
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya kini Arya dan dira sampai di rumah dengan selamat, sedangkan Dinda yang tau Dira sudah sampai langsung berteriak sekaligus memeluk Dira sangat erat.
Sungguh ini yang di nantikan Dinda, ya itu kedatangan menantu kesayangan yang tiada duanya. Dira adalah segalanya untuk Dinda, bahkan Dinda rela melepaskan semua kekayaannya demi mendapatkan Dira dan membuat Dira berada disisinya kembali.
"Akhirnya menantu Mama pulang, sungguh Mama sangat rindu sama kamu Nak. Hidup Mama serasa hampa tanpa hadirnya dirimu Sayang, syukurlah jika kamu sudah pulang,"ucap Dinda sambil memeluk erat Dira. Sedangkan Dira langsung menangis, karena bisa melihat mertuanya kembali. Mertua yang sangat Dira rindukan, bahkan sangat Dira sayangi.
"Maafkan Dira, Ma. Dira janji gak akan berbuat seperti itu lagi,vsekarang Dira akan tinggal di sini seterusnya setelah kami menikah" ucap Dira tersedu-sedu. Dira tak sanggup lagi membendung kerinduan ini lagi, berbulan-bulan Dira harus menahan dan semua bisa di lepaskan hari ini juga.
"Kenapa harus menunggu, setelah menikah? Sekarang pun tak apa-apa, Mama gak mau lagi berpisah dengan kamu Dira," ucap Dinda dengan nada yang di buat merengek. Inilah yang di rindukan Dira, kemanjaan Dinda. Walaupun Dinda sudah tua, tapi sifatnya terkadang masih seperti anak kecil yang sangat menggemaskan.
Namun baru saja mereka melepas rindu, tiba-tiba saja Fani datang dari lantai atas sambil berteriak sinis. Terlihat jelas jika Fani tak suka, dengan kehadiran Dira. Karena Fani berfikir, kehadiran Dira adalah bom waktu untuk dirinya.
"Oh... Jadi ini yang membuat kamu meningalkan aku sendiri di rumah sakit, dan menelantarkan aku juga anakku! Aku gak menyangka jika kamu tega berselingkuh dengan seorang janda, di saat aku sakit! Apa sedetikpun kamu tak pernah memikirkan aku Arya! Anakmu juga butuh kasih sayang dari ayahnya, bukankah seharusnya begitu?" teriak Fani sambil menuruni tangga. Emosi Fani sudah di atas ubun-ubun, karena melihat tatapan mendamba Arya pada Dira.
"Kamu tau Arya! Beberapa hari ini aku merasakan sakit, namun aku berusaha diam dan menunggu kamu. Tapi nyatanya apa? Kamu pulang dengan membawa wanita ini, wanita bekas adikmu!" teriak Fani yang membuat emosi Arya memuncak.
Plakkkk...
Sebuah tamparan langsung mendarat mulus di pipi Fani, sungguh dia tak pernah menyangka jika Arya akan berani memukulnya di depan Dira dan Dinda. Sedangkan Dinda, dia sangat merasa bahagia karena Arya bisa bersifat tegas dengan Fani.
"Jaga mulutmu itu, Fani! Aku ingatkan kamu sekali lagi, jika kamu masih tak paham! Aku tak pernah menyentuhmu bagaimana bisa kamu hamil, dan anak yang kamu kandung juga bukan anakku melainkan anak Rangga. Mantan kekasihmu, Fani!" Arya sedikit menekankan kata 'mantan kekasih' agar Fani sadar.
Astaga! Darimana Arya tau, jika yang meniduri aku adalah Rangga? Bagaimana ini, apa aku harus tetap melanjutkan kebohongan ini atau menyerah akan keadaan? gumam Fani sangat gugup. Fani tak menyangka, jika Arya akan tau secepat ini di saat dirinya butuh pendamping.
"Apa maksudmu, Arya?" tanya Dinda dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Iya benar apa kata, tante Dinda. Kenapa kamu tega berkata seperti itu, ini anak kamu Arya!" saut Fani sangat gugup. Tapi bukan Fani namanya jika tak bisa menyembunyikan rasa takut, yang ada di dalam hatinya.
"Tak usah mengelak lagi, Fani! Aku sudah melihat semua rekaman CCTV di hotel, dan betapa terkejutnya aku. Ternyata aku hanya di jadikan kambing hitam, olehmu! Padahal Rangga lah yang memperkosamu, tapi aku yang mendapatkan tuduhan keji itu." jelas Arya sambil menunjuk muka Fani. Sebenarnya Arya tak tega melakukan ini, tapi jika Fani tak di tegas si, maka Fani akan terus melanjutkan kebohongannya itu.
"Aku gak percaya itu, Arya!" sangkal Fani.
"Semua bukti sudah ada di tanganku, Fani! Jadi jangan berbelit-belit lagi, sekeras apapun kamu mengelak gak akan pernah bisa. Karena bukti lebih kuat, daripada ucapan." Fani pun langsung menangis saat kebohongannya terbongkar, sungguh Fani tak ingin di tinggalkan sekarang. Tapi jika kebohongannya harus terbongkar sekarang, Fani bisa apa?
Sedangkan Dira yang melihat Fani, merasa sangat kasihan. Walaupun dia pernah di ancam, tapi Dira tetap memiliki hati nurani.
"Kak... Jangan keras-keras dengan, kak Fani. Jangan lupa kak Fani pernah pendarahan, dan kamu jangan membuat kak Fani semakin tertekan," jelas Dira sambil merangkul Fani. Arya yang sadar akan kesalahannya langsung mengusap wajahnya, dengan kasar.
"Maaf, aku lupa!" Arya pun mencoba menetralkan emosinya, agar tak terpancing lagi. Setelah melihat Arya tenang, Dira mulai berbicara sekali lagi.
"Maafkan aku Arya. Maafkan aku Dira, dan juga maafkan aku tante." Fani pun semakin terisak. Fani sangat malu, dengan kelakuannya selama ini. Sedangkan orang yang dia ancam, malah menenangkan jiwanya disaat begini.
"Tak perlu meminta maaf, aku sudah memaafkan kamu. Sekarang tunjukkan alamat Rangga, aku akan menemui dia dan memintanya bertanggung jawab. Aku juga akan berusaha membuat Rangga menerimamu lagi, sebisaku," ucap Arya sangat tulus.
"percuma Arya. Aku sudah berbicara padanya berkali-kali, tapi dia tak mau mengakui anak ini. Malah dia menyuruhku menggugurkan kandungan ini atau, meminta pertanggung jawaban darimu," balas Fani sesegukan. Terlalu banyak air mata yang dia keluarkan hari ini, air mata haru dan juga malu.
"Aku pastikan dia akan bertanggung jawab, Fani! Maafkan aku juga karena aku sudah berpaling darimu, tapi masalah hati sama sekali tak bisa di bohongi Fani. Maaf sekali lagi, aku meminta maaf," ucap Arya penuh sesal. Bagaimanapun juga Arya juga salah di sini. Dia yang tiba-tiba berpaling, dan memilih Dira sebagai pendamping hidupnya. Padahal dia dan Fani, sudah menjalani hubungan selama beberapa tahun ini.
Fani juga yang bisa membuat Arya melupakan Serlin, kekasihnya masalalu. Namun di sini yang kenal Serlin, hanya Dinda, Arya, Ryant, dan almarhum Vano. Mereka sengaja menyembunyikan semuanya, agar Arya tak mengingat masa lalu kelamnya bersama Serlin.
"Aku pergi dulu, kamu di sini saja bersama Mama dan Dira. Kamu tetap kami anggap keluarga, karena kamu seperti adikku sendiri sekarang," ucap Arya sangat lembut. Seketika Fani langsung mengangguk, dan melihat ke arah Dinda.
__ADS_1
"Kak Fani duduk saja di sini, jangan banyak fikiran karena kakak lagi hamil. Kakak juga harus menjaganya dengan baik, karena dia sama sekali tak bersalah," ucap Dira sangat lembut.
Dinda yang melihat Dira sangat perhatian dengan Fani pun sangat kesal. Ck... Bisa-bisanya Dira tak ada dendam sama sekali, kalau aku jadi Dira sudah aku pepes itu Fani. Dira terlalu baik, hingga banyak yang memanfaatkan dia. gumam Dinda dalam hati.
"Kamu taukan sekarang, perbedaan kamu dan Dira? Kamu selalu arogan, jahat, ketus,dan suka buat omongan yang tak benar. Sedangkan Dira dia sangat baik, penyayang, sabar, pemaaf. Beda jauh dengan kamu," sindir Dinda sangat kesal. Ingat rasanya Dinda mencabik-cabik Fani, namun lagi-lagi Dira melarangnya.
"Ma..." peringat Dira agar Dinda tak melukai hati Fani.
"Untung saja Arya punya bukti, kalau tidak dia akan terjerat dengan wanita ular seperti mu,"ucap Dinda sekali lagi. Dira sampai geleng-geleng, karena mertuanya tipe pendendam.
"Mama jangan begitu. Kak Fani lagi hamil Ma, dan Mama juga punya asma kan? Lebih baik Mama istirahat saja dulu, biar kak Fani, Dira yang urus." Dengan berat hati akhirnya Dinda langsung meninggalkan mereka berdua, Dinda sungguh tak bisa menahan emosi sekali lagi jika terus-terusan berada di sana. Jadi lebih baik, dia pergi untuk menenangkan diri.
"sabar ya, Kak," ucap Dira sambil tersenyum.
"Makasih, Dira. Aku benar-benar malu, sama kamu," balas Fani sambil menunduk.
"Sudahlah, lupakan semuanya. Kita mulai lembaran baru, dan kita sekarang melangkah ke jalan yang benar." Fani pun langsung mengangguk, saat mendengar ucapan Dira. Setelah itu, mereka kembali berbincang sambil menunggu kedatangan Arya. Menanti kabar, yang tak pasti.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1