
"Sungguh kalian tega banget sama aku, kalian buat kesepakatan tanpa bilang-bilang sama aku. Kalian maunya apa sih, jangan kira Alisya bukan anak kandungmu, jadi kamu seenaknya dengan nasip dia!" bentak Lisma sangat kesal. Namun Alisya langsung menjawab ucapan mamanya tersebut.
"Ma, sebenarnya Papa sudah bantu Alisya. Mama tau kan, Alisya sangat mencintai Ardi dan aku juga gak ingat meneruskan pernikahan ini. Tapi, karena bantuan Raya, aku gak jadi membuat siasat agar pernikahan ini berlangsung. Sungguh aku sangat berterima kasih dengan Raya," ucap Alisya sambil memegang tangan Lisam.
Lisma langsung menangis mendengar ucapan Alisya. Lisma seakan lupa, jika Alisya hanya mencintai Ardi. Bahkan sampai kapanpun, Alisya akan tetap memilih Ardi walaupun Ardi sekarang sedang ngambek sama dirinya.
"Maafkan, Mama. Mama lupa jika kamu sangat mencintai Ardi, hanya saja Mama kesal, karena Papamu ini gak mau jujur dari awal. Coba saja, jika dia jujur, gak akan seperti ini akhirnya," ucap Lisma sambil memeluk Alisya.
"Sudah, Mama jangan nangis terus. Malu di lihat banyak orang, sekarang Alisya mau bertemu Ardi. Jika Ardi masih marah dengan Alisya, maka Alisya akan melanjutkan pendidikan di Jerman saja," ucap Alisya sambil memegang tangan Lisma.
"Baiklah jika itu yang kamu mau, asalkan kamu ingat satu hal. Jaga diri baik-baik, jangan terlalu mengikuti pergaulan bebas, karena Mama akan sangat marah jika kamu sampai ikut-ikutan orang sana," ucap Lisma sangat lembut.
Mereka pun akhirnya menyelesaikan masalah dengan makan-makan bersama. Sedangkan Raya, dan Mahen masih sibuk berantem di dalam kamar Alisya.
Mereka seakan seperti Tom And Jary, gak ada hari tanpa berantem. Ada saja alasan untuk mereka berantem, entah masalah terlalu dekat atau terlalu jauh.
"Sana gak! Deket-deket aku bantai kamu, sudah aku jelaskan dari awal. Jika pernikahan ini terpaksa, jadi jangan pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Ancam Raya sambil menunjuk ke arah Mahen.
"Galak banget, Bu. Aku masih ingat kok, tapi peluk istri sendiri masa gak boleh." Dengan cepat Mahen memeluk Raya, hingga membuat Raya berteriak karena takut.
__ADS_1
Karena Mahen gak mendengarkan Raya, tanpa sadar Raya mengambil Vas bunga dan memukulkan Vas itu tepat di kepala Mahen.
Pyarr...
Seketika Raya langsung meloto, saat Mahen melepaskan pelukannya. Raya menutup mulutnya, saat melihat ada darah yang keluar dari pelipis Mahen.
"Astaga, Mahen!"
"Gak apa-apa, aku baik-baik saja." Mahen masih belum sadar akan darah di pelipis nya, namun saat dia merasa ada yang mengalir tanpa tunggu lama tangannya langsung mengusap sesuatu.
"Da—darah!"
"Mahen!"
***
"Van, kamu mau kemana?" tanya Alena saat melihat Vano akan pergi.
"Aku mau pergi dulu, lagian pernikahannya gak jadi kan?" balasnya sambil melihat kanan kiri.
__ADS_1
"Kenapa pergi, padahal kita belum juga makan. Ayolah, kota makan dulu." Alena pun langsung menarik tangan Vano.
Tapi belum juga mereka masuk ke ruang makan, Vano mendengar teriakan Raya yang sangat ketakutan.
"Mommy-Daddy tolong Mahen, cepat kesini!" teriak Raya sangat mencang.
"Ale kenapa kak Raya berteriak, ayo kita lihat dia." Alena hanya menganggukkan Kepala, dan langsung berlari ke kamar Alisya. Mereka sangat terkejut saat melihat keadaan Mahen, yang bersimbah darah di kepalanya.
Sedangkan Raya dia hanya menangis sambil memangku kepala Mahen. Raya benar-benar merasa bersalah, karena dia Mahen jadi seperti ini.
"Tolong, Mahen."
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1