Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Gerebek


__ADS_3

"Kamu mau bicara apa, Lena? Sini duduk, kamu mau minum apa, biar aku pesankan minum," ucap Vano sambil menyuruh Alena duduk di sebelahnya.


Alena yang mendapatkan izin langsung duduk di sebelah Vano. "Aku mau jus—"


"Jus Jambu satu, Pak. Seperti biasanya, jangan terlalu manis."


Alena langsung berkaca-kaca saat mendengar ucapan Vano. Alena sangat terharu, karena Vano masih mengingat apa kesukaan Alena.


"Makasih," ucap Alena dengan nada gemetar.


Vano yang mendengar Alena mau menangis, langsung menoleh. Bahkan Vano reflek menghapus air mata yang mulai menetes itu.


"Kamu kenapa nangis? Katanya mau bicara, kamu mau bicara apa?" tanya Vano yang terus menghapus air mata Alena.


"Maafkan aku, Vano. Aku tau aku salah, sebab itu aku mau minta maaf. Mungkin kesalahan yang aku buat sangat fatal, tapi aku mohon maafkan aku," ucap Alena yang masih terus menangis.


Vano semakin panik, saat Alena semakin menangis. Untung saja pesanan Vano sudah datang, jadi Vano langsung menyuruh Alena minum.


"Jangan nangis, Lena. Nanti di lihat orang, di kira aku apa-apain kamu. Ini minum yang banyak, jangan nangis lagi." Jelas Vano sambil menenangkan Alena.


Alena langsung meminum habis jus itu. Setelah merasa tenang, Alena kembali menatap Vano. "Apakah kamu masih marah, denganku?"


"Huft!"

__ADS_1


Vano menarik napasnya sangat panjang. Vano bingung mau bicara seperti apa, dia memang masih marah. Tapi, Vano gak mau memafkan Alena semudah ini.


Vano ingin Alena belajar dengan kesalahan yang dia perbuatan. Vano berpikir, jika dia bilang sudah memafkan Alena. Pasti Alena akan berbuat salah lagi, suatu saat nanti.


"Iya aku masih marah sama kamu, Len. Seharusnya kamu minta maaf sama Lessy, bukan aku. Kamu bersalah dengan Lessy, bukan denganku. Jadi untuk apa kamu minta maaf sama aku, Lena?" tanya Vano sedikit menekankan ucapannya.


Seketika Alena diam. "Kenapa diam, apakah ucapanku salah?"


"Tidak, kamu gak salah Van."


"Terus kenapa menangis, dan meminta maaf padaku. Jelas-jelas kamu bersalah pada Lessy, bukan aku." Lagi-lagi Alena tak bisa berkata.


Alena merasa malu saat ini. Alena pikir Vano sudah memaafkan dirinya, tapi sayangnya belum sama sekali. Namun tak lama setelah itu, mereka mendengar keributan dari luar kantin. Semua siswa ribut dengan kedatangan seseorang, sehingga membuat gempar satu sekolah.


"Permisi ganggu sebentar. Apakah benar nama anda, Alena?" tanya seseorang yang baru saja datang.


"Saya Bayu Samudra, dan saya bertugas menangkap anda, dengan tuduhan pembunuhan berencana. Jangan takut, kami hanya membutuhkan informasi dari anda saja," ucap Bayu sangat lembut.


Sebenarnya Bayu tak tega, tapi ini sudah tugasnya. Jadi mau gak mau, Bayu harus menangkap Alena.


"Pembunuhan apa, Pak? Saya sama sekali melakukan itu, karena semua yang terjadi saya gak tau." Alena mulai panik, dan ingin lari.


Tapi dengan cepat, Bayu mengangkap Alena. Alena terus menjerit, dan ingin di lepaskan. Alena sangat takut, saat Bayu mulai memborgol tangannya.

__ADS_1


"Tunggu, ini kenapa kalian bawa Alena? Alena hanya korban, kenapa kalian membawa Alena?" tanya Vano sambil berusaha membebaskan Alena.


"Jangan mempersulit pekerjaan kami! Lebih baik jelaskan di kantor nanti, untuk sekarang biarkan Alena ikut saya!" serunya sangat tegas.


"Gak bisa, jangan macam-macam anda!" Akhirnya Vano adu otot dengan Bayu. Vano gak bisa melihat Alena di perlakukan seperti ini, apalagi sampai Alena menangis menjerit.


Lessy yang mendengar keributan langsung mendekati Vano, Lessy sangat kaget saat melihat kejadian ini. Lessy berusaha membujuk Bayu, tapi Bayu gak mau menurut karena ini sudah prosedur.


"Katanya kamu gak mau melaporkan Alena ke polisi, tapi kenapa kamu terus melanjutkan semua? Kamu tau kan, Alena hanya korban keegoisan neneknya! Kenapa!" teriak Vano sangat keras hingga semua orang menatap mereka.


"Aku tidak melakukan itu, aku belum ke kantor polisi Vano. Aku gak tau ini, kamu jangan menuduh ku seperti ini!" serunya tak kalah keras.


Vano mengacak-acak rambutnya sangat frustasi. Vano sangat kesal, dan lebih memilih menyusul Alena.


"Kita bicara lagi, di rumah!"


Lessy hanya bisa memejamkan mata, saat Vano membentaknya seperti itu. Sungguh demi apapun Lessy tak tau ini semua, dan Lessy juga terkejut ini masih berlanjut. Padahal Lessy sudah bilang ke polisi, gak akan mempermasalahkan ini semua.


"Kenapa sikapmu selalu Plin-plan, Van. Aku tau kamu sangat mencintai Alena, tapi bisa-bisanya kamu menuduh akulah yang melakukan ini."


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2