
"Apa!"
Dira pun terkejut dengan ucapan Arya. Sesekali Dira mengucek telinganya, takut jika dia salah mendengar atau apa. Sedangkan Arya langsung terdiam dan tak bisa berkata-kata karena sangat gugup.
"Astaga Arya! Kenapa kamu gak sabaran banget sih, padahal masih ada waktu luang tapi kenapa kamu malah ungkapin sekarang. Bodoh kamu Arya," gumam Arya dalam hati. Sungguh Arya sangat menyesali ucapannya tadi, Arya sangat takut Dira akan menolak dan pergi begitu saja.
"Tapi, itu juga bukan salahku sih. Yang patut di salahkan adalah Beno, bandot tua itu. Dia gak mikir apa ya? Sudah tua masih saja mau meminang Dira, Dan aku gak akan rela jika Dira sama Beno bandot tua itu!" gumam Arya sekali lagi.
"Kakak!" Arya langsung terkejut saat Dira membentak Arya dengan kencang, bahkan Arya sampai mengelus dada melihat kelakuan Dira itu.
"Dira! Kamu bisa gak sih memanggil orang dengan pelan-pelan? Kalau cara kamu begini, kamu bisa bikin orang kena serangan jantung." omel Arya sambil menatap tajam Dira.
"Maaf. Lagian sih Kakak gak menjawab pertanyaan Dira tapi, itu tak perlu di jawab karena Dira yakin tadi itu hanya akting semata." jelas Dira sambil tersenyum. Sedangkan Arya langsung mengerutkan kening, dan bernafas gusar.
"Bocah ini lemot banget ternyata. Jelas-jelas tadi aku sudah bilang jika ini bukan akting tapi, dia masih mikir aku ini akting!" gumam Arya dengan kesal.
"Tapi, tadi Kakak terlalu berlebihan. Aku jadi gak enak dengan bu Dahlia, seharusnya Kakak sedikit sopan dengan bu Dahlia." ocehan Dira pun membuat membuat Arya tambah geram, dan tak sabar ingin mengungkapkan semuanya sekarang juga.
"Dira,"
"Kak,"
Dan akhirnya mereka saling memanggil nama masing-masing, gugup itu yang dirasakan Arya dan Dira. Namun dengan cepat Arya langsung melontarkan keinginannya, saat melihat mulut Dira mulai bersuara.
"Stop! Aku dulu yang bicara, kamu diam dulu. Aku ingin ingin mengatakan sesuatu, dan kamu harus dengarkan aku baik-baik!" Dira pun langsung terdiam dan menundukkan kepala, bahkan Dira sedikit mengangguk sebagai tanda setuju.
"Jadi tadi itu bukan akting. Semua perkataan Kakak barusan itu serius dan semuanya nyata, bukan akting." Arya melihat Dira sedikit terkejut tapi, dia tak bisa berhenti karena kepalang tanggung.
"Kakak juga sudah memutuskan untuk memenuhi permintaan Vano, dan kita akan menikah saat masa iddah kamu selesai," ucap Arya panjang lebar. Rasa sesak yang sedari tadi menumpuk akhirnya plong, saat Arya berhasil menyampaikan keinginannya itu.
Namun itu berbanding balik dengan Dira. Dira sangat bleng saat ini, tak bisa menerima perkataan Arya. Yang dia tau hanya satu, Arya ingin menuruti permintaan Vano.
__ADS_1
"Kak! Bagaimana bisa jadi bengini? Aku tak pernah mengira, Kakak akan berkata seperti ini," tanya Dira dengan nada lirih.
"Buktinya Kakak bisa mengatakannya! Kakak sudah memutuskan untuk memenuhi keinginan Vano, dan kamu harus terima itu karena ini juga untuk kebaikan bersama," balas Arya. Seketika Dira langsung menatap tajam Arya, saat mendengar perkataan Arya.
"Hanya demi kebaikan bersama? Jadi kita menikah tanpa cinta? Apakah bisa bertahan jika kita tetap egois dan terus melakukan ini semua?" gumam Dira dalam hati.
Sungguh kata-kata 'hanya demi kebaikan bersama' membuat hati Dira sakit. karena Dira pun tak ingin munafik, jika dia ingin Arya menikahi dirinya karena cinta bukan karena wasiat aneh dari mendiang suaminya.
"Terus, kak Fani bagaimana?" tanya Dira. Sedangkan Arya langsung memikirkan ucapan Dira.
"Aduh, aku lupa jika belum memutuskan hubungan dengan Fani. Tapi, ini sudah jadi keputusanku. Entah kenapa sejak kejadian malam itu, aku menjadi tak yakin dengan Fani," gumam Arya dalam hati. Namun secepatnya Arya menormalkan pikiran itu, dan kembali menatap Dira.
"Fani mungkin tidak akan terima dengan semua ini, tapi aku akan berusaha membuatnya mengerti." jelas Arya. Dira hanya bisa mendengar apa yang dikatakan Arya, dan setelah itu Arya kembali berbicara.
"Tapi, aku butuh waktu untuk mengakhiri hubunganku dengan Fani. Karena bagaimanapun juga, dia pernah ada di hati aku bahkan sampai sekarang. Jadi aku mohon pengertianmu, beri aku waktu agar aku bisa memutuskan hubungan dengan Fani," jelas Arya. Hati Dira terasa di tusuk pisau yang sangat tajam, saat mendengar pengakuan Arya. Bagaimanapun juga Dira akan merasakan sakit hati, saat Arya berkata seperti itu.
"Kalau gitu Dira gak mau menikah dengan kakak! Karena pernikahan itu bukan main-main, aku gak mau kita melakukan pernikahan karena terpaksa atau menjalani amanat seseorang. Semuanya akan hancur kak, jika kita tak sejalan." tegas Dira. Namun tanpa di sangka Dira, jika ucapannya tadi membuat Arya semakin geram dan marah.
"Dira aku gak mau berdebat! Aku akan kasih kamu pilihan, dan kamu harus memilih. Menikah denganku atau aku perkosa kamu malam ini juga!" gertak Arya. Sungguh kaki Dira tiba-tiba melemas saat mendengar ancam Arya, tapi sebisa mungkin Dira tak memperlihatkan itu.
Tek Tek Tek Tek (Bunyi gigi mematuk )
"Baiklah jika gak mau memilih, aku yang kasih pilihan. Kita menikah tanpa melakukan dosa, atau kita menikah setelah melakukan dosa dan pastinya setelah kamu mengandung anakku," bisik Arya tepat di telinga Dira. Dira yang merasakan hidupnya terancam, langsung memundurkan langkah agar menjauh dari Arya. Namun lagi-lagi pergerakan Dira kalah cepat dengan Arya.
"Kak!" pekik Dira saat Arya langsung menarik pinggangnya dan tanpa permisi langsung mencium bibir kenyal milik Dira.
"Kak, emmpppt." suara Dira langsung hilang saat Arya mulai melesat masuk, dan mencari surga dunia di dalam mulut Dira.
"Kau tau Dira! Aku sedari tadi menahan hasratku saat kau memakai baju tidur satin tadi pagi, dan itu sangat membuat aku semakin gila. Jadi karena kau tak mau menerima keputusanku, lebih baik aku hamilin kamu saja sekalian," ucap Arya dengan suara parau. Bahkan Arya sudah gak memakai kata, kakak dan kamu. Arya menggunakan kata 'Kau' saat berbicara dengan Dira.
"Kak ini salah, kamu gak seharusnya begini!" teriak Dira sambil mendorong tubuh Arya. Kesal itu yang dirasakan Arya, dengan sangat murka Arya langsung mengambil kemeja milik Dira yang ada di atas kursi, dan setelah itu Arya langsung menarik tangan Dira dengan kasar.
__ADS_1
"Tanganmu ini sungguh tak bisa diam Dira, jadi harus di ikat terlebih dahulu," ucap Arya dengan seringai tajam.
"Apa yang akan kamu lakukan, Kak!" pekik Dira saat Arya mulai mengikat tangannya, dengan sangat kasar. Bagaikan orang tuli, Arya sama sekali tak mau mendengarkan ocehan Dira.
"Dimana kamarmu?" tanya Arya. Seketika Dira langsung menggeleng, tak mau memberi tau Arya.
"Aku mohon lepaskan tanganku, atau aku teriak sekarang juga agar semua orang datang dan akan memukulimu!" ancam Dira. Bahkan nada suara Dira mulai lemas, dan tak bertenaga.
"Baiklah, kamu gak mau memberitahu kamarmu. Jadi biarkan aku yang menebak sendiri." Dira langsung terpekik saat Arya langsung menggendongnya, bahkan yang bikin Dira makin syok saat Arya tau letak kamar Dira.
Dengan langkah cepat Arya menuju depan pintu, namun Dira kekeh gak mau membuka pintu kamar tersebut. Hingga membuka Arya mendobrak pintu itu, dengan kaki kanannya. Setelah sampai di dalam Arya langsung membaringkan tubuh Dira, dan setelah itu Arya kembali mencium wajah Dira.
"Kak aku mohon jangan," mohon Dira dengan derai air mata. Namun lagi-lagi Arya tak mendengarkan rintihan Dira, dan berpura-pura tuli. semakin lama Arya semakin menjadi, dan itu berhasil membuat Dira merasa resah.
"Ya Allah, suamiku dulu belum pernah melakukan ini. Tapi kenapa malah kak Arya yang melakukan lebih dari suamiku, bahkan area pemandangan gunung Arjuna yang ku miliki sudah di jelajahi oleh Kak Arya," gumam Dira sambil menangis.
"Kak aku mohon lepaskan!" teriak Dira sekali lagi. Dira semakin resah saat Arya mulai memegang hutan rimba miliknya, dan itu refleks membuat Dira mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Arya berhenti.
"Baiklah aku akan menikah dengan Kakak, setelah masa iddah ku habis!" seketika Arya langsung menghentikan aksinya. Dan langsung menatap ke arah pedang Seokjin miliknya, yang siap untuk bertempur.
"Sial!"
Arya pun langsung berlari mencari kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang sangat menyakitkan, bagi dirinya dan Arya akan berteman baik dengan LERVIA mulai detik ini.
"Dasar gila!"
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading
Maaf jika tulisannya amburadul, kendala otak otor bleng.