Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 115 Drama berakhir


__ADS_3

Sekarang ini Arya duduk di samping Dira sambil memeluknya dengan erat, setelah tau kalau dia di kerjain dengan sangat cepat Arya langsung memeluk tubuh Dira dengan erat dan tak mau di lepaskan.


"Ayolah Arya, kami datang kesini untuk berpesta. Bukan untuk melihat kamu yang memeluk Tia seperti itu. Gak asik lah kalau pestanya begini," gerutu Sintal.


Ya hari ini adalah hari ulang tahun Dira dan Arya. Tanggal, bulan mereka sama hanya beda di tahun saja.


"Aku gak perduli dengan pesta ini. Aku hanya ingin meluk istriku, dan gak ada yang boleh memisahkan aku sama Dira," ucap Arya dengan memeluk Dira dan tak lupa dengan menelusup kan wajahnya di leher Dira.


"Tadi hanya bercanda Kak, lagian aku tadi kan bilang udahan bukan minta cerai," balas Dira dengan mengelus tangan Arya yang dengan posesif memeluk Dira.


"Sama aja bagi aku. Lagian kapan kamu nyiapin semua ini, perasaan kamu sama kakak terus dari tadi?" tanya Arya penasaran.


"Tadi, waktu kakak sibuk ngurus administrasi Alfa. Aku menelfon kakak dan memberitahukan rencana Dira, terus kak Sintal dan lainnya setuju. Sebenarnya di dalam kamar Mama sudah siapin susu dan makanan banyak, bahkan di dalam kamar Dira enak-enak kan makan tau," jawab Dira dengan cengengesan.


"Tega ya kamu sama, Kakak. Kamu biarin kakak bingung dan duduk di depan pintu berjam-jam, bahkan kakak belum makan karena mikirin kamu," ucap Arya dengan lesu.


"Gak apa-apalah Arya. Sekali-kali anak kodok dapat karma, biar gak mulus terus hidup kamu," jawab Dinda dengan tertawa lebar.


Semua keluarga sekarang berkumpul di rumah Dewi. Mulai dari Opah, Dinda, Ryant, Aira, Fani, Dewi, Gibran, Sintal, Angga, Seto, Sean, Pras, Mila, Kevin, Zahra, dan Mayang. Mereka semua kumpul jadi satu di hari kebahagiaan Dira dan Arya.


"Sekarang Arya tanya sama Mama. Jika Arya anak kodok, Mama dan Papa apa?" tanya Arya dengan expresi jengkel.


"Kalau Mama kodok betina, dan Papamu kodok jantan. Papa dan Mama ber ovulasi dan menghasilkan kecebong laknat seperti kamu ini contohnya," jawab Dinda sangat mulus. Sedangkan Ryant menepuk jidatnya saat mendengar jawaban istrinya, muka Ryant sudah sangat malu karena ulah Dinda.


"Mama, Papa gak mau ya di samain kayak kodok jantan. Lebih baik Papa di samain sama Nick Bateman, dari pada di samain sama kodok." Protes Ryant.


"Tidak bisa. Jika bibit kamu bagus, gak akan menghasilkan anak seperti Arya. Buktinya bibit kecebongmu sangat jelek, sampai membuahkan hasil seperti anak gak tau diri ini," ucap Dinda lagi. Sedangkan opah Wiguna, hanya tertawa melihat kelucuan yang di buat menantunya itu.


"Ma, stop panggil aku anak kodok, dan stop ejek aku anak dengan bibit kecebong yang tak bagus. Gini-gini aku bisa langsung hamilin Dira, buktinya di dalam perutnya udah ada Arya junior," ucap Arya dengan mengelus perut Dira. Sedangkan Sintal, Dinda, Wiguna, Ryant , dan yang lain langsung terkejut.


"Kamu serius Arya?" tanya Wiguna

__ADS_1


"Arya serius, Opah. Sebentar lagi Opah akan menjadi buyut, sedangkan Mama dan Papa akan menjadi Opah dan Omah," balasbArya dengan malas karena mereka tak percaya.


"Tunggu! Jadi sebentar lagi aku akan menjadi Ayah dan Om sekaligus. Astaga Fani, keluarga kita akan kedatangan 2 anggota baru lagi," ucap Sintal dengan bahagia. Sintal pun langsung memeluk Fani dengan erat dan memutar-mutarkan tubuh Fani.


"Sintal stop!" pekik Fani.


"Aku gak mau, aku terlalu bahagia sayang," ucap Sintal sekali lagi dan tak mau berhenti.


"Sintal perut aku sakit. Aduh, Sintal stop ini sungguh-sungguh sakit," teriak Fani sambil meremas pundak Sintal. Sintal merasakan ada yang tidak beres akhirnya langsung menurunkan Fani, semua orang langsung terkejut saat melihat banyak darah dan bercampur air ketuban Fani.


"Astaghfirullah, Fani mau lahiran Sintal. Cepat bawah ke rumah sakit, dia benar-benar kesakitan." Semua orang pun panik dan berusaha menenangkan Fani. Sedangkan Dira yang ikut panik langsung di dekap Arya, Arya tak mau Dira terlalu panik dan membahayakan kandungan nya sendiri.


"Jangan ikut panik. Fani sudah ada orang-orang, kamu lebih baik rileks." bisik Arya.


"Tapi kak."


"Jangan banyak tapi tapian. Kakak bilang jangan panik ya harus nurut, apa kamu mau terjadi apa-apa sama anak kita..?" Dira pun langsung menggeleng kan kepala tanda tak mau itu semua terjadi.


Dira pun hanya bisa menurut, dan menunggu keadaan Fani di rumah dengan keluarga mertuanya.


****


Sedangkan di sisi lain, Gibran mencari keberadaan Arya. Dia sangat merindukan cintanya itu, tapi sayangnya dia sama sekali tak menemukan Arya.


"Rumah ini terlalu banyak kamar, aku jadi gak bisa mencari Honey!" Dumel Gibran sambil terus berjalan. Namun tak lama setelah itu, Aira datang dari arah selatan. Dia juga kebingungan dengan rumah ini, padahal dulu dia sempat ada di sini, Tapi dia masih saja lupa arah.


Brukk...


"Aduh!" pekik Aira saat dirinya di tabrak oleh seseorang.


"Ahhhh! Perempuan lagi, hus... huss... Sana pergi, aku gak mau dekat-dekat dengan kamu! Kamu pasti mau bully aku kan? Ngaku?" teriak Gibran saat sadar dia menabrak seorang perempuan.

__ADS_1


"Siapa yang mau bully kamu, dasar aneh! Lagian kamu yang nabrak aku, kok kamu yang teriak-teriak. Seharusnya kamu minta maaf, kata mbak Dira kalau salah ya harus minta maaf!" Jelas Aira sangat kesal.


Aira tak perduli dengan teriakan Gibran, tapi yang pasti Aira ingin Gibran meminta maaf dengan Aira.


"Ogah! Aku gak mau minta maaf, lagian kita impas. Kamu sudah menyentuhku, jadi sekarang aku harus mandi kembang tujuh rupa," ucap Gibran dengan kemayu.


"Memangnya aku kuman? Enak saja kamu kalau bicara, jika kamu anggap aku kuman. Maka jangan salahkan aku, jika aku terus lengket dengan kamu!" Aira pun mulai mendekati Gibran dengan senyuman jahil.


"Mau apa kamu? Awas kamu mendekat, aku pasti akan Jeburin kamu ke kolam renang!" Ancam Gibran. Namun bukan Aira namanya jika dia mau berhenti, walaupun Aira tipe pendiam tapi dia juga sangat jahil jika di usik.


"Silahkan, aku gak perduli!" Dengan cepat Aira memeluk Gibran, dan Gibran langsung berteriak kencang.


"Tolong, aku di perkosa ... tolong aku mau di perkosa, honey tolong aku!" Begitulah teriakan Gibran.


Sedangkan Arya dan Dira hanya tertawa melihat Gibran yang seperti itu, Arya memang sengaja membiarkan Gibran di terapi oleh Aira. Dan ini juga sudah keputusannya.


"Kak, kamu gak kasihan dengan Gibran?" tanya Dira.


"Gak, untuk apa kasihan? Padahal ini belum aku rundingkan dengan kamu, tapi nyatanya Tuhan sudah menakdirkan Aira bertemu dengan Gibran. Semoga saja dengan adanya Aira, Gibran bisa sembuh." Dira pun hanya bisa menyetujui ucapan Arya sambil melihat dua orang yang sedang berlarian.


Yang satu maksa ingin memeluk, dan yang satunya gak mau di peluk. Sampai mereka berdua, kejebur kolam renang.


.


.


.


Happy Reading


Wohhh kurang 2 episode lohh...

__ADS_1


Kalian siap gak, kalau gak aku gak jadi deh.. cukup season 1 aja 😌


__ADS_2