
"Bagaimana hasilnya, Seto? Aku gak mau mendengar kata gagal," ucap Arya sangat sinis.
"Sabar dulu napa. Aku juga butuh membuka filenya, dan baru bisa menunjukkan rekaman itu," balas Seto sangat kesal. Bahkan Seto selalu merasa terimindasi, dengan kelakuan sahabat sekaligus Tuannya itu. Ingin sekali Seto menonjok Arya, namun lagi-lagi Seto ingat jika Arya lah yang menyelamatkan nyawanya dulu.
"Tapi... Ini aku jujur ya, sungguh ini sangat memalukan. Bagiku ini sangat menjijikkan, dan juga kasihan," jelas Seto sambil bergidik. Seto sebenarnya sudah melihat semuanya, di mana Fani di perkosa dengan sadis oleh seseorang yang dia kenal. Siapa lagi jika bukan Rangga, musuh dalam dunia bisnis Seto.
"Cepat katakan, jangan bikin penasaran! Bicara itu yang tuntas, jangan setengah-setengah!" protes Arya yang tak sabaran. Sedangkan Seto hanya terkekeh melihat tingkah Arya, yang menurut Seto sangat kekanak-kanakan.
"Gini... Aku sudah menelusuri Bar itu, dan juga melakukan sogok menyogok agar mendapatkan rekaman ini. Dan hasilnya sama seperti yang kamu katakan, bahwa bukan kamu yang meniduri Fani." Arya yang mendengar penjelasan Seto pun langsung mengepalkan tangan, Arya merasa sangat di bodohi oleh Fani.
"Sial! Sudah aku duga, dia tak berubah! Dia hampir saja membuat aku berpisah dengan Dira," dengus Arya sangat kesal. Ingin sekali Arya marah-marah, tapi setelah melihat Dira tidur dengan pulas membuat Arya tak jadi melakukan itu.
"Tapi apa kamu tak merasa iba, Arya?" tanya Seto sambil meminum kopi yang di buat oleh Sekar.
"Buat apa merasa iba? Kalau dia dari awal jujur, aku mungkin akan iba. Tapi, Fani tak jujur malah menyeret ku dalam masalah ini," jelas Arya. Namun setelah itu, Arya langsung sadar dengan semuanya. Ada yang aneh dalam vidio itu, lokasi yang sangat berbeda dengan lokasi saat dia sadar.
__ADS_1
"Tunggu, itu kok hotelnya berbeda?" tanya Arya sangat bingung. Karena Arya masih mengingat dimana dia bangun, yang pasti bukan hotel itu.
"Lihat dulu sampai selesai, dodol! Di sini, setelah orang itu selesai menodai Fani. Dia langsung pergi begitu saja, dan Fani menyuruh orang untuk membantu dia memindahkan kamu ke hotel lain," jelas Seto sangat santai. Seketika mata Arya langsung melongo melihat Fani di paksa melakukan, oral pada batang tongkat sakti milik Rangga.
Tak di pungkiri, Arya langsung merasa gerah melihat itu semua. Tapi dengan mati-matian, Arya mengontrol hawa nafsu yang mulai membawa. Namun saat Arya mengalihkan pandangan dari video itu, Arya tanpa sengaja melihat dua buah mangga yang terpampang sangat jelas di balik tank top Dira.
Aiss, kenapa saat begini malah melihat barang yang menggembul sangat indah itu. Jika aku pegang, Dira sadar gak ya? Jika aku nekat mere*mas itu, apa Dira akan marah? Ahh... Tangan lucknut, bisa-bisanya ngidam mere*mas buah mangga milik Dira. Eh tapi, jika si ukur lebih besar milik Dira daripada buah mangga. Aku ganti nama saja deh, aku sebut kau batok kelapa. Bagus kan? :) gumam Arya dalam hati.
Namun setan itu memang menang banyak, tiba-tiba saja tangan Arya langsung menelusup masuk tanpa permisi. Di rema*s sedikit, benda kenyal itu sangat pelan. Takut pemiliknya bangun, terasa lembut bak kapas yang sangat halus.
"Sialan, punya teman kok gesrek gini! Gak kenal tempat, apa dia gak sadar aku bisa melihat expresinya? Dasar manusia mesum!" gerutu Seto sangat lirih, bahkan hanya Seto yang bisa mendengarkan ucapannya barusan.
Setelah itu, Seto langsung mengalihkan pandangannya dan berusaha mencari kegiatan lain sambil menunggu bos gilanya itu. Seto sadar apa yang dilakukan Arya, karena tak di pungkiri Seto sempat hareudang saat melihat vidio itu. Apalagi terlihat sangat jelas, dan padat.
Sedangkan di posisi Arya, dia masih sibuk mere*mas-re*mas batok kelapa. Hingga kelakuan Arya membuat Dira merasakan sesuatu yang aneh, tanpa sengaja Dira meloloskan suara desahannya tanpa sengaja. Jelas Arya dan Seto langsung terkejut, dengan cepat Arya mematikan laptop itu agar Seto tak mendengar desahan lucknut Dira.
__ADS_1
Setelah panggilan tersebut mati, Arya langsung memiliki ide jail. Dia semakin berbuat liar, dan tanpa izin Arya menanggalkan baju Dira beserta OBH berukuran 37 itu. Puas itu yang dirasakan Arya, dengan cepat Arya mencoba menyeruput buah kismis yang terpampang sangat jelas.
"Ihhh ternyata, begini rasanya," gumam Arya kegirangan. Setelah itu Arya kembali melancarkan aksinya, dan semakin kencang memainkan buah kismis itu. Namun lama-kelamaan Dira benar-benar merasakan aneh, hingga dia membuka kelopak matanya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Arya begitu rakusnya memakan kismis yang Dira jaga selama ini.
"Ahhh... Kakak!"
Bruukkk...
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1