Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 46 Dulu produksi pakek doa, tapi yang keluar na'udzubillah.


__ADS_3

Dinginnya udara di pagi hari, tak membuat Dira bermalas-malasan di dalam kamar. Seusai sholat subuh, Dira langsung menuju kedapur untuk melihat bahan masakan. Hari ini adalah hari pertama Dira di pingit, dan sebelum semuanya terjadi. Dira ingin memasak untuk semua orang, terutama Arya.


Sebenarnya jauh dari lubuk hati, Dira. Dia sangat menolak keras, tentang pingitan yang di ajukan Dinda. Tapi mau tak mau Dira harus menurut dengan ucapan, Dinda. Karena memang Dira, tak mau membangkang.


Setelah selesai memasak, Dira langsung ke atas untuk menaruh makanan kesukaan Arya dan tak lupa dengan susu hangat rasa vanilla kesukaan Arya. Dengan perlahan, Dira masuk kesana. Di taruh perlahan-lahan agar tak menimbulkan suara, setelah selesai Dira beranjak mendekat ke arah ranjang Arya. Di kecup lembut kening Arya, dan sedikit membelai jenggot Arya yang tumbuh sangat subur di area dagu, dan bawah pipi.


"Lihatlah, jenggot mu mulai tumbuh subur. Nanti kalau selesai di pingit, aku akan mencukur habis jenggot mu ini," ucap Dira lirih sabil terkekeh. Bahkan Dira sempat mengecup bibir Arya, sebagai tanda perpisahan. Mereka akan bertemu kembali, satu bulan lagi saat pernikahan mereka di langsungkan.


Dira membenarkan selimut Arya, agar Arya selalu nyenyak saat tidur. Setelah selesai, Dira langsung keluar dari kamar Arya. Dira berjalan menuruni tangga, dan saat Dira sampai di bawah Dira melihat Dinda yang sudah ada di meja makan sambil mengoleskan selai roti.


"Pagi, Ma," ucap Dira sambil mengecup pipi Dinda.


"Pagi juga, Sayang. Sini duduk sama Mama, ayo kita sarapan bersama-sama," balas Dinda sangat ramah.


"Dira sudah makan tadi, Ma. Oh ya, nanti Dira sembunyi di kamar paling atas. Kalau kakak tanya, jangan di kasih tau. Aku takut kakak mendatangiku, dan merusak pintu lagi," ucap Dira sambil membuatkan susu hamil, untuk Fani. Dan tak selang beberapa lama, Fani turun dari atas dengan membawa gelas untuk di isi air putih.


"Pagi, kak Fani," sapa Dira sangat ramah.


"Pagi juga, Dira," balas Fani sambil tersenyum.


"Kakak mau kemana? Ayo sarapan bareng, ini Dira buatkan susu hamil. Ini minumlah, karena bayi Kakak butuh nutrisi. Jangan sampai lupa minum vitamin juga, karena itu sangat penting bagi pertumbuhan janin," ucap Dira seperti dokter yang sedang memberi nasehat, pada pasiennya.


"Terima kasih, Dira. Aku selalu merepotkan kamu," jawab Fani yang merasa tak enak. Setelah itu Dira mengambilkan Fani nasi, dan juga lauk pauk. Dira sangat antusias dengan kehamilan Fani, entah kenapa tapi Dira sangat menantikan bayi itu lahir.


"Kayak gak punya tangan saja, sampai apapun di ambilkan! Kalau bukan karena Dira, aku gak akan mau menampung kamu di sini!" ucap Dinda sangat ketus. Sedangkan Fani langsung menundukkan kepala, saat Dinda berkata seperti itu. Hatinya sangat sakit, tapi dia harus bertahan.


"Mama, gak boleh gitu. Sesama manusia harus saling memaafkan, jangan pernah mem-bully orang karena itu sangat menyakitkan Ma." Dira pun berusaha mengingatkan Dinda, agar Dinda tak terjerumus kejalan yang tak benar.


"Sejahat-jahatnya seseorang, pasti bisa berubah Ma. Jadi Dira mohon, jangan keterlaluan dengan kak Fani. Setidaknya dia mau berubah," ucap Dira sekali lagi. Jelas Dinda langsung mendengus saat Dira begitu membela Fani, orang yang pernah mengancamnya dulu.


"Nanti kalau dia mulai bertindak, kamu akan tau betapa jahat nya dia. Mama sudah selesai sarapan, jadi Mama mau ke kamar dulu," balas Dinda sangat kesal. Setelah itu Dinda langsung beranjak pergi, dan meninggalkan kedua wanita itu.


"Kak Fani yang sabar, ya? Aku berta kak Arya, akan berusaha supaya kak Rangga mau bertanggung jawab. Sekarang cepat minum susunya selagi masih hangat, dan jangan lupa dihabiskan makanan ini," ucap Dira sambil memberikan semangat. Dira benar-benar tak tega, melihat nasib Fani.

__ADS_1


"Terima kasih, Dira. Kamu mau memaafkan aku saja sudah cukup, mungkin inilah namanya karma," balas Fani lirih. Mata Fani sudah mulai berkaca-kaca, saat mendengar ucapan Dinda tadi. Tapi sekuat mungkin, Fani menahan itu.


"Seharusnya aku yang meminta, maaf. Aku yang merebut kak Arya, dan aku juga yang membuat kak Fani berpisah dengan kak Arya. Sungguh aku minta maaf, Kak," balas Dira sambil menangis.


"Sudahlah, aku juga yang salah. Semua adalah takdir, Dira. Kita hanya bisa menjalani, saja." Mereka pun langsung berpelukan, dan menumpahkan isi hati mereka masing-masing. Dua wanita yang pernah berseteru, kini mulai berdamai dan menerima takdir yang di berikan Tuhan.


****


Sedangkan disisi lain, Arya yang baru saja bangun langsung tersenyum senang. Saat melihat kopi, beserta makanan di atas meja nakas. Arya sangat tau, jika itu buatan Dira.


Dengan langkah setengah sadar, Arya menuju kamar mandi dan mencuci muka beserta gosok gigi. Setelah selesai, Arya langsung meminum susu rasa vanilla itu. Setelah itu, Arya langsung memakan habis masakan yang dibuat Dira.


"Selalu enak, aku jadi rindu dia. Sedang apa dia, sekarang?" ucap Arya sambil tersenyum. Setelah itu Arya keluar dari kamarnya, dan berniat menemui Dira.


"Sayang," panggil Arya saat berada di dalam kamar Dira. Namun Arya tak menemukan keberadaan kekasih hatinya, yang sangat dia rindukan.


"Kemana sih, anak ini. Aku cari kesana-kemari gak ketemu juga, apa dia pergi ke pasar ya?" ucap Arya sambil keluar kamar. Saat Arya mencari Dira di dapur, tanpa sengaja Arya melihat Fani yang sedang mencuci piring di dapur.


"Aku gak tau, Ar. Coba tanya tante Dinda, mungkin tante tau Dira kemana," jawab Fani.


"Apa tadi pagi Dira sarapan sama, kamu?" tanya Arya sekali lagi.


"Tadi sempat membuatkan aku susu, tapi setelah itu dia pergi entah kemana. Mungkin di sekarang ada di kamarnya,"jawab Fani sekali lagi.


"Kalau ada, aku gak tanya kamu!" ucap Arya sangat kesal.


"Aku yakin, dalang di balik hilangnya Dira adalah mama!" Dengan langkah cepat, Arya langsung berlari ke arah kamar Dinda. Tanpa permisi, dan mengetuk pintu. Arya langsung mendobrak pintu itu, tanpa memikirkan Dinda akan terkejut atau tidak.


BRAAAKKK...


Pintu pun terbuka, dan Arya melihat Dinda yang sedang duduk santai sambil memakai handset di telinganya. Dinda sudah berjaga-jaga, karena Dira sempat memberi tau jika Arya suka sekali merusak pintu.


"Anak gak tau sopan santun! Gak ada ahklak, begini lah contoh anak siluman kodok! Tak punya sopan santun. Apa kamu tak bisa mengetuk pintu dulu? Main dobrak saja." Dinda pun menjedah ucapannya sebentar.

__ADS_1


"Asal kamu tau juga, gagang pintu yang kamu rusak kan, itu sangat mahal. Beli satu itu gak boleh harus sepasang, tapi kamu malah merusaknya," ucap Dinda yang terus mengomeli Arya.


"Nanti, Arya belikan pintu baru," jawab Arya gak kalah ketus. Sedangkan Dinda hanya tersenyum sinis, mendengar ucapannya anak pertamanya itu.


"Ck... Ternyata benar kata Dira, kamu sangat gemar merusak pintu orang," jawab Dinda dengan senyuman bak devil.


"Mana, Dira?" tanya Arya to the point.


"Mama pingit Dira, jadi kamu gak akan bertemu dengan Dira sampai kamu resmi menikah. Ini keputusan Mama, jadi kamu gak boleh membantahnya!" Arya pun langsung melotot mendengar perkataan Dinda. Karena jujur, Arya gak akan sanggup berpisah dengan Dira.


"Ma... Ini bukan jaman siti Nurbaya, dan apa itu pingit? Aku dan Dira sudah dewasa, Ma. Arya tau batasan, dan aku juga gak akan kebablasan kok," protes Arya pada Dinda.


"Mama gak perduli. Mama begini karena Mama tau kamu tak akan pernah bisa menahan godaan SETAN, jadi mau tak mau kalian harus di pingit!" Keputusan Dinda pun sudah bulat, Dira akan tetap di pingit dan Arya tak akan bertemu sampai mereka menikah nanti.


"Mama kejam, tau gak sama anak sendiri,"gerutu Arya yang tak terima dengan keputusan Dinda.


"Mama lebih baik kejam, daripada Mama menanggung dosa akibat perbuatanmu itu. Sekarang lebih baik kamu cepat mandi, dan pergi kerja. Kamu tenang saja, Dira aman sama Mama," balas Dinda sedikit mengusir. Namun bukannya pergi, Arya kembali bersuara untuk menanyakan keberadaan Dira.


"Setidaknya beri tau Arya, di mana Dira sekarang." Arya pun menampilkan wajah yang sangat memelas, agar Dinda luluh. Namun Dinda ya Dinda, dia tak akan luluh dengan rayuan anak gak ada Ahlak itu.


"Tidak bisa! Jika Mama beri tau kamu, sudah pasti kamu akan membawa Dira kabur. Jadi sekarang lebih baik kamu, bayangkan apa saja yang kamu lakukan di kamar mandi bersama Dira malam itu. Dan anggap itu kenang-kenangan terakhir kamu dengan Dira," ucap Dinda sangat santai. Karena Arya merasa kesal, dan takut tak bisa kontrol emosi. Akhirnya Arya memutuskan untuk pergi, agar tak berbuat tidak tidak.


"karena Mama gak kasih tau keberadaan Dira, jadi Mama beli pintu sendiri!" ucap Arya saat di ambang pintu. Sedangkan Dinda hanya bisa mengelus dada, melihat kelakuan anaknya itu.


"Makan apa aku dulu ya Allah? Hingga anak pertama hamba seperti ini, padahal waktu produksi tak lupa doa tapi kok hasilnya begitu," ucap Dinda sambil ngelus dada.


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2