
"Kalian gak mempermainkan aku, kan? Ini sangat sakit, tapi kalian seperti main-main," protes Dira.
Dira merasa kehilangan tenaganya, dan mendadak gak ada semangat. Sedangkan Arya bingung, ini harus gimana lagi. Darah bercampur lendir, berada di mana-mana membuat Arya sedikit pening.
"Tia, dengarkan Kakak. Kamu harus kuat Sayang, kamu pernah melewati ini semua dulu, saat melahirkan Baby-twins. Sekarang kamu di kasih kesempatan ini lagi, jadi kamu jangan gampang nyerah, ayo kamu pasti bisa." Sintal berusaha menyemangati adiknya.
Sintal sebenarnya ingin sekali menghampiri Dira. Tapi untuk sekarang belum memungkinkan, karena dia juga mengurus sesuatu yang sangat penting dan itu gak bisa di tinggalkan.
"Tapi sakit, Kak. Dira gak bisa napas juga, rasanya sesak di sini. Dira gak kuat, rasanya sangat lemas,' balas Dira lirih.
Arya semakin menangis. Arya gak mau kehilangan istrinya, jika pun mereka gak selamat dari sini maka mereka akan pergi bersama-sama.
"Ayo kita mulai lagi, setidaknya kita berusaha. Tapi aku ingin meminta sesuatu padamu, Kak. Apakah kamu mau mengabulkannya?" Kini Arya yang mulai bicara.
Arya juga merasa oksigen di dalam lift mulai berkurang. Kepalanya juga mulai pusing, dan merasa sangat sesak. Udara juga gak ada, yang ada hanya panas.
"Apa?"
Arya pun memandang Dira, dan Dira menganggukkan kepala seakan tau apa yang akan di ucapkan Arya. Dira gak merasakan sendiri, Arya juga merasakan apa yang dia rasakan.
"Jika kami gak selamat, tolong jaga Baby-twins. Tolong rawat dia sampai dewasa, jaga dia seperti anakmu sendiri. Hanya kamu yang aku andalkan," ucap Arya sambil menciumi tangan Dira.
Setelah itu terdengar isakkan tangis dari balik telepon. Sintal tak bisa membendung air matanya lagi, saat mendengar ucapan Arya. Namun saat mereka saling menangis, tiba-tiba Dira kembali kontraksi dan membuat Arya kembali membuat ancang-ancang sekaligus mendengarkan intruksi Sintal.
"Ahhh ...." Dira pun menjerit saat merasakan sesuatu keluarga dari jalan lahirnya. Begitupun juga Arya, dia sangat histeris melihat langsung anaknya keluar dari jalan lahirnya.
__ADS_1
Arya sangat gemetar, tapi dia tetap tegar. Bahkan Arya langsung memeluk anaknya itu, dan setelah itu Arya menaruh bayi mungil itu di dada Dira.
Arya ingin melepaskan bajunya, untuk menyelimuti anaknya. Setelah terlepas, Arya memakaikan kemejanya untuk membedong anaknya itu.
"Tia, apakah kalian baik-baik saja?" tanya Sintal yang sangat panik. Karena daritadi Sintal tak mendengarkan suara tangisan bayi, apalagi Dira.
"Kak, dia sangat tampan. Tapi dia gak mau membuka mata, atapun menangis. Apakah anakku sudah pergi?" tanya Dira sambil menangis. Sedangkan Arya masih berusaha membuat bayinya menangis, tapi gak ada hasil sama sekali.
"Pasti anakmu mengalami Asfiksia," ucap Sintal.
"Apa itu?"
"Salah satu penyebab bayi tidak menangis saat dilahirkan adalah Asfiksia. Kondisi ini terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cukup oksigen selama proses kelahiran.
Beberapa penyebab Asfiksia pada bayi baru lahir adalah:
-Anemia saat bayi masih dalam kandungan. Anemia akan menyebabkan kurangnya pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan, termasuk ke sistem pernapasan.
-Proses persalinan berlangsung sangat lama.
-Plasenta terlepas dari rahim terlalu cepat, sehingga bayi tidak lagi mendapatkan asupan oksigen di dalam kandungan.
Untuk menilai keadaan bayi baru lahir, dokter akan menggunakan APGAR score. APGAR score 3-5 merupakan indikator bayi mengalami Asfiksia. Hal ini merupakan kondisi yang berbahaya, karena jika tidak mendapatkan penanganan, bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian," jelas Sintal.
"Terus aku harus bagaimana?"
__ADS_1
Arya semakin panik, karena oksigen yang dia hidup semakin berkurang. Namun belum juga masalah anaknya selesai, tiba-tiba lift yang tadinya diam berhenti di lantai 17, kembali merosot begitu cepat hingga membuat Arya panik.
"Kak, peluk erat anak kita!"
Arya pun memeluk anaknya itu, dan juga memeluk Dira. Arya merasa mungkin ini akhir dari segalanya. Mereka akan pergi bersama-sama, dan meninggalkan kedua anak mereka.
Sedangkan Sintal mulai panik juga, tapi dia hanya bisa berteriak karena Arya mulai tak merespon Sintal. Dira dan Arya akhirnya saling bertatap muka, mereka juga langsung tersenyum konyol.
"Sepertinya kita akan mati di sini, Dira. Apakah kamu mau pergi bersamaku, dan anak kita?" Dira tersenyum dan juga menangis..
"Mungkin jalan kita seperti ini, Kak. Aku akan ikut kemanapun, dan aku akan selalu jadi Dira Nya Arya. Tapi sebelum semua ini berakhir, aku ingin minta maaf. Jika aku pernah menyakiti hati kakak, maaf bisa jadi istri yang sempurna," balas Dira sambil menciumi tangan Arya.
"Aku juga minta maaf, belum pernah memberikan kebahagiaan. Aku selalu menyusahkan kamu, tapi sekarang kita akan bahagia. Karena kita akan pergi bersama-sama. Apakah kamu siap, pergi bersamaku Dira Larasati?"
"Iya aku siap, Kak."
Mereka pun saling berpelukan, dan melindungi bayi mereka. Tak lama setelah itu, bunyi dentuman yang sangat keras pun terdengar. Lift yang mereka naiki, akhirnya meluncur ke bawah hingga menimbulkan suara yang sangat keras dan goncangan yang sangat dasyat.
Darah merah mengalir di mana-mana, dan mereka masih saling berpelukan di saat semua sudah berakhir.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading.
Aku mau kabur, takut di teror 🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️