
Jam sudah menunjukkan pukul 10:30. Tapi, kak Arya belum juga terlihat. Kemana orang ini, apa dia kembali ke Jakarta? Tapi kenapa gak berpamitan? Apa dia marah sama aku, atau dia hanya main-main dengan ucapannya kemarin?
"Bisa pecah ini kepala! Lagian kemana sih kak Arya ini? Aku mau menghubungi, tapi gak punya nomor telepon kak Arya," gerutuku sambil mondar-mandir di depan rumah. Namun tak lama setelah itu, aku melihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah kontrakan kak Arya.
"Siapa itu?"
Akupun mendekat agar bisa melihat siapa orang itu. Namun betapa terkejutnya aku, saat melihat orang yang keluar dari mobil itu. Dia adalah kak Arya, wih enak sekali dia habis jalan-jalan sedangkan pintu kamarku saja masih berantakan.
"Kamu kok diluar, Dira?" tanya kak Arya sambil mendekati aku.
"Memangnya aku gak boleh keluar, kak? Kakak darimana, bukannya tadi aku suruh betulkan pintu?" tanyaku sambil menelisik. Agar tuan Arya sadar, jika aku sedang marah.
"Dan satu lagi! Itu mobil siapa? Enak ya habis jalan-jalan, keliling kota Malang?" tanya ku sekali lagi. Sungguh aku lagi menahan emosi ini, karena melihat mimik muka dia yang sok polos. Ya Allah maafkan aku jika menaruh dendam, dengan calon suamiku ini.
Ehh... Kok aku mengakuinya sebagai calon suami sih, aduh jika kak Arya tau pasti aku akan di tertawakan. Pokoknya jangan sampai mulut ini kelepasan, dan membuat kamu malu Dira. Ingat suamimu baru saja meninggal, masa kamu lupa secepat itu.
"Aku akan jawab satu persatu, pertanyaan yang kamu berikan. Sebenarnya saat aku mau memperbaiki pintu, aku tak menemukan alat. Jadi, aku pergi keluar mencari Toko bangunan. Tapi, aku gak tau jika Toko bangunan itu bukannya lebih dari jam sepuluh dan akhirnya aku menunggu sampai tokonya buka. Terus masalah mobil ini. Aku sengaja menyewa nya tadi, saat aku cari perlengkapan tukang."
Doeng...
Aku telah salah paham, dan aku sudah su'udzon sama kak Arya. Ya Allah betapa kejamnya aku ini, dan sempat-sempat nya aku berfikir jika kak Arya berpikir jika kak Arya lagi bersenang-senang.
"Ya Allah Kak! Maafkan Dira yang sempat berburuk sangka, sungguh Dira menyesal. Sekarang ayo masuk, pasti Kakak lapar karena belum sarapan dari pagi," ucapku meminta maaf.
"Iya, aku sudah sangat lapar. Kamu masak apa? Aku sepertinya ingin makan ayam rica-rica buatanmu, dan sambal goreng yang selalu kamu buat di rumah."
Akupun tersenyum lembut. Memang itu yang aku masak hari ini, dan itu khusus kak Arya. Namun aku gak tau jika dia sangat menginginkan menu itu saat ini. Rasanya sangat bahagia, saat kak Arya menyukai makanan yang aku buat.
"Kebetulan Dira masak itu, Kak. Jadi ayo masuk, Dira siapkan semuanya." Akupun langsung menarik tanggan kak Arya, dan menyuruhnya duduk di ruang makan.
__ADS_1
Setelah itu aku mengambil piring dan ku isi dengan lauk pauk. Ku taruh sepiring nasi di hadapan kak Arya, tak lupa dengan susu hangat yang di tambah jahe agar menghangatkan tubuh kak Arya.
"Terima kasih, Dira." Aku hanya menganggukkan kepala, tanda mengiyakan. Ku lihat kak Arya begitu lahap memakan masakanku, dan tanpa minum.
Seketika aku ingin waktu kita masih bersama. Disaat Vano masih ada, dan menemani hidupku yang selalu hampa. Keluarga Vano lah yang bisa membuat aku bahagia, dan membuat aku merasakan indahnya berkumpul dengan keluarga.
"Kamu gak makan?" Aku langsung tersentak saat kak Arya tiba-tiba berbicara.
"Aku sudah makan tadi, Kak. Ini khusus buat Kakak saja, jadi habiskan. Setelah itu benerkan pintunya, jangan kira aku sudah lupa ya!" candaku sambil tertawa. Sedangkan Kak Arya langsung tersedak saat aku berkata seperti itu.
Uhukk Uhukk
"Kak! Pelan-pelan kalau makan, aku gak akan ambil jatah kakak kok. Jadi gak perlu terburu-buru, aku gak mau Kakak tersedak lagi," ucapku sangat khawatir.
"Maaf, ini terlalu enak."
****
"Ini gimana, ya?" gerutu Arya sambil membolak-balikan engsel yang dia pegang.
Ini kalau sampai Dira tau aku tak bisa membetulkan pintu, bisa jatuh harga diri seorang Arya Wiguna. Seorang lelaki tampan dan gagah, gak bisa membetulkan pintu yang rusak. Aahhh hancur semua.
"Kak." Arya langsung terjingkat saat Dira menepuk pundaknya. Dira yang sadar membuat kesalahan langsung merasakan sedih.
"Maaf, aku kira Kakak gak melamun." Arya yang melihat Dira sedih langsung mendekati Dira, dan memeluknya.
"Gak perlu sedih, tadi Kakak hanya terkejut sedikit," balas Arya sambil memeluk erat Dira. Sedangkan Dira yang merasa canggung langsung mendorong tubuh Arya, dan sedikit menjauh.
"Belum, muhrim!" Ucapan Dira pun membuat Arya sadar dan langsung meminta maaf.
__ADS_1
"Maaf, aku hilaf," balas Arya sambil mengambil palu yang sempat dia lepas, karena kaget tadi.
Hilaf kok terus-terusan. Heran deh sama kak Arya, apa jika sama kak Fani selalu begini ya?
Dan hati Dira pun menjadi gunda. Entah kenapa saat membayangkan, Arya dan Fani bermesraan membuat dia kesal, dan marah.
"Auuwww," pekik Arya sambil mengibas-ibaskan tangannya ke udara.
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Dira dengan khawatir.
"Gak apa-apa. Ini hanya terkena ketukan palu, nanti sembuh sendiri kok. Ya sudah aku mau lanjut memperbaiki ini, nanti gak selesai-selesai kalau di tunda. Lagian ini sudah sore, nanti gak keburu kerumah pak Ustadz," jawab Arya sambil memaksa meneruskan semuanya.
"Sudah gak usah di teruskan! Dira tau Kakak gak bisa benerin pintu, jadi gak perlu sok-sokan lagi. Percuma di lanjut, nanti makin lama. Lebih baik aku panggil pak Udin, buat benerin ini semua," ucap Dira panjang lebar. Dan ini yang disuka Arya dari Dira, yaitu Kebawelannya yang sangat dasyat itu.
"Kakak bisa kok." Dira pun langsung menatap tajam Arya.
"Kalau gak menurut! Kita gak jadi ke rumah pak Ustadz Zakir, dan kita juga gak akan pernah bisa menikah!" Lagi-lagi ancaman itu yang keluar dari mulut Dira.
"Bisa gak sih, gak perlu ancam mengancam gitu. Kamu makin hari, makin bawel tau gak!" balas Arya dengan kesal. Setelah itu, Arya langsung mengemasi peralatan yang dia beli tadi dan langsung pergi meninggalkan rumah Dira.
"Ha? Apa aku salah bicara lagi? Kalau iya, mati aku. Aku pasti menyinggung perasaan kak Arya lagi," gerutu Dira. Setelah itu Dira mengikuti Arya yang pergi meninggalkan rumahnya, dan Dira akan meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat dengan sengaja maupun tak disengaja.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1