Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Beast Brother's : Pegal-pegal


__ADS_3

Terik matahari yang sangat menyengat membuat Dira terusik dari tidur pulasnya. Dira menggeliatkan tubuhnya, sambil mencari keberadaan Arya. Tapi, sayangnya Arya tak ada di atas ranjang.


Dengan sangat berat hari, Dira memaksakan diri untuk membuka mata. Di lihat sekeliling kamarnya, sepi tak ada siapapun. Matahari juga sudah ada di atas, entah jam berapa itu yang pasti Dira bangun kesiangan.


"Astaga, ini jam berapa?"


Dira pun langsung meraih jam tangan yang ada di meja nakas, dan benar saja sekarang sudah sangat siang. Jarum jam ternyata sudah menunjukkan pukul, dua belas lebih lima menit.


Dengan sangat cekatan, Dira bangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Bahkan Dira mandi pakai jurus cepat, tanpa ada memanjakan diri di dalam kamar mandi.


Dira juga sudah gak perduli dengan tubuh yang masih terasa remuk. Seakan di pukuli seratus orang, dan ini semua karena Arya terlalu lama menggarap dirinya semalam.


Setelah selesai mandi, Dira langsung keluar dan mencari Arya serta Arleta. Seluruh kamar Dira cari tapi mereka tak kunjung ada, hingga Dira menyerah mencari.


"Bu Dira mencari, Bapak?" tanya Mbok Ria.


Seketika Dira langsung mengangguk, sambil meminum segelas air yang dia ambil. Dira merasa semakin tua, tenaganya semakin cepat terkuras.


"Bapak sudah berangkat ke kantor, dan non Arleta juga sudah di antar Bapak ke sekolah. Bapak juga berpesan, jika setelah pulang sekolah, non Arleta akan di bawa ke kantor," jelas mbok Ria.


Perasaan Dira pun sedikit lega. Setidaknya Arleta ada bersama Arya, dan Dira merutuki kebodohannya karena telat bangun.


"Makasih ya, Mbok. Oh ya, apakah mereka tadi makan? tanya Dira.


"Sudah, Bu. Non Raya juga pergi ke rumah temannya, sedangkan den Ardi langsung ke kampus setelah mengantar non Raya."


Dira pun mengangguk paham. Setelah itu Dira memilih kembali ke kamar, Dira ingin menyusul Arleta dan membawanya pulang. Hari ini Dira akan berkunjung ke rumah Ryant, dan sebelum itu Dira harus menyusul Arleta.


***


"Kamu makan yang banyak dong, Yank. Jangan dikit-dikit gitu, aku gak suka lihat kamu kurus," ucap Ardi sambil terus menyuapi Alisya bakso beranak jumbo.


Sedangkan Alisya berusaha menelan bakso itu. Perutnya sudah terasa penuh, tapi Ardi masih memaksa Alisya makan.

__ADS_1


"Ar, aku sudah kenyang. Kamu mau perutku meletus, ini sudah begah banget Sayang." Protes Alisya yang sangat kenyangan.


Ardi benar-benar memberikan porsi yang sangat banyak, hingga sekarang Alisya sulit bernapas. Ingin Rasanya Alisya muntah, tapi dia berusaha tahan karena gak mau Ardi tersinggung.


"Sudah kenyang ya? Ya sudah, ini buat aku saja. Kamu mau minum lagi gak, aku pesenin?" tanya Ardi. Tapi, dengan cepat Alisya menolak karena dia sudah gak tahan ingin muntah.


"Aku ke toilet dulu, ya. Aku mau buang air kecil, kamu tunggu di sini. Jangan tinggalkan aku, sampai ilang aku cekek kamu." Ancam Alisya.


Ardi hanya tertawa mendengar ancaman Alisya. setelah itu Alisya langsung pergi dari sana, perutnya sudah sangat mual dan ingin segera muntah.


Sampai di dalam toilet, Alisya memuntahkan seluruh bakso yang dia makan. Perutnya terasa sangat tersiksa, apalagi saat memuntahkan segalanya terasa seperti tercekik.


Hoekkk ... hoekkk ... hoekkk ....


Muntah Alisya sekali lagi. Setelah itu Alisya membersihkan dirinya, dan berusaha terlihat normal. Alisya gak mau Ardi melihat dirinya seperti ini, bisa-bisa satu sekolah gempar karena kepanikan Ardi.


"Ardi itu lucu, tapi kadang menjengkelkan. Andai saja kami bisa segera menikah, pasti sangat seru. Tapi ... emmmpppttt..." Seketika Alisya langsung terbelalak saat ada seseorang yang membungkam mulutnya dari belakang.


Alisya berusaha memberontak, dan berusaha melarikan diri. Tapi, tenaga orang itu.


Iya orang itu adalah Mahen. Karena Mahen tak bisa menemukan alamat Raya, akhirnya Mahen nekat berbuat seperti ini. Bahkan Mahen gak perduli jika dirinya akan ketahuan orang, atau apapun.


"Emmm ... emmm ... emmm ...." Mahen pun menyadari kebodohannya. Bagaimana bisa Alisya menjawab jika mulut Alisya dia bungkam, hingga Alisya tak bisa bernapas.


"Maaf." Mahen pun melepaskan tangannya. Namun yang dia dapat dari melepaskan tangannya itu, adalah teriakan Alisya yang sangat kencang.


Mahen sangat ketakutan, hingga dia mulai membungkam mulut Alisya sekali lagi. Namun sekarang Alisya lebih keras memberontak, hingga Mahen oleng.


Tanpa sengaja mereka terjatuh, dengan posisi Alisya ada di atas Mahen. Alisya terbelalak, saat mereka begitu dekat. Mereka saling pandang, hingga kegiatan itu buyar karena orang-orang mendobrak pintu kamar mandi.


"Kalian!"


Seketika Alisya langsung bangun. Alisya berusaha membenarkan posisinya, dan menjauh dari Mahen. Begitu juga dengan Mahen, dia langsung berdiri untuk membenarkan posisi mereka.

__ADS_1


"Kalian salah paham. Kita gak melakukan apapun, sumpah demi Allah. Sungguh aku gak berbohong," ucap Alisya sangat takut. Sungguh dia benar-benar takut, jika semua orang berpikiran buruk.


Semua orang masih berbincang-bincang sendiri. Mereka menatap jijik pada Alisya, karena berpendapat jika mereka berbuat mesum di dalam toilet.


"Ini apa-apaan?"


Semua orang langsung minggir saat kepala sekolah datang, dengan wajah gak bersahabat. Apalagi saat menatap Alisya, juga Mahen.


"Pak, ini bukan seperti yang terlihat. Ini salah paham, dan saya bisa jelaskan semuanya." Mahen berusaha membelah dirinya.


Mahen merasa sangat bersalah, karena kecerobohannya. Mereka akhirnya terjebak dalam masalah yang rumit seperti ini, sungguh membuat Mahen semakin bingung.


"Kalian ikut saya ke ruangan kepala sekolah. Kalian berdua sudah bikin malu sekolah Kita, karena berbuat mesum di Sekolahan!"


"Tid ...."


"Alisya!"


Seketika Alisya langsung terbelalak saat melihat Ardi berdiri di belakang Kepala sekolah. Alisya melihat betapa marahnya Ardi saat ini, dan itu membuat Alisya semakin terguncang.


"Ardi, ini bukan seperti ...."


"Aku kecewa sama kamu, Alisya!" Tanpa mendengarkan penjelasan Alisya, Ardi langsung penjelasan Alisya.


Alisya langsung menjerit saat melihat Ardi pergi, hingga dia pingsan tak sadarkan diri. Alisya terlalu terpukul, bercampur syok saat melihat cobaan hidupnya datang langsung bertubi-tubi.


Sedangkan Mahen, langsung menangkap tubuh Alisya. Mahen merasa sangat bersalah, apalagi ini membuat semua orang menjadi salah paham.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2