tentu Dira sangat kaget, saat mendengar suara Dinda. mertuanya yang dulu sangat sayang dengan dia, tapi karena kejadian ini Dinda semakin dingin dengan Dira.
"Mama," balas Dira sedikit takut.
"Sudah aku katakan berapa kali, jangan dekati Arya lagi. Kamu selalu membuat anak-anakku dalam bahaya, dan berakhir kematian. Dulu Vano tiba-tiba meninggal, sekarang Arya. sebenarnya maumu apa?" tanya Dinda sambil menangis.
Sebenarnya Dinda tak tega mengatakan ini semua. Tapi saat Dinda ingat keadaan Arya, Dinda menjadi marah karena Dira sama sekali tak mau memberi taunya sejak awal.
"Ma, aku ingin di dekat kak Arya," balas Dira sambil berdiri.
Rasanya tubuh Dira seakan berat, dan terasa sangat pusing. Namun Dira mencoba bertahan, agar bisa di samping Arya.
"Mama gak izinkan kamu lagi untuk bertemu, Arya. Sekarang cepat pergi dari sini, karena Mama akan pindahkan Arya ke Jakarta setelah dia menjalani Operasi besok." Putus Dinda yang membuat Dira sangat terkejut.
"Ma ...."
__ADS_1
"Keputusan Mama sudah bulat! Mama akan tetap membawa Arya, dan kamu terserah mau kemana. Entah mau kembali ke rumah kamu, atau kemanapun Mama gak perduli! Untuk masalah Baby-twins kamu urus dulu, karena dia masih membutuhkan ASI."
Dira benar-benar merasa sangat kecewa. Dira tak habis pikir Dinda akan berbuat seperti ini, dan membuat dirinya semakin menderita.
"Kamu gak bisa berbuat seperti ini, Dinda!" bentak Dewi yang tak sengaja mendengar keputusan Dinda.
"Kenapa gak bisa? Dia anakku, dan kamu gak akan bisa mengaturku. Aku gak mau sampai Arya menyusul Vano, dan sepertinya kamu harus rukiyah itu anakmu. Karena setiap orang yang menikah dengan dia, selalu saja meninggal!" balas Dinda sangat menohok.
Entah kata-kata darimana itu. Tapi tiba-tiba saja Dinda berkata seperti itu, dan membuat Dira sakit hati.
"Mama menuduh aku, yang menyebabkan Vano meninggal? Mama juga menuduh aku, membuat kak Arya seperti ini?" tanya Dira sambil menahan tangisnya. Dira gak mau sampai terlihat lemah, dan di anggap wanita cengeng.
"Itu kenyataannya, Dira. Coba kamu ingat-ingat lagi, saat orang tua angkatmu. Mereka semua pergi karena kamu, Dira! Terus ingat lagi Vano. Dia sangat sehat dulu, tapi setelah menikah dengan kamu, Vano meninggal. Sekarang kamu mau mengambil Arya?" Dinda pun tak bisa menahan tangisnya.
"Kamu tega nuduh Tia seperti ini, Dinda? Apa kamu gak punya hati nurani, ha?" tanya Dewi sangat sengit.
"Seharusnya kamu mikir, ini juga salah anakmu! Sudah berapa kali Tia mengingatkan dia untuk menjaga kesehatan, tapi apa? Arya tak pernah mendengarkan ucapan istrinya, malah Tia sama sekali tak tau jika Arya pernah menjalani pencangkokan ginjal!" balas Dewi tak kalah menohok.
Dewi sangat tak terima jika anaknya di tuduh seperti ini, apalagi mengatai Dira perlu di rukiyah. Hati Dewi sangat tak terima, jika anaknya di gitukan.
"Stop! Kalian bisa gak tanpa bertengkar, aku sangat pusing. Aku lelah, aku capek, ak ...."
Brukk...
__ADS_1
Belum sempat Dira melanjutkan ucapan, tapi Dira terlebih dahulu pingsan. Sedangkan Dewi langsung terkejut, dan mendekati Dira.
"Tia, bangun Nak. Jangan buat Mama khawatir, ayo bangun Sayang." Dewi terus berusaha membangunkan Dira.
Namun tidak dengan Dinda. Dia sama sekali tak perduli, yang dia perdulikan sekarang hanya Arya. Besok Arya akan menjalani operasi, dan setelah itu Dinda akan membawa Arya.
"Papa! Tolong Tia, cepat masuk aku mohon tolong aku!" teriak Dewi sangat ketakutan. Setelah itu Angga dan Ryant masuk kedalam, dan betapa terkejutnya mereka berdua melihat Dira tergeletak di lantai.
"Tia!" Angga pun langsung menepuk-nepuk pipi anaknya dan mencoba menekan denyut nadinya.
"Ma, ayo kita ke UGD. Denyut nadi Tia sangat lemah, lebih baik langsung ke UGD." Dewi pun hanya mengangguk.
Setelah itu, Angga langsung menggendong Dira. Sedangkan Baby-Twins di gendong Elin, dan juga mbok Ria.
Sebenarnya mereka sengaja datang ke rumah sakit, karena Baby-Twins hari ini sangat rewel. Namun tidak di sangka, Dewi mendengar ucapan Dinda barusan dan melupakan tujuan awal dia ke rumah sakit.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1