
Arya pun mulai menggerakkan miliknya, perlahan tapi pasti yang terpenting Dira merasakan nyaman. Arya menggoyang kan pinggulnya, hingga dia merasakan keenakan saat lubang surga Dira mencengkram sangat erat.
Bahkan lubang surga itu terus berkedut-kedut, saat Arya memompa lebih cepat. Paduan suara yang sangat nikmat, dan sangat merdu. Berbenturnya dua alat vi"tal itu, menciptakan suara yang sangat indah.
Ceplok Ceplok Ceplok Ceplok itulah bunyi dari kulit yang saling berbenturan, keringat dingin yang sangat menggairahkan mulai bercucuran. Bak mandi keringat, itu yang dirasakan mereka berdua.
Rasa sakit yang dirasakan Dira pun mulai hilang, dia mulai bisa memimpin percintaan yang mereka lakukan. Dira duduk di pangkuan Arya, dan mulai meliuk-liuk kan badannya saat Arya menuntun Dira agar bergerak.
"Kamu sangat nikmat, Sayang," ucap Arya di sela-sela kenikmatan yang tiada tara. Bahkan kini Arya, mulai mere*mas kedua gunung kembar yang bergerak kesana-kemari akibat Dira yang selalu bergerak.
Di kecup lembut puncak gunung kembar Dira, dan Arya juga memainkan daging kismis itu dengan sapuan kecil dari lidah Arya. Mungkin sejak tadi, Arya makin juga memainkan benda kecil nan kenyal itu. Di gigit gigit, dan di hi*sap karena gemas.
Bahkan Arya terlihat seperti seorang bayi yang sedang kehausan, dan ingin meminum habis susu vanilla yang ada di dalam sana. Tak lupa juga, Arya sedikit membantu Dira bergerak.
Di peluk sangat erat tubuh Dira, tanpa melepaskan puti*ng susu Dira. Arya terus memompa dengan posisi, seperti Bayi menyu*su.
"Ahhh... Kak, aku mau keluar!" teriak Dira saat akan mencapai puncak nirwana. Arya pun semakin mempercepat gerakannya, begitu juga Dira. Dira semakin menggila, karena akan mencapai puncak.
Dan tak beberapa menit, Dira menumpahkan seluruh lahar yang dia miliki. Tubuh Dira gemetar sangat kencang, saat pelepasannya sampai. Bahkan Dira sampai menggigit punggung Arya, karena tak bisa menahan tendang dasyat yang baru saja dia alami.
Sedangkan Arya memejamkan matanya, sambil menikmati ****** ***** yang keluar dari miliknya. Arya meresapi rasa yang begitu nikmat, dan kedutaan yang amat luar biasa.
"Terima kasih." Dira hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu mereka kembali merebahkan tubuh mereka, dan mengatur napas Masing-masing.
****
Delapan jam kemudian.
"Kak, aku capek," ucap Dira dengan nafas yang sangat ngos-ngosan. Delapan jam sudah mereka melakukan hubungan yang sangat panjang, bahkan Dira sampai merasa capek dan tak bertenaga.
"Sebentar Sayang, ini belum sampai," balas Arya sambil terus memompa. Bahkan mereka sekerang melakukan gaya, menungging.
"Tapi capek, kak. Aku juga lapar, Kakak selalu bilang belum sampai terus. Kakak sudah sampai udah lima kali dan ini yang ke enam! Pokoknya berhenti, Dira lapar," rengek Dira yang membuat Arya iba, dan langsung mencabut lele beruratnya dengan helaan nafas panjang.
"Maaf." Setelah itu Arya langsung pergi meninggalkan Dira, dan masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Dira merasa sangat bersalah, karena menyakiti hati Arya. Karena merasa bersalah, akhirnya Dira mengikuti Arya kekamar mandi dan langsung memeluk Arya dari belakang.
__ADS_1
"Kamu kok masuk juga sih, Sayang?" tanya Arya sambil mengambil si LERVEA. Bukannya menjawab, Dira langsung mengambil sabun kesayangan Arya dan membuangnya ke sembarang tempat.
"Aku mau bantu Kakak, jangan keseringan pakek si LERVEA. Aku cemburu tau, apa gunanya aku jika kakak masih pakai dia. Sini biar Dira bantu," ucap Dira sambil tersenyum. Sedangkan Arya langsung mengecup lebut bibir Dira, dan mengeratkan pelukan Dira.
"Katanya kamu lapar? Mending kamu mandi saja, dan setelah itu makan. Aku juga gak mau kamu sakit," balas Arya sambil memeluk tubuh polos Dira.
"Entah kenapa rasa lapar ku hilang, saat melihat Kakak sedih," balas Dira sangat manja.
"Ini semua salah kakakmu itu, jika dia tak menaruh obat, pasti si unyil akan cepat tidur," ucap Arya sambil menyelipkan rambut Dira.
"Nanti aku marahi, kak Sintal. Sekarang ayo tidurkan si unyil, dan kita kembali keranjang. Gak mungkin kan kita melanjutkan ronde ke enam, di dalam kamar mandi."
****
"Tia belum bangun juga, Tal?" tanya dewi karena belum juga melihat Dira, juga Arya keluar. Sampai makan siang pun mereka tak kunjung keluar dari kamar, padahal Angga dan Sintal sengaja ambil cuti agar bisa makan bersama-sama.
"Mungkin masih ena-ena. Kan kemarin malam Sintal gak sengaja kasih obat kuat buat Arya, tapi sayangnya dia di suruh tidur diluar oleh Dira," ucap Sintal yang membuat Dewi syok.
"Tapi Mama tenang saja, tadi pagi aku melihat mereka masuk kekamar bersama-sama. Mungkin sekarang lagi nyicil ponakan, buat Sin..."
Belum selesai Sintal berbicara, tapi sebuah tamparan pun langsung melayang. Siapa lagi jika bukan Dewi, yang menampar lengan Sintal.
"Kamu itu waras atau enggak sih, seneng banget godain adik iparmu! Andai Dira masih ngambek, apa gak tersiksa itu Arya," ucap Dewi sangat kesal. Sedangkan Sintal hanya bisa cengar-cengir, dan meminta maaf.
"Maaf, Ma," jawab Sintal.
"Sudah lupakan itu. Papa mau tanya keadaan, Fani. Apa dia baik-baik saja, apa calon cucu, Papa dan Mama sehat?" tanya Angga yang berusaha mengalingkan pembicaraan.
"Sehat dong. Kan setiap hari Sintal selalu kasih Fani suntikan ber vitamin, sampai berulang-ulang." Seketika piring terbang pun melayang di kepala Sintal. Siapa lagi jika bukan Dewi pelakunya, dia merasa kesal dengan anak pertamanya itu. Selalu bersifat konyol, dan tak masuk akal.
"Jangan macam-macam kamu! Kalian belum nikah, jika sampai aneh-aneh, Mama akan bunuh kamu," ucap Dewi dengan kesal.
"Kita akan menikah sebentar lagi, Ma," balas Sintal dengan cemberut.
"Masih bentar kan? Dan belum resmi, jadi sampai Mama lihat kamu Pegang-pegang area terlarang... Kamu akan tau akibatnya." Ancam Dewi sambil tersenyum devil.
__ADS_1
"Iya!" jawab Sintal sangat keras. Namun tak lama kemudian, Arya dan Dira turun dari atas. Bahkan mereka terlihat sangat rapih. Sedangkan Sintal yang melihat dia sejoli itu, langsung ingin menggoda mereka habis-habisan.
"Cie habis berapa ronde neng? Sampai lupa jam. Aku lihat tadi kalian masuk kamar jam limaan dan keluar jam dua belas. Wih... Gak kebayang berapa ronde tu?" ejek Sintal sangat semangat.
Sedangkan Arya langsung menghampiri Sintal, dan meninju wajah Sintal. Arya sangat kesal dengan kakak iparnya itu, gara-gara dia burung perkutut nya tak bisa tidur dari semalam.
"Sialan... Ngapain pukul orang tanpa sebab, aku ini kakak iparmu Arya!" jelas Sintal sambil menghapus bekas darah di ujung bibirnya.
"Seharusnya langsung kubunuh saja! Bisa-bisanya kamu masukin obat gak jelas ke minumanku, hingga membuat aku gelisah dan jantung berdebar-debar," ucap Arya sangat kesal. Arya tak berbohong, memang semalam di merasakan gelisah dan jantung berdebar-debar sangat kencang.
"Ya maaf, tapi kan akhirnya kalian keenakan," ucap Sintal sambil tertawa.
"Sintal! Mana harga dirimu sebagai dokter, kenapa etitutmu hilang musna tertelan bumi?" tanya Angga sangat kesal.
"Sintal itu hanya ingin mendorong Dira agar melayani suaminya, coba deh kalau Sintal gak gerak cepat. Dira gak akan mau layani Arya, karena masih sibuk dengan ngambeknya," ucap Sintal santai.
"Tapi gak gitu juga, dodol!" celetuk Arya yang belum bisa menahan emosinya.
"Tapi akun sedikit penasaran, Arya. Aku mau tanya, gimana rasanya 'JANDA RASA PERAWAN' Arya?"
Seketika Dira langsung melotot, bagaimana tidak melotot. Jika rahasia yang dia jaga selama ini, di ketahui oleh orang lain.
"Kakak tau dari mana, kalau Dira JANDA RASA PERAWAN?" tanya Dira dengan tatap tajam.
"Dari surat yang di buat untukmu dari Vano. Waktu aku mengambil bajumu empat bulan lalu, tak sengaja aku menemukan selembar surat dan aku membacanya," jawab Sintal sangat enteng. Sedangkan Dira semakin kesal, dengan ulah kakaknya itu.
"Gak sopan banget kamu, Kak! Aku benci banget sama kamu, ingat aku gak akan maafin Kakak!" teriak Dira sambil memukul-mukul Sintal. Sedangkan Sintal hanya tertawa puas, bisa mengerjai dua orang sekaligus.
"Ini adalah hiburan yang sangat, menarik."
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading