
Setelah memikirkan semua dengan matang-matang, akhirnya Dira dan Arya memutuskan untuk kembali hari ini juga. Setelah berpamitan, dengan Aira beserta pemilik rumah. Mereka memutuskan untuk berkemas, dan mengepak barang yang seharusnya di bawah pulang.
Untuk Aira, Dira sudah membujuk anak itu untuk ikut ke jakarta. Namun Aira menolak, dan lebih memilih tinggal di kota Malang kota kelahirannya sendiri. Tak bisa di pungkiri Dira merasa sedih, tapi itu semua keputusan Aira. Mungkin suatu saat nanti, Aira mau ikut ke Jakarta entah kapan tapi Dira yakin suatu saat Aira akan mau ikut ke Jakarta.
"Sayang, apa semuanya sudah selesai?" tanya Arya sambil mengecup kening Dira. Dira tersebut saat mendapatkan perhatian seperti itu, bahkan pipinya sampai bersemu merah.
"Sudah, Kak. Untuk yang lain aku udah kasih ke tetangga sebelah, karena untuk apa di bawah toh disana juga ada," jawab Dira yang tersenyum manis. Sungguh meleleh hati Arya, saat melihat senyuman itu. Ingin rasanya Arya melu*mat habis, bibir sexy yang dimiliki Dira. Namun Arya harus disadarkan dengan satu fakta, mereka belum saatnya lu*mat melu*mat. Walaupun sempat kelepasan, tapi itu di anggap hilaf bagi Arya.
Sebenarnya hari ini Arya lah yang harusnya pulang, namun saat mengingat Dira berkata dia suka dengan sikap Pras. Membuat Arya tak rela meninggalkan Dira sekali lagi, apalagi bersama Pras di kota yang sangat dingin ini. Bahkan Arya membayangkan jika Pras merasa tergoda, dan akan menjadikan Dira bahan fantasi. Sumpah Demi apapun, Arya gak akan rela dan jalan satu-satunya hanya membawa Dira pulang.
"Kalau gitu, aku panggil Pras dulu. Supaya dia siap-siap juga," balas Arya. Namun saat Arya akan melangkah, Dira kembali memanggil Arya.
"Kak..." Arya langsung menoleh, dan menatap bingung pada Dira.
"Apa, Sayang?" balas Arya sangat lembut.
"Jangan terlalu keras dengan, Pras. Kamu terlalu menekan dia, bagaimanapun dia juga manusia dan punya keluarga. Aku sangat merasa kasihan, saat dia memohon agar aku menyelamatkan adiknya. Aku mohon jangan selalu memamerkan kekuasaan, karena roda terus berputar. Kita gak tau nantinya kita gimana," jelas Dira panjang lebar. Setelah mendengar ucapan Dira, sebenarnya Arya kesal. Tapi, Arya kembali mencerna ucapan Dira.
__ADS_1
Jika di pikir-pikir, iya juga sih. Aku terlalu keras dengan Pras, bahkan aku selalu mengatasnamakan adik beserta keluarganya. Sungguh aku bodoh sekali, aku baru sadar jika perbuatanku ini salah. gunam Arya dalam hati.
"Baiklah," jawab Arya sambil tersenyum. setelah itu, Arya langsung keluar dan menunggu Dira berkemas.
"Kebisaan, jika di ajak bicara langsung pergi!" dengus Dira. setelah itu, Dira kembali merapikan barang-barangnya kedalam koper.
****
Dan disinilah mereka bertiga sekarang. Di bandara juanda Surabaya, mereka memutuskan untuk menaiki pesawat daripada kereta. Terlihat Arya yang begitu posesif menggandeng Dira, sedangkan Pras mendorong troli yang berisikan barang-barang kedua sejoli itu.
Sedangkan Dira, dia memilih diam karena cara ini yang bisa membuat Arya sadar. Sadar akan kesalahannya, yang selalu menindas Pras. Dira sebenarnya protes, saat melihat Pras membawa semua barang-barang bawaan sedangkan Arya hanya merangkul pinggang Dira, sangat posesif.
Aku benar-benar tak menyangka, jika adik ipar yang dulu akau segani, berubah menjadi orang yang sangat menggemaskan dan imut banget. Bahkan yang masih tak ku percaya adalah, dia akan menjadi istriku sebentar lagi. Gumam Arya dalam hati.
"Apa kamu capek?" tanya Arya saat mereka sudah ada di dalam pesawat, bahkan Dira sampai menyenderkan kepalanya di bahu Arya.
"Hanya sedikit saja. Di buat begini sebentar mungkin hilang capeknya, jadi Kakak jangan banyak gerak biar aku nyaman," balas Dira sambil tersenyum lirih.
__ADS_1
"Baiklah aku gak akan bergerak sedikitpun, agar kamu merasa nyaman." Arya pun langsung menciumi kening Dira. Namun tak lama setelah itu, Dira mendengar celentingan orang di kursi sebelah.
"Lihat lah wanita itu! Dia sangat beruntung mendapatkan lelaki yang sangat tampan, padahal dia biasa-biasa saja tapi bisa dapat laki-laki cakep dan kaya pula," ucap seseorang di kursi samping. Dira yang mendengar semua ucapan orang itu pun, langsung menggerutu dalam hati nya.
Gak di pesawat, Gak di rumah, Gak di sekolahan, Gak di kereta masih aja ngurusin hidup orang. Apa mereka tak punya kerjaan ya? Jadi ada aja bahan bergosip, gerutu Dira dalam hati.
"Jangan dengarkan mereka, toh yang menjalani kita. bukan orang sebelah," sindir Arya sedikit keras, agar orang yang mengatai mereka sedikit mendengar.
Sedangkan Dira, merasa bahagia mendengar ucapan Arya. Setelah itu, Dira kembali menyenderkan Kepala dan kembali memejamkan mata. Karena sedaritadi, Dira merasa pusing, beserta mual. Mungkin bisa di bilang, mabuk pesawat :)
"Tidurlah, aku akan meminjat keningmu."
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading