
"Kita harus segera melakukan cuci darah, untuk pak Arya. Karena hanya ini yang terbaik untuk pak Arya, apakah anda bersedia jika kami melakukan cuci darah?" tanya dokter pada Dira.
Dira sangat bingung, apa yang harus dia katakan. Masalah dia takut suaminya akan mati, jika darahnya di keluarkan semua.
"Saya gak tau, Dok. Saya takut suami saya meninggal, apalagi cuci darah. Pasti seluruh darah akan di keluarkan semua, dan saya takut suami saya kehabisan darah, terus meninggal." Dira membalas sambil menangis.
"Pikirkan lagi, Bu. Apakah Ibu mau melihat pak Arya seperti ini? selalu memakai obat penahan rasa sakit, agar menghilangkan rasa nyerinya," ucap dokter sekali lagi.
"Dok kenapa suami saya harus cuci darah? Apakah ini sangat parah, hingga harus melakukan ini?" tanya Dira sangat takut.
"Begini, Bu. Penyaringan darah adalah tugas ginjal. Namun pada penderita penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal, fungsi ginjal ini tidak dapat dilakukan secara optimal.
Ketika ginjal gagal melakukan pembersihan, terjadilah penumpukan limbah, racun, dan cairan pada darah. Kondisi ini berisiko membahayakan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Jika fungsi ginjal hilang sebanyak 85-90 persen, maka diwajibkan untuk melakukan cuci darah agar terhindar dari beragam komplikasi yang fatal.
Ini saja dibutuhkan penilaian dari dokter dan serangkaian tes medis untuk menentukan perlu atau tidaknya seseorang melakukan cuci darah. Ada beberapa hal yang menjadi tolak ukur, yaitu kadar kreatinin dan ureum dalam darah, kecepatan ginjal menyaring darah, kemampuan tubuh mengatasi kelebihan air, dan keluhan tertentu yang mengacu pada gangguan jantung, pernapasan, perut, atau kebas di kaki.
Tadi saya melihat, pak Arya tiba-tiba sakit perut, dan berkata kakinya sangat lemas. Bahkan pak Arya juga tak bisa merasakan kakinya, sehabis menggendong anak-anaknya," jelas dokter panjang lebar.
Dan disinilah, Dira semakin bingung. Apakah dia harus setuju melakukan ini semua, ataukah tidak. Jika Dira menolak, maka Arya akan tetap seperti ini. Namun jika menerima, Dira takut suaminya gak akan bisa kembali.
"Dan satu lagi, Bu. Metode cuci darah, ada dua cara. yaitu hemodialisis atau dialisis peritoneal.
Hemodialisis:
Cuci darah jenis ini paling banyak dikenal orang. Hemodialisis menggunakan mesin khusus untuk menyaring darah menggantikan ginjal yang rusak. Pada proses cuci darah ini, biasanya petugas medis akan memasukkan jarum pada pembuluh darah untuk menghubungkan aliran darah dari tubuh ke mesin pencuci darah. Setelah itu, darah kotor akan disaring pada mesin pencuci darah, dan setelah tersaring, darah yang bersih akan dialirkan kembali ke dalam tubuh.
Cuci darah hemodialisis biasanya menghabiskan waktu sekitar empat jam per sesi. Dalam seminggu ada 3 sesi yang harus dijalani dan hanya bisa dilakukan di klinik cuci darah atau rumah sakit. Efek samping yang biasanya muncul akibat hemodialisis adalah kulit gatal dan kram pada otot.
Dialisis peritoneal:
Metode cuci darah CAPD ini menggunakan peritoneum (selaput dalam rongga perut) sebagai penyaring. Peritoneum memiliki ribuan pembuluh darah kecil yang bisa berfungsi selayaknya ginjal.
Sayatan kecil dibuat di dekat pusar untuk jalan masuk selang khusus atau kateter. Kateter ini akan ditinggal di dalam rongga perut secara permanen. Fungsinya untuk memasukkan cairan dialisat, yaitu cairan yang mengandung gula tinggi guna menarik zat limbah dan kelebihan cairan dari pembuluh darah sekitar, ke dalam rongga perut. Setelah selesai, cairan dialisat yang sudah mengandung zat sisa dialirkan ke kantong khusus yang akhirnya dibuang. Lalu diganti dengan cairan segar yang steril.
Keuntungan proses cuci darah dengan metode ini adalah bisa dilakukan di rumah, kapan saja, dan biasanya dilakukan saat pasien sedang tidur. Tetapi, metode ini harus dilakukan empat kali tiap hari dan memakan waktu sekitar 30 menit. Efek sampingnya bisa berupa peritonitis (infeksi peritoneum yang mengelilingi rongga perut), perut terasa penuh ketika cuci darah berlangsung, kenaikan berat badan karena cairan dialisat mengandung kadar gula cukup tinggi, atau munculnya hernia akibat berat cairan di dalam rongga perut." Dira pun langsung bergidik mendengar metode yang kedua.
__ADS_1
Dira gak mau suaminya mengalami itu semua, karena itu sangat mengerikan.
"Dok, itu semua mengerikan. Apakah ada efek samping dari semua itu, jujur saya takut akan ada efek samping yang membuat suami saya semakin menderita," jelas Dira sambil menatap Arya.
"Untuk masalah efek samping pasti ada, Bu. Meski cuci darah tidak menyebabkan pasien yang melakukannya merasa kesakitan atau tidak nyaman, beberapa dari mereka mungkin akan mengalami efek samping, seperti sakit kepala, mual, muntah, kram, tekanan darah turun, mudah lelah, dan kulit menjadi kering atau gatal." Dira pun langsung melotot. Efek samping setelah cuci darah terlalu banyak, dan pasti itu akan meyiksa sekali.
"Dokter, apakah gak ada jalan lain? Saya gak mau suami saya seperti ini terus, cepat katakan apa yang harus saya lakukan." Dira kembali menangis.
"Jalan satu-satunya hanya transplantasi ginjal, dan sebelum mendapatkan donor. Maka cuci darah adalah jalan satu-satunya, agar suami Ibu tetap bertahan hidup."
Duarrr....
Dira merasa ada sebuah bom atom yang meledak di hatinya. Dira sangat terkejut dengan ucapan 'Agar suami ibu tetap bertahan Hidup' Bahkan kaki Dira langsung lemas seketika, dia gak mau kejadian dulu terulang lagi.
Gak! Kak Arya harus tetap hidup, aku gak mau kehilangan dia. Aku harus mencari ginjal yang cocok, aku akan memeriksakan diri. Jika cocok aku akan mendonorkan ginjal ku, aku gak perduli dengan apapun sekarang. gumam Dira.
Setelah itu Dira memandang dokter yang menangani Arya, Dira ingin mengajukan dirinya agar Arya tetap bertahan hidup. Nanti setelah dia selesai Operasi, Dira akan menjaga pola makannya agar gak seperti Arya.
"Dok, saya mau mendonorkan ginjal saya. Saya harus melakukan apa, supaya tau ginjal saya cocok atau tidak?" tanya Dira sangat serius.
Dira memang bersungguh-sungguh ingin mendonorkan ginjalnya untuk Arya, Dira ingin melihat Arya sehat kembali. Dira ingin suami mesumnya kembali sehat, dan kembali menjahili dia di saat sedang enak tertidur. Dira ingin itu semua kembali seperti semula.
"Sebelum memutuskan mendonorkan ginjal, semua harus sesuai kriteria. Beberapa kriteria umum untuk menjadi donor ginjal adalah:
Memiliki golongan darah yang sama dengan penerima.
Tidak menderita penyakit ginjal, misalnya batu ginjal atau gagal ginjal.
__ADS_1
Tidak menderita penyakit menular, seperti HIV/AIDS atau
Tidak menderita kanker, penyakit paru, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan elektrolit, dan gangguan pembekuan darah.
Tidak merokok.
Tidak menggunakan obat-obatan terlarang atau alkohol.
Berat badan ideal (indeks massa tubuh kurang dari 23).
Nanti saya akan memastikan kriteria-kriteria di tadi melalui serangkaian pemeriksaan, yaitu pemeriksaan fisik dan tes penunjang. Setelah syarat medis terpenuhi dan calon donor telah dinyatakan bisa menyumbangkan ginjalnya, maka bisa melakukan Operasi," jelas dokter.
"Baiklah, saya mau melakukan tes itu."
...My Spoiled Family...
...By. Nunuk Pujiati...
.... ...
.... ...
.... ...
Oh ya di season 2 ini, nguji kesabaran, dan ketulusan Dira merawat suaminya. Jadi, he he Arya aku buat sakit dulu 🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
__ADS_1