
"Kak ayo kita panggil dokter Sintal. Dira takut mama kenapa-napa, Kak. Kalau gitu aku mau ambil ponsel dulu sebentar," ucap Dira sangat panik.
Seketika wajah berbinar Arya langsung luntur, ketika Dira lebih khawatir dengan Dinda daripada dia. Dia yang selama seminggu mencarinya kemana-mana, hingga lupa makan dan bersikap seperti setan pada karyawan di kantor. Tapi balasannya adalah seperti ini.
"Kamu lebih khawatir dengan, Mama?" Tanpa tunggu lama Dira langsung menoleh ke arah Arya, saat mendengar ucapan ambigu Arya.
"Pertanyaan macam apa itu? Jelas Dira khawatir, kan mama minum obat tidur yang Dira sengaja kasih untuk Kakak. Iya kalau Mama tahan, kalau gak terus terjadi apa-apa gimana?" jawab Dira dengan nada kesal.
"Oke fix... Kamu gak khawatir dengan keadaan aku selama seminggu ini, ya sudah pergi sana lihat Mama dan jangan pernah datang ke kamarku lagi!" balas Arya yang merajuk dan setelah itu, Arya langsung merebahkan tubuhnya. Dan menarik selimut, untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Kak bukan seperti gitu. Dira khawatir sama keadaan Kakak, tapi Mama lebih bahaya. Kita panggil dokter Sintal, sebentar saja ya?" ucap Dira dengan perasaan bersalah. Kini Dira sangat dilema, dengan ucapan Arya. Tapi tak bisa di pungkiri, Dira sangat khawatir dengan Dinda.
"Iya gak apa-apa panggil saja si buntal itu, nanti kalau Mama sudah bangun cepat sembunyi lagi. Oh ya karena kamu sudah ketemu, jadi aku akan menyuruh Seto berhenti cari kamu dan aku bisa bebas dari rasa penasaran," ucap Arya di balik selimut.
"Kak.."
"Sepertinya aku butuh hiburan. Aku mau ke tempat Fani saja, aku butuh asupan gizi karena selama seminggu aku di anggurin. Aku akan minta Fani memenuhi gizi ku selama kamu gak bisa!" Dira pun langsung melotot saat mendengar ucapan Arya, sungguh ini di luar prediksi Dira.
Karena tak mendapatkan jawaban dari Dira, Arya langsung membuka selimut dan beranjak pergi. Ingat hati Arya melihat Dira menahannya, namun yang Arya dapati. Dira hanya diam saja.
Ayo Dira, hentikan aku. Apa kamu gak cemburu? Apa kamu rela aku pergi ke Fani, ayolah aku muak ini. Aku hanya ingin kamu peka, ayooo! gumam Arya dalam hati.
Kini Arya mulai resa dan pasrah, apalagi saat dia sudah sampai di ambang pintu. Dira tak kunjung memanggilnya, pupus sudah harapan Arya. Perlahan-lahan Arya membuka pintu, hingga hitungan detik barulah Dira menghentikan langkah Arya.
"TUNGGU...!" teriak Dira sangat kencang. Bahkan sampai menggelegar di kamar Arya, takut? Jelas Arya takut tapi dia juga bahagia.
"Yes! Akhirnya, Dira kau kenapa baru peka," ucap lirih Arya yang hanya bisa di dengan author dan Arya sendiri.
"Apa lagi?" Arya pura-pura marah.
"Kakak kok tega banget sih sama Dira? Padahal ini mama kamu loh kak, cuma gara-gara aku khawatir dengan keadaan mama kamu seenaknya akan main-main dengan wanita lain. Pakek acara ngomong segala, kalau memang niat gak perlu bilang langsung lakuin saja!" Kini mata Dira mulai berkaca-kaca. Sialnya Arya sama sekali tak bisa melihat Dira menangis, atau sampai berkaca-kaca.
Di dekati wanita yang sangat dia rindukan itu, dan secepatnya langsung di peluk. Namun Dira terlanjur marah, dia gak mau di sentuh Arya.
__ADS_1
"Kakak tadi hanya bercanda, Sayang," ucap Arya. Namun Dira langsung menggeleng sangat cepat, karena tak percaya.
"Gak ada bercanda-candaan, tau gak! Seharusnya gak usah bilang kurang gizi, bilang saja kalau kakak memang masih suka sama kak Fani. Aku sadar sih, memang aku orang kedua dalam hubungan kalian. Jadi maaf kalau Dira membuat kalian berpisah," ucap Dira dengan air mata yang berlinang. Hatinya sangat sakit, mendengar ucapan Arya barusan.
Jantungnya seakan berhenti, dan tak bisa menerima ataupun mendengar ucapan Arya barusan. Dira terlanjur mencintai Arya, dan dia tak bisa membayangkan jika dirinya berpisah dengan Arya.
"Astaghfirullah, Dira. Gak ada yang nyebut kamu orang kedua, aku dan Fani memang berpisah murni karena aku sudah tak bisa menjalani hubungan lagi dengan dia. Jadi bukan karena, kamu Sayang." Arya pun ingin meraih tubuh Dira, namun lagi-lagi Dira menghindar. (sukurin salahnya sendiri jahilin Dira)
"Sumpah Dira, Kakak bercanda tadi," ucap Arya memohon. Arya benar-benar takut Dira marah beneran, dan memilih menjauh darinya.
"Bohong!" Teriak Dira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kakak gak, bohong!" Arya semakin frustasi, saat Dira tak percaya dengannya. Dengan susah payah, Arya membujuk Dira agar luluh.
"Baiklah... Apa yang membuatmu bisa percaya dengan Kakak, kamu ingin kakak gimana?" tanya Arya yang putus asa.
"Loncat dari atas rumah, apakah mau?" jawab Dira asal-asalan.
"Apa!" Teriak Arya yang terkejut.
"Gak mau? Berati Kakak bohong?" Lagi-lagi Dira memasang wajah imut, dan Arya menjadi hilang akal.
"Baik! Jika itu mau kamu, ayo ikut kakak, biar kamu saksikan langsung dan biar kamu percaya kalau kakak gak bohong!" Arya pun menarik tangan Dira, dan menuju atas loteng. Setelah sampai disana Arya langsung memosisikan dirinya di pinggir loteng, dan setelah itu melihat kebawah. Sungguh berdenyut tapi, dia tepis semua itu.
"Kamu lihat keseriusan kakak sama kamu. Tapi sebelum kakak loncat, kakak mau kamu tau satu hal. Aku sangat mencintaimu Dira, entah sejak kapan. Tapi yang aku tau, aku marah saat Pras mendekatimu, aku merasa gelisah saat tak melihat wajahmu, aku merasa kehilangan saat tak melihat kamu, dan aku merasa nyaman di dekat kamu," ucap Arya mengungkapkan semua isi hatinya.
Arya berpikir ini adalah akhir hidupnya, jadi sebelum terlambat dia akan jujur dengan perasaannya selama ini yang dia pendam.
"Ngapain bicara seperti itu, segala? Itu gak guna tau, Kak!" Ledek Dira. Padahal dia sangat suka mendengar pengakuan Arya, ini yang Dira mau. Arya jujur akan hatinya.
"Jangan rusak suasana dulu bisa gak sih! Aku hanya ingin berkata sebelum aku pergi, dan aku tak mau membawa isi hatiku pergi sebelum mengungkapkan semuanya," ucap Arya sangat jengkel. Jujur saja, kata-kata manis yang akan dia ucapkan tiba-tiba hilang saat Dira langsung nyamber begitu saja.
"Oke maaf, silahkan dilanjut," jawab Dira dengan nada datar. Padahal di hatinya sangat ingin tertawa melihat kebodohan Arya.
__ADS_1
"Baik aku bicara lagi, dan kamu harus dengarkan." Arya pun bernapas sejenak.
"Dira aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Memang aku gila, tapi aku gilanya karena kamu dan untuk Fani. Sungguh aku sudah tak ada rasa sama dia, aku telah jatuh dalam pesonamu DIRA LARASATI!Selamat tinggal Dira, semoga kamu bahagia dan bisa menemukan pendamping yang lebih baik daripada aku." Arya pun membalikan tubuhnya dan bersiap akan terjun bebas. Harapannya sudah pupus, jika melakukan ini Dira akan percaya. Maka Arya akan lakukan itu.
Perlahan-lahan Arya menghitung mundur, dan berharap suatu keajaiban. Jantungnya sangat berdebar, karena takut ketinggian. Sakit gak nantinya dia jatuh, atau langsung meninggal atau sakaratul maud dulu. Hanya itu yang di pikiran Arya saat ini.
"Satu...." Arya mulai menghitung
"Dua...." Hitungan ke dua mulai terdengar.
"Ti..."
"Aku juga sangat-sangat mencintaimu, Kak. Entah sejak kapan aku juga gak tau, tapi aku selalu galau saat jauh dari Kakak, merasa gelisah saat Kakak dekat dengan kak Fani, bayangan Kakak juga selalu berputar-putar di kepala Dira. Sebenarnya aku sengaja bilang begitu agar Kakak jujur dengan perasaan kakak
Karena aku gak mau menikah dengan orang yang tak memiliki rasa padaku, dan syukur kalau Kakak bilang begini," ucap Dira sangat panjang seperti kereta. Dan setelah itu, Dira langsung memeluk Arya dari belakang. Bahkan sangat erat, agar Arya tak jatuh.
Sial aku di tipu oleh Dira. Tapi ini juga menguntungkan bagiku, karena aku bisa tau isi hati Dira yang sebenarnya. Ternyata kita sama-sama saling suka, tapi tak berani berkata. gunam Arya dalam hati.
Dengan rasa yang sangat bahagia, Arya langsung membalikkan tubuhnya dan melu*mat bibir sexy yang sangat dia rindukan seminggu ini. Lidah Arya langsung melesak masuk kedalam, dan tak meninggalkan cela sedikitpun.
Arya langsung mengobrak-abrik isi mulut Dira, lidah yang saling berbelit, saling bertukar saliva, dan tak memperdulikan dinginnya udara malam ini. Mereka menyempurnakan kerinduan yang selama ini mereka pendam.
"Stop dulu, kak! Ayo kita panggil dokter Sintal, sebelum terjadi apa-apa sama Mama!" Arya hanya mengangguk mendengar ucapan Dira, dengan langkah bahagia mereka turun dari atas loteng dan memanggil dokter pribadi mereka.
Ya itu dokter buntal atau Aleksander Sintalno Bramastya.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1
Jangan ada yang tanya masalah Sintal, karena ini kan ada perubahan alur di Naik Ranjang. jadi aku harus tepatin kata dulu, di sini berubah di waktu dan bulan. Jadi aku rumah dulu, nanti Sintal aku revisi.