
Di suasana mendung yang masih menerangi kota jakarta, Vano tetap melakukan tugasnya untuk menjemput Alena. Semarah apapun Vano, dia gak akan pernah tega mendiami Alena terlalu lama.
Seperti saat ini, Vano masih menunggu Alena keluar dari kamarnya. Sudah satu jam lebih Vano menunggu Alena, tapi dia masih saja belum keluar dengan alasan masih berdandan dan Vano di suruh meninggalkan dia.
"Van, sepertinya Alena gak mau di ganggu dulu. Lebih baik kamu berangkat saja, biarkan Alena sama Om," ucap Seto sambil menepuk pundak Vano.
Sedangkan Vano langsung menatap lelah pada Seto. Andai saja Seto tau, mereka memiliki hubungan, dan saat ini Vano sangat khawatir dengan keadaan Alena.
Sudah dua hari ini Alena gak mau bertemu dengan Vano. Bahkan telepon pun selalu di tolak, saat Vano berusaha menghubungi Alena. Serasa dunia ini akan runtuh seketika, ketika melihat Alena diam. Vano lebih suka Alena yang cerewet. Bukan seperti ini, yang selalu diam tak mau bicara.
"Om, bolehkah aku menemuinya. Sebentar saja, karena ini sangat penting," ucap Vano sangat frustasi.
Vano berpikir hanya ini jalan satu-satunya, untuk berbicara dengan Alena. Jika rencana ini gagal, maka Vano akan menunggu Alena sampai kapanpun.
"Baiklah, sepertinya dia sangat menyesal. Maafkan anak Om, karena dia selalu merepotkanmu. Kalau gitu, Om berangkat kerja dulu. Di sana ada tantemu, kalau butuh apa-apa kamu minta saja sama tante," balas Seto.
Vano hanya membalas dengan senyuman saja. Dengan sangat cepat Vano menaiki tangga, dan menuju kamar Alena. Saat sampai di depan kamar, Vano langsung mengetuk pintu itu.
Tok ... tok ... tok ....
Tiga kali sudah Vano mengetuk pintu. Tapi sayangnya Alena gak membuka pintu itu, hingga Vano kembali mengetuk pintu kamar Alena sekali lagi.
Tok ... tok ... tok ....
Cklek ....
"Apaan sih, Pa? Sudah ku bilang jang—"
Setelah Alena langsung terdiam saat melihat Vano. Alena kira tadi itu Seto, tapi gak taunya Vano lah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Vano!" Dengan cepat Alena menutup pintu kamarnya. Namun Alena kalah cepat dengan Vano, karena Vano mengganjal pintu dengan kakinya sendiri.
Alena juga tak perduli dengan erangan Vano, karena kakinya terjepit. Yang Alena mau hanya menutup pintu, dan tak mau bertemu Vano untuk saat ini.
__ADS_1
"Alena, dengarkan aku. Sekali saja kamu mengerti, jangan seperti ini Alena!" teriak Vano sambil berusaha menahan pintu itu. Tapi, Alena sama sekali gak menggubris Vano.
Alena tetap berusaha menutup pintu, tanpa memikirkan kaki Vano yang mulai terasa sakit. Vano terus berusaha mendorong pintu itu, hingga Alena kalah dan pintu langsung terbuka lebar.
Alena sangat takut melihat tatapan tajam Vano. Sedikit demi sedikit, Vano mendekati Alena dengan kaki pincang. Vano merasa kulit kakinya terkelupas, tapi dia gak perduli, karena di pikirannya sekarang hanya ada Alena.
"Ma ... maafkan aku, Vano." Alena berusaha dengan nada bergetar. Alena sangat takut, tapi semua ketakutan Alena langsung hilang saat Vano memeluknya sangat erat.
Alena terperangah melihat prilaku Vano. Alena sangat terkejut, karena tak seperti biasanya Vano seperti ini. Tiba-tiba memeluk, dan mengelus lembut rambutnya.
"Jangan seperti ini lagi, aku bisa gila jika kamu terus-menerus menghindari aku." Lagi-lagi Alena terperangah dengan ucapan Vano. Alena merasa ini bukanlah Vano, apalagi sampai mengatakan hal seperti itu.
"Maksudnya?" tanya Alena sangat takut. Tapi, bukannya jawaban yang Alena dapatkan. Malah sebuah ciuman hanya yang Alena rasakan, saat Vano menyapu lembut bibir Alena.
Alena termenung memikirkan apa yang sedang terjadi. Alena berpikir ini adalah mimpi, tapi perlakuan Vano membuat dia sadar ini bukan mimpi.
"Emmpphhh ...."
Vano semakin dalam menyecap bibir Alena. Vano benar-benar melupakan dia ada di mana, yang jelas Vano sangat merindukan Alena.
"Van, ini sudah kelewat batas," ucap Alena lirih saat Vano melepaskan ciumannya.
Vano pun tersenyum, dan menempelkan keningnya di kening Alena. Mereka saling tatap, bahkan saling tersenyum. Akhirnya mereka bertemu kembali setelah dua hari berpisah, karena masalah sepele.
Selalu saja seperti ini. Vano yang mengalah, demi mempertahankan hubungan mereka. Vano gak mau sampai hubungan mereka berakhir tanpa dasar, Vano sangat ingin mempertahankan hubungan mereka sampai tua nanti.
Hanya saja, Alena belum bisa mengerti keadaan Vano saat ini. Padahal Vano gak mau mengumbar hubungan mereka terlebih dahulu, sebelum dia sukses. Tapi, nyatanya Alena ingin semua orang tau kalau mereka menjalani hubungan.
"Maafkan aku. Aku tak bisa menahan rindu, apalagi dua hari ini aku gak mendengar celotehan mu," balas Vano sampai mengelus lembut pipi Alena.
Seketika Alena tersipu malu. Alena merasa Vano nya yang sangat lembut telah kembali, namun semua akan dingin lagi saat di hadapan orang lain.
"Sampai kapan kita tetap begini, Van? Aku capek, jika kita harus menjalani hubungan Backstreet. Aku ingin mereka tau, jika kita ini sepasang kekasih," ucap Alena sangat murung.
__ADS_1
Setelah berkata Alena langsung melepaskan pelukan Vano, dan memilih ke arah ranjang. Di sana Alena membaringkan tubuhnya, sambil menenggelamkan mukanya di balik bantal.
Sedangkan Vano langsung mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Vano bingung harus bagaimana cara membuat Alena mengerti, jika dirinya gak mungkin memublikasikan hubungan mereka itu.
"Alena, coba kamu mengerti sekali saja. Aku sering berkata padamu, bahkan berkali-kali. Jika aku ingin mengungkapkan semuanya saat kita menikah nanti, tapi untuk sekarang aku gak bisa." Vano membalas dengan nada sedikit kesal. Lagi-lagi masalah ini yang membuat mereka bertengkar. Tak ada yang lainnya, selalu saja ini masalahnya.
"Maka nikahi aku, Vano! Kita menikah saja, dan kita publikasikan hubungan ini."
Vano langsung tersenyum sinis, saat mendengar ucapan Alena. Entah mengapa ucapan Alena terlalu terburu-buru, dan di pikir karena emosi sesaat saja.
"Kenapa ketawa? Gak ada yang lucu di sini, aku juga serius dengan ucapanku!" Alena berkata sambil menatap tajam Vano.
"Kamu pikir nikah itu gampang, Alena? Kamu pikir nikah itu hanya karena ingin di publikasikan, dan mengumbar kemesraan? Kamu salah Alena, jika berpikiran seperti ini. Pernikahan itu bukan main-main, harus ada tabungan untuk kita hidup nanti, kita makan juga pakai nasi, dan perlu uang. Jika aku saja masih sekolah, terus kamu mau makan batu?" tanya Vano sedikit menohok. Vano benar-benar tak mengira Alena akan sedangkal ini, apalagi tanpa memikirkan segalanya.
"Papa sangat kaya. Papa punya perusahaan yang banyak, jadi kamu jangan khawatir akan makanan."
Gelak tawa Vano pun semakin kencang. Bahkan Vano sampai menatap sinis Alena, yang selalu mengandalkan orang tua demi menuntaskan masalah. Sungguh itu bukan sikap Vano, apalagi sampai mengandalkan orang tua.
"Kamu gila, Alena. Sudahlah, aku mau pergi saja. Sepertinya kamu harus introspeksi diri lagi, karena waktu dua hari tetap gak bisa membuat kamu berpikir jernih." Vano pun bergegas pergi, tapi tanpa di duga Alena langsung menarik tubuh Vano hingga mereka jatuh di atas ranjang.
"Aku mohon jangan, Pergi lagi."
.
.
.
Happy Reading
Alena 😱
__ADS_1