
Deru napas sangat kasar pun terdengar dari hidung Arya. Bukan karena dia sedang menikmati bercinta, melainkan merasakan nyeri pada punggung bagian bawah, nyeri nya juga menjalar ke perut bawah atau selang*kangannya.
"Dir, pinggang dan perutku sakit sekali. Tolong buatkan aku air hangat untuk aku minum, sungguh ini sangat sakit," ucap Arya sambil mencoba membangunkan Dira.
Dira yang merasa terusik langsung membuka matanya. Dira melihat Arya mengeluarkan keringat dingin, dan wajahnya sangat pucat pasih.
"Ya Allah, Kak. Kamu kenapa bisa seperti ini, kita harus kedokter. Aku gak mau kamu kenapa-napa Kak, ayo kita kerumah sakit," ucap Dira sangat panik.
akhir-akhir ini Dira melihat suaminya gampang capek, apalagi sering ngeluh sakit pinggang dan perut. Dira sangat takut saat ini, apalagi dia sudah trauma akan Vano.
"Gak perlu, Sayang. Aku gak apa-apa, aku hanya kecapean saja. Kamu jangan khawatir ya? kasihan nanti, Baby-twins," balas Arya sambil menahan sakit.
Dira merasa suaminya menyembunyikan sesuatu, Dira yakin itu. Saat ini Dira gak bisa di bohongin lagi seperti dulu, saat Vano menyembunyikan segalanya.
"Kamu berbohong, Kak. Kamu gak bisa membohongi aku, karena aku pernah di bohongin Vano. Aku takut, sangat takut saat ini. Aku gak mau kehilangan suami lagi, jadi aku mohon kita priksa ke dokter." Arya pun langsung memeluk erat istrinya itu.
Inilah kenapa Arya tak pernah menampilkan rasa sakitnya di hadapan Dira. Dira tipe orang yang mudah panik saat dirinya mengeluh sakit, bahkan Dira akan menangis jika tau Arya sakit.
"Aku gak akan kemana-mana, Sayang. Yakinlah kita akan menua bersama, aku janji itu." Dira langsung melepaskan pelukan Arya. Dira menatap tajam Arya, sambil memegang kedua pipi Arya.
"Vano dulu juga sering berjanji seperti ini, tapi apa nyatanya? Dia pergi meninggalkan aku, dan menitipkan aku padamu. Sekarang aku gak mau tau, kita kerumah sakit sekarang juga. Aku gak perduli jika ini malam hari, yang terpenting kamu periksa!"
__ADS_1
Tanpa tunggu lama Dira langsung turun dari atas ranjang dan mengganti bajunya, dia juga bersiap-siap untuk membawa Baby-twins. Karena memang di rumah gak ada siapa-siapa, jadi Dira memutuskan untuk membawa si kembar.
"Dira, kita kerumah sakit besok saja ya? Kasihan Baby-twins jika di bawah ke rumah sakit, ingat dia masih kecil Sayang," bujuk Arya. Namun Dira langsung memandang Arya, bahkan tatapan itu mengisyaratkan kemarahan yang amat besar.
"Sudah tau gitu kenapa kamu mau menerima rumah ini! Akun sudah bilang kan, rumah ini terlalu jauh dari keluarga. Tapi kamu memaksa aku untuk tetap tinggal di bandung, jadi sekarang gak usah alasan. Kenyataan kita hanya sendiri, jadi Baby-twins tetap kita bawa." Setelah itu Dira menyiapkan perlengkapan Baby-twins dan segala keperluan yang di butuhkan.
Sedangkan Arya dia mencoba menahan sakit, agar Dira tak terlalu panik. Namun nyatanya usaha Arya sia-sia, dia tak bisa menahan hingga dia merintih kesakitan.
"Aaakkhhh!" Dira pun langsung menoleh ke arah Arya.
"Kak!" Dira berlari bergitu cepat menghampiri Arya. Dira kebingungan saat Arya terus berguling-guling di atas ranjang, bahkan Dira mengutuk perumahan ini yang terhitung sangat jauh dengan tetangga. Bahkan jika ada yang mati di dalam sini, gak akan ada yang tau sampai baunya busuk.
"Dira, maafkan aku. Aku selalu membuat kamu susah, aku bukan suami yang baik. Maafkan aku Dira," ucap Arya sambil mencengkram tangan Dira.
Dira pun memapah Arya hingga ke garasi, untuk Baby-twins Dira masih membawa Raya. Setelah Arya ada di dalam mobil, Dira langsung berlari ke dalam mengambil barang-barang dan juga Ardi.
Untuk Raya, Dira lebih menggendong seperti hewan kangguru. Untuk Ardi, Dira memilih menggendong, tanpa apapun biar gampang.
Untung saja mereka gak rewel, dia hanya memandang Dira yang sedang panik.
"Jangan rewel ya, Nak. Daddy sedang sakit, kalian jadi anak yang pintar ya?" Dira pun menciumi kedua anaknya. Setelah itu Dira membuka pintu mobil depan, untuk menaruh Ardi di tempat khusus yang sudah di sediakan Dira.
__ADS_1
Sedangkan Arya berada di belakang sambil merintih kesakitan, bahkan Arya terus-menerus mengigit bibirnya sendiri agar tak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Kak masih sakit?" tanya Dira sebelum menjalankan mobilnya. Untung saja waktu itu Sintal mengajari Dira mengendarai mobil saat dirinya di pingit, jadi ada gunanya dia bisa mengendarai mobil.
"Masih, Dira. Ini bertambah sakit!"
"Sabar ya, Kak. Kita cari rumah sakit terdekat, Kakak baik-baik di belakang." Setelah itu Dira langsung menyalakan mobil, dan bergegas pergi ke rumah sakit. Dira sangat panik, saat Arya terus menjerit kesakitan. Dira benar-benar tak bisa konsentrasi, karena dia harus melihat jalan dan melihat keadaan Arya.
Ya Allah sembuhkanlah penyakit suamiku, aku sadar selama ini tak pernah bersyukur padamu. Bahkan aku sering melupakan perintahMu, tapi aku mohon. Jangan ambil suamiku lagi, Ya Allah.
...My. Spoiled Family...
...By. Nunuk Pujiati...
.......
.......
.......
...Gambar hanya pemanis saja😍...
__ADS_1