
"Daddy-Mommy, kalian melupakan aku!" teriak bocah berusia enam tahun itu. Bahkan Arleta sudah menyilangkan tangannya, di atas dada dengan bibir yang di monyongkan.
Arya pun terpaku melihat gadis kecil yang baru saja datang. Terlihat sangat cantik, dan imut bak seorang putri kerajaan.
"Aiiisshhh ... kepana kita melupakan putri kita, Dira?"
"Aku gak lupa, Kak. Tapi kamu yang melupakan dia, karena Arleta lebih suka tinggal dengan Kak Sintal," bisik Dira sambil melepaskan pelukan Arya. Arya pun berusaha tersenyum, dan mendekati anak terahir nya itu.
Arleta Zheriya Wiguna, itulah nama gadis berusia enam tahun itu. Dia adalah anak keempat Arya, yang hadir tanpa di duga. Dira pikir, karena dia sudah berusia lanjut gak akan hamil.
Nyatanya saat dia lepas KB langsung isi Arleta. Tapi mereka gak pernah menyesali itu, karena mereka mendapatkan princess sekali lagi. Namun Arleta sangat bawel, dan banyak omong atau ceriwis.
"Daddy gak pernah melupakanmu, Sayang. Sini Daddy gendong, Daddy sangat merindukanmu My Princess." Arya pun langsung menggendong Arleta, dan menciumi pipi tembem Arleta hingga membuat Arleta tertawa karena kegelian.
Sedangkan Dira mendekati Sintal, dan juga Fani. Dira mencium punggung tangan Sintal, juga Fani. Bahkan Dira sangat senang, Sintal mau datang kerumahnya.
"Kak, Rania mana? Kok dia gak ikut?" tanya Dira. Rania adalah anak kandung Sintal dan Fani. Sedangkan anak pertama Fani, meninggal karena memiliki penyakit bawaan dari Ayah-nya.
Butuh waktu lama bagi Fani merelakan anak pertamanya, tapi sejak kehadiran Rania mereka mulai bangkit lagi dan mulai menampilkan kecerian.
"Rania sama Papa, Tia. Tadi Papa nyuruh Rania kerumah, sedangkan Arleta ingin pulang katanya rindu kalian," balas Sintal sambil mengacak-acak rambut Dira.
__ADS_1
"Ih, Kak. Tia sudah besar, jangan seperti ini, malu di lihat Arleta." Dira pun menepis tangan Sintal.
"Arleta pasti ngerti, Tia. Lagian kakak Rindu sama kamu loh, sudah satu minggu ini Kakak gak liat kamu," ucap Sintal sangat lembut.
"Kalian bisa gak, sekali saja gak debat? Aku mau duduk, daritadi hanya berdiri saja gak di persilahkan duduk." celetuk Fani pura-pura kesal. Padahal Fani juga sangat merindukan adik iparnya itu, karena sekarang saling jauh.
"Ya ampun, Kak. Aku lupa, ayo masuk dan sebentar aku buatkan minum dulu. Dira mempersilahkan mereka masuk. Setelah itu Dira langsung ke dapur menyuruh Mbok Gini membuatkan sesuatu untuk kakaknya.
Sedangkan Arya masih saja main dengan Arleta. Arya sangat merindukan Arleta, karena Arleta seminggu ini ada di rumah Sintal dan tak mau pulang.
Entah kenapa Arleta lebih suka di rumah Sintal, daripada rumahnya sendiri. Iya kalau rumah mereka dekat, rumah mereka sangat jauh antara Jakarta-Bandung. Memang setelah kejadian dulu, mereka lebih memilih tinggal di Jakarta.
"Letta Sayang Daddy, tapi Letta suka disana. Karena ada kak Edo." Semua mata pun langsung menatap Arleta.
Mereka gak tau ternyata di balik senangnya Arleta tinggal bersama Sintal, karena anak bernama Edo.
"Kak Edo?"
"Iya kak Edo, Papa juga tau kok siapa itu kak Edo," balas Arleta. Sedangkan Sintal hanya menggaruk-garuk kepalanya, dan tersenyum kikuk.
"Kak, anakku kamu ajari apa? Jangan aneh-aneh, dia masih kecil!" teriak Dira yang baru kembali dari dapur.
__ADS_1
"Letta, apakah yang kamu maksud kak Edo anak tetangga Mama?" Kini Fani juga ikut bertanya. Selama ini Fani gak tau jika anaknya itu, suka tinggal di rumah karena Edo.
"Iya, Mama. Letta suka sama kak Edo, dan kata Papa kalau suka di kejar. Jadi Letta sengaja tinggal di rumah Mama, karena mau kejar kak Edo sampai dapat." Skakmat! Sintal terpojok, dan mendapat tatapan tajam dari semua orang.
Sintal tersenyum kikuk. Sintal juga takut mendapatkan tatapan itu, apalagi tatapan tak bersahabat dari ketiga orang itu.
"Hey, aku hanya mempermudah jodoh Arleta. Apakah aku salah?"
"Salah!" Ketiga orang pun serentak mengatakan kata itu. Sintal tak bisa berkata-kata lagi, dan lebih memilih diam daripada kena amukan masal.
"Apes, sekali hari ini aku."
.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1