Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 42 Kehadiran Vano di mimpi Dira


__ADS_3

"Dira bangunlah, Sayang. Aku datang untuk menemanimu, bangunlah." Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku, bahkan aku juga bisa merasakan saat keningku di cium oleh seseorang.


Aku penasaran, siapa dia yang berani menciumku. Perlahan-lahan aku buka kelopak mata ini, walaupun berat tapi aku tetap berusaha. Hingga aku dapat menangkap sesosok, orang yang sangat aku rindukan. Siapa lagi jika bukan suamiku, Vano Wiguna.


"Vano!" Akupun langsung bangkit dari tidur, dan langsung memeluk erat suamiku. Suami yang selama ini aku rindukan.


"Iya ini aku, suamimu," jawab Vano sambil tersenyum seperti biasa. Senyuman yang begitu tulus, dan membuat aku luluh.


"Ini benar-benar kamu, Van? Aku masih tak menyangka, jika aku bisa memelukmu lagi." Ucapku sambil menangis. Aku menangis sejadi-jadinya, karena aku sangat merindukan orang yang sangat aku cintai ini. Suamiku, tercinta.


"Aku datang karena kamu bersedih, Dira. Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah menangis akan kepergianku. Aku akan sakit Sayang, jika kamu menangis." Sungguh aku tak bisa menahan tangisku lagi, seperti tadi. Aku sangat sedih mendengar ucapan Vano, dia tau jika aku sedih. Apakah ini yang namanya, ikatan batin?


"Maafkan aku, Vano." Ucapku sekali lagi. Entah mengapa hatiku sangat sakit, saat ini. Entah karena apa?


"Kamu tak perlu meminta maaf, Sayang. Kamu gak salah apa-apa, kenapa kamu kembali menangis?Padahal aku kemarin melihatmu sangat bahagia, kenapa sekarang sedih? Aku tak suka melihat wajahmu yang sedih seperti ini," ucap Vano sambil mengelus lembut kedua pipiku. Hangat rasanya, hingga aku terbuai akan itu.


"Aku salah karena melupakan cinta kita begitu cepat, aku merasa jika aku wanita gampangan Vano!" Ucapku sambil menangis tersedu-sedu. Aku merasa malu, berada di hadapan Vano saat ini.


"Aku yang mau kalian bersatu, jadi jangan merendahkan dirimu Dira. Aku yang menghadirkan cinta itu di dalam hati kamu, aku juga yang menarik Kakak supaya mencintai kamu. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri."


Apa aku tak salah dengar? Vano yang merencanakan ini semua, apakah itu benar? Tapi apa Vano tak ada rasa cemburu, atau marah padaku?


"Apa kamu gak marah jika aku begitu cepat mencintai kak Arya, apa kamu gak marah Vano?" tanyaku yang tak mau melihat wajah Vano, aku masih setia menyembunyikan wajahku di dada bidang suamiku.


"Sama sekali tidak, Dira. Kak Arya jodohmu Dira, dia yang lebih pantas mendapatkan cintamu. Dunia kita sudah berbeda Dira, jangan terpuruk dengan masa lalu karena masa depanmu ada di hadapanmu. Jadi tersenyumlah, aku mohon." Aku pun melepas pelukanku, ku pandang suamiku. Begitu tanpan dan bercahaya, bersih seperti rembulan. Dia sangat gagah, tak jauh beda dengan kak Arya. Namun bagiku, suamiku yang lebih tampan.


"Aku mau ikut, kamu." Ucapku tiba-tiba. Entah kenapa aku sangat takut kehilangan Vano sekarang, seandainya ini mimpi aku gak mau terbangun.


"Tidak bisa, Sayang. Jalanmu masih panjang dengan kakak, kamu harus kabulkan permintaan terakhirku Dira. berjanjilah kamu akan hidup bahagia dengan kakak, karena dengan kamu bahagia dengan kakak, aku akan tenang di alam sana." ucap vano sambil memegang pipiku. Entah kenapa ini seperti ucapan perpisahan, dan ini sangat menyesakkan bagiku.

__ADS_1


"Apa kamu sangat menginginkan ini, Vano?" Vano pun mengangguk-anggukan kepalanya sangat cepat.


"Baiklah aku akan kabulkan semuanya, ini demi kamu Vano." Ku lihat Vano sangat senang saat mendengar ucapanku, dan setelah itu Vano langsung mengecup keningku, terus beralih ke pipiku yang sangat kenyal ini.


"Waktuku sudah habis Dira, jaga dirimu baik-baik dan ingatlah aku selalu mencintaimu Sayang. Ingatlah aku akan selalu datang jika kamu bersedih." Aku pun langsung mengangguk, walaupun tak rela. Aku melepaskan cintaku, sayangku, kasihku, suamiku, belahan jiwaku. Demi dia aku akan berusaha mencintai kak Arya, karena ini perintah dari suamiku.


Hiks.. Hiks.. Hiks


"Dira cepat bangun, kamu kenapa Sayang?" Arya berusaha membuat Dira terbangun, karena sedaritadi menangis dalam tidurnya. Panik? Jelas Arya panik, saat Arya akan melihat keadaan Dira dia melihat Dira tertidur dengan keadaan menangis.


Hiks.. Hiks.. Hiks


"Dira bangun!" Arya pun langsung mendudukkan Dira agar Dira terbangun, dan setelah Dira terduduk tanpa tanpa di sangka dia langsung memeluk Arya sangat erat. Seperti takut akan kehilangan Arya.


"Dira bangun, Sayang. Ini aku Arya, cepat buka mata kamu." Panik Arya. Arya sangat panik saat melihat Dira terus menangis, namun mata tetap terpejam.


Namun tak lama setelah itu, Dinda masuk kedalam kamar dengan membawa segelas air dan langsung memberikannya kepada Arya.


"Kasih dia minum dulu, Arya. Pasti Dira mimpi buruk, atau lainnya," ucap Dinda sangat panik. Bahkan kini Dinda menepuk-nepuk pundak Dira.


Dengan telaten Arya memberikan minum pada Dira, sangat hati-hati itulah yang dilakukan Arya. Dia gak mau sampai Dira kenapa-napa, apalagi melihat kondisi Dira yang seperti ini.


"Kamu kenapa?" tanya Arya sangat lembut.


"Aku gak apa-apa, Kak. Tadi hanya mimpi indah dan membuatku menangis, sampai kebawa ke alam nyata," ucap Dira sesegukan. Dira sengaja tak membeberkan perihal mimpinya tadi, cukup dia yang tau tentang kedatangan Vano dalam mimpinya.


"Kamu kangen dengan, Vano?" tanya Arya. Kenapa Arya langsung bertanya seperti ini, karena tadi Arya sempat melihat foto Vano dan Dira berserakan di atas ranjang. Apa lagi Dira sempat menyebutkan nama Vano, saat dia tidur tadi.


"Iya. Apa kak Arya, marah?" air mata Dira pun tak bisa di tahan lagi, dan kembali membanjiri pipi mulus Dira. Sedangkan Arya langsung menghela nafas sangat panjang, ada rasa cemburu tapi dia harus sadar. Adiknya sudah tak ada.

__ADS_1


"Kakak gak marah, Dira. Lagian Vano sudah bahagia di sana, jangan kamu tangisi lagi kepergian dia. Pasti Vano akan merasakan sakit, jika kamu menangisi dia," ucap Arya sambil memeluk Dira erat.


"Lak jangan tinggalkan Dira seperti Vano, dia dulu janji gak akan tinggalkan Dira. Dia juga berjanji akan hidup sampai kakek nenek, tapi nyatanya dia ninggalin dira." ucap Dira dengan tangisan yang sangat pilu. Bahkan Dinda sampai ikut menangis, mendengar ucapan Dira.


"Sekarang hanya Kakak, Mama dan Papa yang Dira miliki. Aku mohon jangan tinggalkan Dira, mungkin jika tak ada kalian Dira lebih memilih ikut Vano" ucap Dira sekali lagi. Runtuh sudah air mata Arya, kejujuran Dira membuat pertahanan Arya koyak.


"Dira gak mau kehilangan lagi, cukup Vano,Mama, dan Papa yang pergi dari hidup Dira. Jangan Kakak, Mama Dinda, dan Papa Ryant." Tanpa meminta izin, Arya langsung mencium wajah Dira mulai dari, kening, pipi, hidung, mata, dan kecupan kecil di bibir.


"Kakak gak akan pernah meninggalkan kamu, Dira. Kita akan selalu bersama, kita akan hidup selamanya dan punya anak banyak. Kakak ingin anak enam, tiga laki-laki, tiga perempuan," ucap Arya seraya menghibur Dira. Dan itu semua berhasil, Dira langsung terkekeh namun air matanya tak bisa berhenti.


"Kamu anak Mama, Sayang. Walau kamu gak menikah dengan Arya, kamu tetap anak Mama. Kamu jangan pernah berfikiran kita akan meninggalkan kamu, karena itu gak akan pernah terjadi." kini Dinda yang memeluk Dira. Dinda sangat menyayangi Dira seperti anaknya sendiri, karena memang Dinda sangat mendambakan anak lelaki.


"Aku sayang kalian semua. Terima kasih sudah mau menerima anak yatim piatu ini, yang tak memiliki apa-apa. Maafkan Dira jika pernah berbuat salah, Ma." Dira pun langsung mempererat pelukannya, dan mereka berdua menangis bersama saling bertukar kesedihan.


"Kalian adalah wanita yang Arya sayangi, kalian berdua adalah hidup Arya. Kalian wanita hebat, Arya bangga akan itu," ucap Arya sambil memeluk kedua wanita yang sangat spesial dalam hidupnya.


Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang ikut menangis di balik pintu. Siapa lagi jika bukan Fani, yang daritadi berdiri di balik pintu. Sebenarnya tadi Fani sempat mendengar Arya berteriak, karena penasaran akhirnya Fani keluar. Namun saat Fani belum sempat melangkah, dia melihat Dinda yang sangat khawatir sambil membawa segelas air putih.


Karena penasaran makin tinggi, Fani memiliki membuntuti Dinda dari belakang. Namun saat sampai di depan pintu, Fani tak ikut masuk melainkan mendengar semua dari luar. Sempat Fani menangis mendengar cerita Dira, dan itu membuat Fani semakin sadar jika Dira lah yang lebih pantas menjadi menantu di keluarga Wiguna.


"Pantas saja mereka sangat menyukaimu, Dira. Kamu berbeda dengan orang lain, kamu terlihat tenang dan selalu ceria padahal hati kamu rapuh," ucap Fani sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2