
Satu minggu sudah Arya berada di rumah sakit, dan hari ini dia di izinkan untuk pulang. Tentunya Arya sangat bahagia, tapi tidak dengan Dira.
Dira merasa sangat kecewa karena hasil tes ginjalnya sama sekali tak cocok dengan Arya, dan Dira harus berusaha lagi mencari pendonor ginjal yang baru.
Dengan bantuan Seto, Dira meminta agar dia mencarikan donor ginjal yang sesuai. Seto juga merasa sangat sedih mendengar ucapan Dira, bahkan Seto juga menyalahkan dirinya sendiri saat itu.
Namun nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun juga percuma sekarang. Yang lebih penting saat ini adalah mencari pendonor ginjal, agar Arya tetap sehat.
"Kak, kita mampir ke ruangan Diah dulu. Selama di rumah sakit, aku belum menjenguk dia. Kata Arman, Diah koma sehabis melahirkan," ucap Dira sambil menggendong Ardi. Sedangkan Raya sudah pulang lebih dulu dengan Angga, karena Raya sudah tertidur lelap.
"Emm ... baiklah, kita lihat sebentar saja. Aku gak mau Raya menunggu kita di rumah, apalagi sampai nangis karena terbangun." Dira pun menganggukkan kepala.
Setelah itu mereka langsung keluar dari kamar inap, dan langsung menuju tempat Diah. Sesampainya di sana, Dira di sambut hangat oleh Arman.
Sedangkan Arya merasa sangat cemburu dengan tatapan Arman pada Dira. Arya tak suka jika istrinya di begitukah, bahkan Arya ingin sekali mencongkel mata Arman saat ini.
"Ehem! Bisa di kondisikan gak, itu mata? Dilarang keras melirik istriku, apalagi tatapan mendamba. Sangat-sangat di larangan!" seru Arya sangat kesal. Namun tak lama setelah itu, Arya langsung mendapatkan hadiah cubitan dasyat dari Dira.
"Aduh! Sakit, Sayang. Kebiasaan banget sih kamu ini, suka cubit tanpa bilang-bilang dulu," pekik Arya sambil mengelus-elus pinggangnya.
"Rasain, siapa suruh bicara seperti tadi. Arman punya istri, dan gak mungkin dia mau sama aku. Toh aku juga sudah jadi milik, Arya seorang. Dira hanya milik Arya, dan Arya hanya milik Dira. Paham!" celetuk Dira sangat lantang.
Arman yang melihat kekocakan Dira dan suaminya pun, jadi tertawa. Arman tak menyangka, jika Arya lebih posesif dari Vano. Arman juga tak habis pikir, mereka adik-kakak tapi kenapa sifat mereka berbeda.
Arya terlalu menjadi bucin akut, sedangkan Vano terlalu cuek, dan santai tak seperti Arya yang selalu panik, jika istrinya di lirik orang.
"Sudah-sudah jangan bertengkar, aku gak akan pernah mengambil istrimu itu. Aku sudah memiliki Diah, jadi untuk apa aku melirik orang lain," ucap Arman melerai mereka berdua.
"Kamu serius?" tanya Arya tak percaya. Arman pun kembali tertawa, dan kembali meyakinkan jika dia hanya mencintai Diah.
Walaupun Diah sudah tak ada di dunia ini, Arman akan terus menjadikan Diah orang yang selalu ada di hati Arman. Setelah berbincang-bincang, mereka memutuskan untuk melihat Alisya karena Dira sangat penasaran dengan anak Diah.
__ADS_1
"Lihatlah, Sayang. Adeknya sedang bobok, dia seperti kamu dulu sangat kecil," ucap Dira sambil tersenyum.
Ardi yang melihat Alisya langsung ngoceh-ngoceh gak jelas, yang pasti Ardi ingin memegang Alisya.
"Sepertinya Ardi penasaran dengan Alisya, apa boleh dia di pegang? Sebentar saja, agar Ardi bisa tenang?" tanya Dira sedikit memohon.
"Tentu saja boleh, masukan saja tangan Ardi dari sini. Pasti nanti di respon sama Alisya, karena aku selalu begitu," jawab Arman.
Setelah itu Dira memasukkan tangan Ardi lewat lobang kecil. Tanpa di duga, Ardi langsung menggenggam tangan Alisya sangat erat. Hingga keajaiban tiba-tiba datang, Alisya langsung membuka mata saat Ardi menggenggam tangannya.
"Eh ... coba lihat, Alisya membuka matanya. Padahal Alisya gak pernah mau membuka matanya saat bersamaku, mungkin hanya membalas sesekali saja genggamanku saat itu," ucap Arman sangat bahagia.
"Wahh, iya kah? Jangan-jangan mereka berdua bisa jadi sahabat kalau mereka besar nanti, jadi Ardi gak akan bertengkar terus dengan Raya," balas Dira sambil tertawa. Mereka pun kembali melihat Alisya, dan tertawa bersama-sama.
Hingga Arya mulai bosan di cuekin, dan meminta pulang. Dira tak bisa menolak Arya, karena dia juga baru sembuh jadi Dira menuruti keinginan Arya.
Setelah sampai di rumah, Arya langsung masuk kedalam kamar. Badannya terasa sangat capek, dan hatinya juga terasa sakit akibat cemburu dengan kedekatan Arman dan Dira.
"Kak, kamu kenapa lagi? Ayo cepat makan, dan setelah itu minum obat. Jangan di tunda-tunda terus, itu gak baik," ucap Dira sambil membawa nampan berisi makanan.
"Dira, aku mau tanya sesuatu boleh?" Dira pun meletakkan nampan itu di atas nakas, dan setelah itu Dira naik ke atas ranjang untuk mendengarkan pertanyaan Arya.
"Boleh, mau tanya apa kamu Kak?" Dira memandang Arya sambil menunggu pertanyaan yang akan di ucapkan Arya.
"Jika suatu hari nanti aku meninggal, apa kamu akan mencari penggantiku?" tanya Arya sambil menggenggam erat tangan Dira.
Sedangkan Dira langsung diam membisu. Dira tak suka dengan ucapan Arya, apalagi membahas kematian. Dira gak mau membahas ini, karena Dira yakin Arya akan sembuh.
"Kok diam, aku tanya sama kamu Dira. Jika aku mening ...." Belum sempat Arya melanjutkan ucapannya, Arya sudah di kejutkan perlakuan Dira yang tiba-tiba mencium bibinya dengan sangat menuntut.
Dira terus melu*mat bibir Arya, bahkan Dira sampai mengigit bibir itu agar Arya membalas ciumannya. Dira gak mau membahas ini, lebih baik dia membahas masalah ranjang daripada ditanya soal kematian.
__ADS_1
"Cepat balas, atau kamu akan melihat aku lenyap hari ini juga di hadapanmu! Cepat balas, ciuman ku Arya Wiguna!" ucap Dira sangat kesal. Bahkan air matanya langsung menetes, setelah mendengar pertanyaan Arya tadi.
Sedangkan Arya yang tau Dira marah, langsung merih pinggang Dira agar lebih mendekat dengan dia. Setelah itu, Arya langsung melu*mat lebut bibir Dira.
Mereka melakukan itu sangat lama, sampai hati Dira merasa lega. Setelah puas akan ciuman itu, Dira membuka resleting Arya. Karena dia akan melakukan sesuatu, agar Arya tak membahas itu lagi.
Oke Dira sekarang menemukan sesuatu yang dia cari, yaitu Lele berurat yang sangat Dira suka. Dira memainkan Lele itu, sambil sesekali memainkannya. Hingga sebuah ide muncul di otak Dira, karena Dira juga merasa penasaran.
"Kak, aku mau tau ukuran adik kecilmu. Tapi aku bingung di ukur pakai apa? Kamu punya sesuatu, agar aku bisa mengetahui panjangnya?" tanya Dira dengan mulus tanpa hambatan.
Sedangkan Arya langsung melotot, seumur hidup dia gak pernah itu ukur-ukur miliknya sendiri. Tapi sekarang Dira meminta untuk di ukur, kan Arya jadi terkejut.
"Gila kamu, aku gak mau di ukur. Nanti sudah tau ukurannya, kamu malah cari yang lebih panjang dari aku. Pokoknya tidakkk!" tolak Arya sambil menutupi burung gak ada Ahlak itu.
"Ihh, kamu pelit! Tunggu sini, pokoknya jangan biarkan dia tidur. Aku mau cari meteran, kalau aku kembali dia tidur langsung aku sunat kamu!" Dengan cepat Dira turun dari atas ranjang dan meninggalkan Arya yang masih melongo melihat tingkah Dira.
"Sialan, bisa-bisanya dia berkata seperti ini. Aku gak mau di sunat dua kali, lebih baik aku berusaha membangunkan junior ku. Ingat kamu harus tetap berdiri sampai Dira kembali, jika kamu sampai tidur, maka kamu gak akan mendapatkan kue Apem sampai beberapa bulan lagi," gumam Arya sambil menjaga keseimbangan otot Lele berurat.
Tak lama setelah itu Dira kembali dengan membawa meteran yang biasa di buat ngukur baju. Arya sebenarnya penasaran, darimana Dira dapat meteran itu. Tapi Arya gak perduli, karena yang penting junior masih tegak seperti tiang listrik.
"Apakah masih berdiri?" tanya Dira sambil melepaskan plastik yang ada di alat ukur itu.
"Masih aman, Sayang. Aku akan selalu jaga dia, agar gak di sunat," balas Arya cengengesan.
"Bagus deh, aku jadi gak sia-sia nyuruh pacarnya Elin untuk nyebut ke toko depan komplek." Arya pun langsung melotot mendengar ucapan Dira.
Astaga, segitunya ingin tau ukuran junior, sampai-sampai Dira membeli alat ukur demi melihat berapa CM milik junior. Ini pasti ketularan ibu-ibu komplek sebelah, si bu Aryanti, bu Dwi, bu Annisa, bu Meichi, bu Egafan, dan bu Lisma. Awas saja, nanti Dira aku kunciin di rumah agar gak ke komplek sebelah. gumam Arya sambil melihat Dira yang antusias mengukur miliknya.
"Wahh ... 18 CM, mau ke 19 CM. Aku gak perlu cari yang lebih besar, ini sudah cukup puas." teriak Dira sangat bahagia. Sedangkan Arya langsung menepuk jidatnya, melihat Dira ketularan OMES.
...My Spoiled Family...
__ADS_1
...By. Nunuk Pujiati...