Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 44 Kepanikan Dira dan Arya


__ADS_3

"Apa!" pekik Dira yang membuat Dinda terkejut, setengah mati.


"Kamu kok ngegas gitu sih, Sayang? Kamu bikin Mama kaget tau, dilihat dari expresimu gak mungkin kamu nelantarin mama di kamar sendiri kan?" ucap Dinda yang berpura-pura sedih.


"Bukan begitu, Ma. Tapi apa gak lebih baik di kamar Mama saja, kan di sana luas. Kalau di sini ranjangnya sempit, Ma." Bohong Dira sambil tersenyum kikuk.


"Gak apa-apa, yang penting sama menantu Mama. Tapi omong-omong kamu habis ngapain, kok sprei kamu berantakan banget? Gak mungkinkan hanya berbaring samapai begitu?" tanya Dinda dengan tatapan menyelidik. Sedangkan Dira merasa jantungnya langsung loncat, saat mendengar penuturan Dinda. Dira benar-benar mati kutu, dan lupa membersihkan kasur sebelum membuka pintu.


"Ha itu... Tadi ada kecoa. Ya... Ada kecoa, jadi Dira lompat-lompat, trus spreinya jadi gitu," jawab Dira sekali lagi dengan gelagapan.


"Kalau gitu kamu rapikan dulu kasurnya, Mama mau buang air kecil dulu. Mama pinjaman kamar mandinya sebentar." Dinda pun langsung bergegas, dan berjalan ke arah kamar mandi. Namun saat Dinda akan membuka pintu itu, Dira langsung berteriak sangat kencang.


"Tunggu, Ma!" teriak Dira saat melihat Dinda akan masuk kedalam kamar mandi. Dinda yang merasa di cegah pun memandang sangat curiga, ke Dira.


"Kenapa,sayang?" tanya Dinda sambil menatap curiga. Sedangkan Dira terlihat bingung mau menjawab apa, gak mungkin dia jujur.


Haduh aku harus bilang apa? Gak mungkinkan aku bilang jika di dalam ada anaknya yang super mesum, bisa-bisa aku kehilangan calon suami kalau Mama sampai tau. gumam Dira dalam hati.


"Dira Larasati!" Dira pun langsung tersentak saat Dinda menyebutkan nama panjangnya, dan itu pertanda Dinda curiga tingkat akut.


Haduh kak Arya sedang apa ya, di dalam sana? Jika aku masuk takutnya dia bergelut ria dengan si LERVEA, kalau aku gak masuk pasti mama curiga. Dira semakin di buat pusing, dan seketika langsung menggeleng-gelengkan Kepalanya agar ide dapat mengalir.


"Karena kamu tak kunjung menjawab, jadi Mama tinggal dulu. Muka Mama sudah lengket dan ingin segera cuci muka," ucap Dinda yang membuyarkan lamunan Dira.


"Tunggu, Ma!"


"Kamu ini kenapa sih, Dira! Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan, hingga kamu memperlambat mama masuk ke dalam?" tanya Dinda sambil memandang Dira dengan tatapan tajam.


"Tidak! Dira gak menyembunyikan apapun, Dira hanya kebelet. Bolehkan Dira masuk dulu, ini sudah di ujung beneran Dira gak bisa nahan lagi." Bohong Dira.


Maaf... Maaf seribu maaf, Ma. Bukan bermaksud bohong, tapi Dira juga gak mau kak Arya kenapa-napa. gumam Dira sambil tersenyum kikuk.


Terlihat sangat jelas Dinda menghembuskan napas berat, karena melihat kelakuan menantu kesayangannya. Namun Dinda masih merasa aneh, dan ada yang disembunyikan. Oke.. Aku harus ikuti permainan Dira, kita lihat apa yang dia sembunyikan. gumam Dinda dalam hati.


"Baiklah kamu saja yang masuk dulu, Mama akan menunggumu sampai selesai. Jangan lama-lama karena Mama juga ingin merasakan kamar mandi, kamu!" ucap Dinda sedikit kesal, dan menahan emosi.


Sedangkan Dira langsung mengambil ponselnya dan berlari ke dalam kamar mandi. Saat Dira masuk Arya begitu terkejut hingga menjatuhkan barang yang ada di sekitarnya, begitu pun juga Dira namun dia tak bisa berteriak karena di luar ada Dinda.


"Kak... Kamu jorok tau cepat bersihkan, di luar ada mama dan ingin masuk. Terus sekarang kakak gimana, ini?" Setelah mendengar ucapan Dira, Arya langsung melotot kan kedua matanya. Dia bingung harus berbuat apa, karena di kamar mandi tak ada tempat persembunyian.


"Seriusan kamu, Dira!" Dira pun langsung mengangguk, sangat cepat.

__ADS_1


"Ah.. Bodoh amat, kamu harus tanggung jawab dulu. Lemesin dulu ini, aku tak akan fokus jika ini belum selesai," ucap Arya sambil menunjukkan pisang ambon, yang masih berdiri sangat tegak dan gagah perkasa.


"Gila kamu, Kak! Terus aku harus bagaimana?" tanya Dira kebingungan. Sedangkan Arya memikirkan cara, agar bisa berhasil menidurkan lele berurat yang tak mau tidur.


"Pakek tangan kamu, saja!" putus Arya.


"Gak, mau!" Arya pun langsung menutup mulut Dira, karena dia terlalu keras berteriak.


"Jangan kenceng-kenceng kalau bicara, kamu mau kakak di bunuh mama?" Dira pun langsung menggeleng.


"Kalau gak mau, cepat bantu Kakak lemesin ini," ucap Arya sekali lagi.


"Tapi Dira gak bisa, Kak!" tolak Dira. Namun Arya malah semakin geram dengan penolakan Dira, dan tanpa di suruh Arya langsung menarik tangan Dira. Untuk selanjutnya kalian bayangkan sendiri.


****


"Anak ini ngapain aja sih? Gak mungkin juga dia pingsan kan di dalam sana? Masa udah satu jam gak keluar-keluar," gerutu Dinda sambil mondar-mandir.


"Gak beres ini, aku harus lihat apa yang terjadi!" Dengan langkah cepat Dinda menuju arah kamar mandi, dan setelah itu Dinda langsung menggedor pintu itu.


Dok... Dok... Dok


"Dira apa kamu masih, lama?" tanya Dinda sedikit keras agar terdengar dari dalam.


"Mama juga kebelet, Sayang. Kalau bisa lebih cepat ya, Mama malas mau balik kamar," balas Dinda sekali lagi.


Andai saja aku laki-laki, sudah ku dobrak ini pintu. Tapi sayangnya aku gak kuat, jadi harus menunggu di buka. gerutu Dinda.


"Iya Ma, ini sudah selesai kok. Tinggal keluar saja." Setelah mendapatkan jawaban, Dinda memutuskan untuk duduk di atas ranjang kembali. Dan tak lama kemudian Dira keluar dari kamar mandi, dengan keringat yang sangat bercucuran. Dinda merasa curiga, itu keringat atau Dira habis membasuh muka.


Anak ini terlihat sangat lusuh, dan lemas. Dia habis ngapain di dalam, aku harus cepat lihat. Dan jika memang dugaan ku benar, aku akan potong burung Arya sekarang juga. gumam Dinda sangat kesal.


"Kamu terlihat sangat lesu, Dira?" tanya Dinda sambil mengelus lembut pipi Dira. Sedangkan Dira langsung tersenyum dan menjawab.


"Dira sembelit, Ma. Jadi agak capek." Hanya itu saja kata-kata yang di ucapkan Dira, padahal dia merasakan sangat nyeri di pergelangan dan pegal di area pergelangan tangan.


"Ya sudah, Mama masuk kamar mandi dulu." Dira hanya mengangguk, sedangkan Dinda langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Huft... Untung saja, kalau sampai terlambat aku gak tau apa yang akan terjadi," ucap Dira sambil mengingat kejadian di dalam kamar mandi tadi.


Flashback ON

__ADS_1


"Kak, apa yang kamu lakukan!" Pekik Dira saat Arya menarik tangan Dira.


"Bantu dulu, nanti aku akan pergi dari atas." jelas Arya. Sedangkan Dira langsung mencerna ucapan Arya yang bilang pergi dari atas.


"Tunggu, maksudnya apa?" tanya Dira penasaran.


"Aku lewat plafon saja nanti, sekarang bantu lemesin ini," ucap Arya sambil menggoyangkan lele berurat itu. Karena merasa kesal, tanpa di sengaja Dira langsung memukul sangat keras benda kesayangan Arya. Tentu rasa sakit yang sangat menjalar pun di rasakan Arya, bahkan Arya ingin sekali mengumpat.


"Sial, Dira kamu waras gak sih? Ini sakit tau," ucap Arya yang sangat kesakitan.


"Lagian jadi orang kok mesum amat, ini lagi genting dan kakak masih tenang memikirkan ini," bentak Dira sambil menunjuk benda pusaka itu.


"Tapi sakit, lihat dia langsung tidur," jawab Arya sedikit merengek.


"Gak perduli, sekarang cepat cari cara agak kakak bisa sampai ke atas!" ucap Dira sekali lagi. Sedangkan Arya hanya bisa menurut, dan mencari cara agar bisa sampai atas.


Lama berfikir akhirnya Arya menemukan cara agar bisa sampai di atas, Arya menunjukkan cara-cara agar Dira bisa membantu Arya dan Arya mulai naik dari bak mandi.


"Kak, sudah belum?" tanya Dira yang mulai capek.


"Dikit lagi Dira, tangan kamu lebih tinggikan, biar aku sampai," ucap Arya sambil membuka plafon.


"Tangan Dira gak kuat lagi, Kak! Lagian kakak aneh-aneh, jika nanti plafonnya jebol gimana?" tanya Dira sedikit kesal.


"Ini jalan satu-satunya agar kamu tak kehilangan calon suamimu, apa kamu mau kakak di bantai mama?" Dira pun langsung menggeleng, tanda tak setuju.


"Auww... Kak lihat-lihat dong, kepalaku yang kakak injak bukan bak mandi." Protes Dira saat Arya tak sengaja menginjak kepala Dira.


"Kamu ini aneh! Sejak kapan kaki punya mata, dan lagi kakak juga gak bisa lihat ke bawah. Jadi kalau salah injak ya minta maaf, sekarang cepay naiklah ke bak mandi juga dan dorong kakak agar bisa masuk," omel Arya. Dira pun mendengus sebal, karena disini dialah yang sangat kerepotan. Belum lagi mendapatkan pertanyaan dari Dinda, nanti.


Flashback OFF


.


.


.


Happy Reading


__ADS_1



__ADS_2