
Dewi pun merasa lega setelah mendengarkan penjelasan dari Sintal, jika Sintal juga merasakan jika Dira adalah Tia. Namun mereka harus diam-diam, agar Dira tak curiga. Bahkan Sintal juga menjelaskan, akan membujuk Dira untuk tetap tinggal di rumah ini sampai hasil tes DNA keluar.
sedangkan Dira, setelah selesai mengobati luka Dewi. Dira langsung pergi ke dalam kamar, dan melihat apa saja yang dia butuhkan sampai hari H nanti.
Setelah bergelut ria dengan pekerjaan, akhirnya waktu makan siang sudah tiba. Mereka bertiga pun menikmati makan siang yang sangat nikmat, karena baru kali ini mereka isa berkumpul tanpa ada rasa sedih karena kehilangan.
"Kamu makan yang banyak, biar kamu bisa montok seperti Sintal dulu. Mama gak suka liat kamu kurusan, Mama lebih suka liat anak Mama yang montok dan menggemaskan," ucap Dewi sambil menaruh banyak lauk di piring Dira.
Sedangkan Sintal langsung mendengus karena ulah mamanya juga, dia di panggil montok oleh Fani.
"Sudah, Tan. Ini terlalu banyak, nanti Dira gak bisa menghabiskan semuanya," tolak Dira. Bagaimana tak di tolak, jika piringnya sekarang penuh dengan lauk-pauk yang sangat banyak.
"Mama! Ingat kamu harus panggil Mama, bukan panggil Tante lagi. Kamu mengerti, Sayang?" protes Dewi saat Dira terus memanggilnya tante.
"I... Iya, ma," jawab Dira ragu-ragu.
"Baiklah, karena Alex sudah selesai makan. Makan aku balik kerumah sakit. Kalian lanjutkan berdua, karena Alex mau kembali," ucap Sintal dengan menyebutkan namanya menjadi Alex. Namun dengan cepat Dewi langsung menatap tajam Sintal, dan seperti akan membunuh.
"Sekali lagi kamu mengganti namamu dengan seenaknya, Mama pastikan nanti sore namamu gak ada di kartu keluarga!" ucap Dewi sangat murka.
"Ma... Please, jangan pakek nama Sintal. Mama tau? Fani sampai mengngatai aku MONTOK, karena nama aku Sintal," protes Sintal. Namun itu juga tak luput dari kekehan Dira, dia tak bisa menahan tawa saat tau Fani juga mengatai Sintal.
__ADS_1
"Siapa, Fani itu?" tanya Dewi dengan tatapan menyelidiki.
"Kamu yang jelaskan, atau kamu dek?" ucap Sintal yang tak ingin berdebat.
"Kak Fani itu calon menantu, Mama," jawab Dira to the point. Sedangkan Sintal dan Dewi langsung terkejut dengan ucapan Dira, yang tiba-tiba mengklaim Fani sebagai calon menantu Dewi.
"Sejak kapan kamu tertarik dengan, perempuan?" Sintal pun semakin membelalakan matanya. Sungguh dua orang di depannya ini, membuat Sintal mati berdiri nantinya.
"Sintal normal, Ma! Cuma selama ini Sintal belum tertarik dengan wanita, Sintal masih ingin menekuni dunia Sintal," bela Sintal untuk dirinya sendiri.
"Itu namanya gak normal! Jika kamu normal, gak akan begini. Jangan-jangan kamu suka, sama cowok ya?" Dan lagi-lagi Sintal di buat syok dengan ucapan mama tercintanya.
"Itu kenyataan, Sintal!" Ketegangan pun semakin mencengkram, saat anak dan ibu itu mulai berdebat. Namun dengan cepat, Dira mencairkan suasana.
"Mama tenang saja, kak Sintal akan jatuh cinta kok. Mama lihat sana nanti, gak sampai setahun, kak Sintal akan kemakan dengan ucapnya sendiri. Apalagi sumpah serapah Dira mulai aktif, dan kakak akan tergila-gila dengan seseorang sampai lupa diri," ucap Dira sambil memakan ayam goreng yang Dewi berikan tadi.
Dan asal kalian tau, daritadi Dira makan tanpa henti karena di suapi oleh Dewi. Dewi lah yang memaksa, hingga mau tak mau Dira menerima permintaan Dewi yang ingin menyuapi Dira.
"Gak akan pernah! Aku yakin kamu yang akan kalah. Sudah ah, aku mau ke rumah sakit, sekalian melihat keadaan Fani. Kasian hidupnya gak ada yang perduli dengan Fani," ucap Sintal. Setelah itu Sintal berpamitan, dan bergegas pergi. Namun belum sempat Sintal melangkah, Dira mulai membuat ulah.
"Kasiha, atau cinta kak?" teriak Dira. Sungguh Sintal sangat geram, tapi dia tahan karena tak mau meladeni adik tercintanya. Walaupun belum tau dugaan dia benar atau salah, tapi Sintal yakin Dira itu Tia. Adik kecilnya yang hilang, bertahun-tahun lalu.
__ADS_1
Sial! Aku sendiri jadi bimbang, apakah benar aku mulai jatuh cinta? gumam Sintal dalam hati.
Sedangkan setelah Sintal pergi, Dewi menjadi penasaran dengan yang namanya Fani. Dengan sangat penasaran akhirnya Dewi bertanya dengan Dira, untuk mencari tau siapa Fani itu.
"Fani itu, siapa?" tanya Dewi Sambi menyuapi Dira.
"Kak Fani mantan pacar kak Arya, Ma. Tapi dia di perkosa oleh kakak tirinya hingga hamil, sedangkan kak Rangga gak mau bertanggung-jawab dan malah menghilang dengan kedua orang tuanya," jawab Dira dengan mulut yang amat penuh.
"Kasihan sekali dia. Mama mau bertemu dengan Fani, kamu bisa antar Mama bertemu dengan Fani?" Tanpa tunggu lama pun Dira langsung mengangguk, dan mengiyakan permintaan Dewi.
"Ma, sudah ya makannya. Dira sudah kenyang, nanti perut Dira meletus," ucap Dira sangat manja. Sedangkan Dewi hanya tersenyum, dan mengiyakan ucapan Dira. Sungguh hati Dira sangat bahagia hari ini, karena bisa merasakan di suapi seorang Ibu.
.
.
.
Happy Reading
Notes: Maaf ya lama update, ini juga sedikit. karena kemarin sempat terjadi insiden yang tak di inginkan. Ya itu saya keguguran, jadi rehat dulu 😇😇
__ADS_1