Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Pengakuan Arleta


__ADS_3

"Sayang, kamu mau bicara apa? Kenapa Kita harus keluar dari kamar, Opa?" tanya Dira pada Anaknya.


Sekarang ini mereka sudah ada di ruang tamu, dan Arleta langsung memeluk Dira sangat erat. Perlahan-lahan, Dira mendengar isakan tangis dari bibir mungil Arleta.


"Loh, kok nangis? Coba bicara sama, Mommy. Kenapa kamu menangis, dan apa yang mau kamu ceritakan?" tanya Dira sangat serius. Entah kenapa ada rasa Khawatir saat melihat Arleta menangis, padahal Arleta anak yang selalu ceria.


"Opa, Mommy. Opa tadi sakit, bahkan Opa juga minum banyak obat. Opa sakit, Mommy. Tapi, Opa melarang Letta untuk bilang sama Mommy," ucap Arleta sambil menyembunyikan wajahnya.


Sedangkan Dira sangat terkejut mendengar pengakuan anaknya ini. Dia gak tau jika Ryant sakit, padahal selama ini dia selalu melihat Ryant sehat.


"Letta, kamu gak bohong? Mommy tanya sekali lagi, apakah Letta gak bohong?" tanya Dira memastikan. Namun dengan cepat Arleta menggeleng, tanda jika dia sama sekali gak berbohong.


"Bisa tunjukkan obat yang Opa minum, Mommy mau memastikan saja," ucap Dira sekali lagi.


"Ini, Mommy."


Ternyata tadi setelah memberikan obat pada Ryant, Arleta langsung memasukkan obat itu ke dalam sakunya. Dira yang merasa sangat penasaran akhirnya mengirimkan obat itu pada Sintal, agar Dira tau obat apa itu.


Dira : Kak, apakah kamu tau ini obat apa? Tolong cepat jawab, karena ini sangat darurat.


Sambil menunggu balasan, Dira mengajak Arleta duduk di sofa. Dira menatap bimbingan ke ponselnya, karena Sintal tak kunjung membalas pesannya.


Sintal : Ini obat pereda nyeri, Tia. Biasanya di minum oleh orang yang terkenal penyakit jantung, bisa di bilang penyakitnya sudah sangat parah, hingga harus meminun obat ini.


Deg ....


Jantung Dira langsung berhenti berdetak saat melihat balasan Sintal. Pikiran-pikiran kotor pun mulai terngiang-ngiang di otaknya, bahkan Dira berpikir yang tidak-tidak


"Papa ...."


Dira pun langsung berlari masuk ke dalam kamar Ryant. Di lihat mertuanya itu dengan sangat lekat, dan tanpa terasa air mata Dira menetes begitu deras.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ryant yang melihat menantunya itu menangis.Tanpa tunggu lama, Dira mendekati Ryant dan memeluk erat mertuanya itu.

__ADS_1


"Papa, kenapa gak jujur dengan Dira? Kenapa Papa menyembunyikan ini semua? Apa Papa sudah gak menganggap Dira anak lagi, sampai Papa sakit gak mau kasih tau Dira?" tanya Dira bertubi-tubi.


Sedangkan Arya langsung di buat bingung karena ucapan Dira. Dengan sangat cepat Arya bertanya pada Dira.


"Sebenarnya ada apa, sih?" tanya Arya sangat bingung.


"Papa juga bingung, Ar."


"Papa bohong sama Kita, Papa bilang Papa sehat. Tapi apa? Papa sakit kan, Papa sedang menyembunyikan penyakit Papa? Gak perlu bohong, karena Dira sudah tau semua dari Arleta." Seketika Ryant langsung terdiam, saat mendengar ucapan Dira. Apalagi yang memberi tau segalanya adalah Arleta.


"Apa ini benar, Pa?" tanya Arya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tadi sudah menghubungi, kak Sintal. Dia bilang, Papa mengonsumsi obat pereda nyeri. Dan obat itu di minggu, orang yang menderita penyakit jantung yang sudah parah, Kak!" Kini Dira tak bisa menang tangis. Dira terus menangis sampai sesegukan. Dira sangat menyesal, karena baru mengetahui ini semua.


"Maaf, bukannya Papa ingin berbohong. Papa gak mau merepotkan kalian, dan membuat kalian khawatir. Papa juga merasa ini memang gak perlu di ketahui siapun, agar Papa cepat bersatu dengan Mama kalian," ucap Ryant dengan berusaha tersenyum.


"Pa, jangan gitu. Kita masih membutuhkan Papa, jadi kita berobat ya? Dira yakin Papa akan sembuh, besok kita akan bertemu dengan Kakak, karena kakak dokter spesialis Jantung," pinta Dira. Namun tak lama setelah itu, datanglah Arleta dengan menangis.


"Opa, maafkan Arleta. Arleta gak bisa bohong, jadi Arleta jujur sama Mommy," ucap Arleta sambil mendekati Ryant.


Arleta pun langsung menghambur kepelukan Ryant. Sedangkan Ryant membelai lembut kepala Arleta, dan di ciumi puncak kepalanya.


***


Ardi masuk kedalam rumah dengan perasaan yang sangat kesal. Bahkan Ardi sampai membanting pintu kamar, karena saking emosinya.


Sedangkan Raya yang melihat Ardi sangat marah sedikit terkejut, karena baru kali ini Ardi semarah itu sampai membanting pintu. Karena penasaran akhirnya Raya menghampiri saudaranya itu. Walaupun takut, tapi Raya penasaran.


"Kak, kamu kenapa?" tanya Raya saat memasuki kamar Ardi.


"Dari kapan kamu di situ, jangan ganggu kakak. Kakak lagi kesel sama Alisya, dan juga Mahen!"


Raya semakin di buat penasaran, apalagi saat mendengar nama Mahen. Bukan karena dia penasaran dengan Mahen, tapi Raya lebih penasaran kenapa Kakaknya kesal dengan Mahen.

__ADS_1


"Kenapa dengan, Mahen? Dan apa hubungannya dengan kak Alisya, kan kak Alisya pacar Kakak," balas Raya sangat penasaran.


"Ini semua gara-gara, Mahen sialan itu. Jika dia gak berbuat mesum, Alisya gak akan kena masalah seperti ini. Bahkan, Alisya di paksa menikah dengan Mahen gara-gara skandal itu." Ardi pun langsung mengepalkan tangannya.


Benar-benar menjengkelkan, apalagi mengingat Alisya gak mau kawin lari dengan dirinya. Bahkan menolak mentah-mentah ajakannya, tadi.


"Tunggu, maksudnya gimana sih?"


Raya sangat bingung dan ingin kejelasan. Akhirnya Ardi menjelaskan segalanya, dan menceritakan tanpa ada yang tertinggal. Raya benar-benar terkejut dengan cerita Ardi, dia gak menyangka Mahen akan berbuat seperti itu.


Akun kira kamu orang baik, tapi kenapa kamu malah berbuat seperti itu Mahen? Sepertinya aku sudah salah menilaimu, gumam Raya sangat kecewa.


"Kak, yang sabar ya. Tapi aku juga sependapat dengan, kak Alisya. Jangan main kabur, kalau bisa buktikan cinta Kakak, bukan malah ngajak kabur, jelas kak Alisya gak mau," balas Raya sangat lembut.


"Aku gak bisa terus bersabar, Ray. Apalagi saat tau mereka akan menikah, jelas Kakak gak ikhlas lah!" seru Ardi sangat frustasi.


Raya merasa kasihan dengan Kakaknya itu, dan bingung harus bagaimana. Jika saja dia bisa membantu, maka Raya akan melakukannya.


Aku harus apa sekarang, aku juga sakit melihat kakak seperti ini. Apa aku temui Mahen saja ya, dan meminta Mahen untuk membatalkan pernikahan itu. Tapi, apakah Mahen setuju.


Raya terus bergelut dengan hatinya sendiri. Bahkan Raya juga berusaha mencari jalan keluar untuk Ardi, agar Ardi bisa bersatu dengan Alisya.


"Kak, pernikahannya kapan? Sekaligus tempatnya di mana, aku jadi kepo," ucap Raya.


"Tempat gak tau, tapi kalau gak salah beberapa minggu lagi. Kakak lupa, intinya mereka harus menikah demi menutupi kejadian itu." Raya pun mengangguk mengerti.


Setelah itu Raya memikirkan sesuatu, agar pernikahan itu gagal. Sebisa mungkin Raya akan membantu kakaknya, demi mendapatkan cinta sejatinya.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2