
"Tak Ital, akep Tia tak," ucap bocah kecil berumur 4 tahun itu sambil berlari-lari, sangat bahagia.
"Tia jangan lari-lari, nanti jatuh," teriak anak laki-laki berusia 15tahun, bahkan anak itu terlihat mengejar bocah perempuan tadi.
"Tia cuka ali-ali ayo akep Tia, tak." Ucapnya sekali lagi.
"Kamu ya, awas nanti kakak kejar kamu sampai kena, tapi jangan nangis loh," balas anak laki-laki itu, dengan ikut berlari.
"Tia kamu di mana, dek?"
"Tia"
"Aaaahhhh... Tak Ital, toyong Tia,"
"Dek kamu, dimana?"
"Tak Ital, toyong."
"Astaghfirullah..."
Kenapa mimpi itu datang lagi, setelah sekian lama? Apa kakak merindukan aku, atau hanya aku yang merindukan kakak.
Andai waktu bisa di putar aku ingin sekali tetap berada di rumah, dan tak akan lari-lari hingga keluar dari rumah. Sungguh aku menyesal, karena mengajak kakak lari-larian di luar.
Aku dan Vano juga sudah sering mencari keberadaan rumahku waktu kecil, dengan mengandalkan ingatanku. Tapi sayangnya semua sudah berubah, bahkan aku malah jadi bingung, taman yang dulu sering aku buat lari-larian malah berubah menjadi pertokoan yang sangat besar di Bandung.
Andai saja aku tau margaku, mungkin gampang bagi aku menemukan mereka, tapi ingatan masa kecilku hanya tau nama ku Tia dan kakak Ital. Nama panjangku saja gak tau apa, nama Dira pun juga dari orang tua angkatku yang dengan penuh kasih sayang merawatku.
__ADS_1
Mereka memberiku nama Dira Larasati dan panggilannya Dira. Sebenarnya aku tak mau tapi melihat mereka yang sangat menyayangi aku, akhirnya aku luluh dan mau di kasih nama Dira Larasati.
Bu Eneng dan pak Asep lah yang menemukan aku, waktu itu. Dengan tega para penculik membuang ku di semak-semak belukar yang kotor. Aku menangis tanpa henti, namun tak ada yang memperdulikannya, semua orang bukannya menolong malah mengira aku anak jadi-jadian.
Untung saja ada bu Eneng dan pak Asep. Mereka menyelamatkan aku dari amukan masa, bahkan mereka rela di usir dari kampungnya dan berpindah ke Jakarta untuk mengadu nasip.
"Kakak aku, rindu."
****
Prang...
"Tia!" Sintal pun langsung memegang dadanya, yang terasa berdetak sangat kencang seperti mau lepas dari tempatnya. Perasaannya sangat tak enak, dan menjadi bimbang. Entah karena apa itu.
"Siapa Tia,itu?" tanya Fani saat melihat Sintal menjatuhkan makanannya.
"Tidak perlu, karena aku belum lapar juga. Aku lebih penasaran dengan adikmu,bolehkan aku mendengar ceritanya?" tanya Fani antusias. Sintal pun hanya mengangguk, dan mulai menceritakan siapa itu Tia.
"Tia adalah adik perempuanku satu-satunya, dia di culik waktu umur 4 tahun, papa juga sudah mencarinya kemana-mana tapi tak bisa di ketemu juga sampai sekarang. Hingga mereka putus asa, dan menghentikan pencarian." Sintal mulai bercerita, dan Fani jadi pendengar yang baik.
"Namun setelah 4 tahun menghilangnya Tia, barulah kami tau jika yang menculik Tia adalah suruhan om Bagas. Adik papa yang iri dengan kesuksesan, papa. Menang papa yang paling sukses dari saudara-saudaranya, tapi papa sukses karena kerja kerasnya sendiri," ucap Sintal lagi.
"Papa kerja keras biar menjadi seorang dokter, bahkan dia juga kerja paruh waktu demi bisa membayar kuliahnya dulu. Tapi adik papa berfikiran jika papa memakai harta nenek, hingga dia dendam selama bertahun-tahun dan membalas dengan cara menculik adikku," ucap sintal dengan wajah amat sedih.
"Kejam sekali Om, kamu. Tapi apa kamu gak tanya sama Om kamu, tetang keberadaan Tia?" tanya Fani
"Sudah tapi dia bilang gak tau, karena orang suruhannya membuang Tia di semak-semak. Aku juga sudah telusuri namun kata orang-orang di sana bilang gak tau." terlihat raut kecewa di muka Sintal. Sedih, jelas sedih karena Sintal harus kehilangan orang yang dia sayangi.
__ADS_1
"Semoga adikmu cepat ketemu. Aku akan selalu berdoa agar Tia cepat kembali, yakinlah jika adikmu akan kembali." Fani berusaha memberi semangat untuk Sintal, karena Fani tak suka melihat Sintal murung.
"Makasih," Sintal pun langsung memeluk Fani dengan erat, dan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sedangkan Fani yang merasa di serang pun, langsung mencubit pinggang Sintal sangat keras.
"Dasar montok! Cari-cari kesempatan dalam kesempitan kamu, udah aneh di tambah nama juga ikut aneh. Kenapa sih nama kok Sintal gitu, bikin ngeri saja," ucap Fani sedikit mengejek.
"Tangan kamu terbuat dari apa sih, kok panas banget bekas cubitan kamu. Gila bisa gosong ini nanti, dan kamu bilang apa tadi nama ku aneh?" Fani pun menganggukkan kepala.
"Asal kamu tau, ya. Sebenarnya aku juga ogah dengan nama ini, tapi mama tercinta suka dengan nama itu. Dia bilang waktu aku lahir sangat montok, jadi mama kasih nama Sintal!" Fani pun langsung terbahak-bahak mendengar perkataan Sintal dan berniat Menjahilinya.
"Oke kalau gitu aku panggil kamu, MONTOK saja ya?" Mata Sintal pun langsung melotot, saat mendengar ucapan Fani. Sungguh dia tak mau di bilang montok, karena itu sangat menggelikan.
"Gak mma! Enak saja kamu, bisa hancur reputasiku sebagai dokter jika namaku menjadi MONTOK, awas saja jika kamu pakek nama itu," Protes Sintal dengan geram, dan ingin memaki orang yang memberi nama dia Sintal.
(Maaf 😅)
"Montok... Montok..." goda Fani sekali lagi, dan benar saja Sintal langsung geram mendengar ucapan Fani.
"FANI"
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1