
Di tempat kejadian, Bayu terus mengecek mobil yang di kendarai orang tua Lessy. Dari depan, samping, dan belakang, Bayu terus mencari letak ke ganjalan itu.
Bayu menemukan kerusakan di bagian belakang, yang pasti itu menjadi petunjuk, sebelum orang tua Lessy kecelakaan, ada seseorang yang menabrak mobil ini dari belakang.
Terlihat sangat jelas, jika tabrakan yang di lakukan pelaku gak hanya satu kali. Mungkin lebih dari lima kali, hingga tubrukan yang ke enam, ayahnya Lessy kehilangan keseimbangan.
"Joko, kamu cari CCTV di dekat-dekat sini. Aku yakin ada CCTV di daerah sini, apalagi ini jalan Raya, pasti ada. Bahkan aku sangat yakin seratus persen, ada saksi mata. Hanya saja mereka takut untuk jujur," ucap Bayu sambil memakai kacamata hitamnya.
"Baik, Pak."
Joko pun akhirnya pergi meninggalkan Bayu. Joko berusaha mencari rumah warga sekitar, yang sengaja memakai CCTV untuk keamanan mereka.
Sedangkan Bayu, dia masih tetap melihat mobil Handoko. Namun saat dia mengecek mobil Handoko, tanpa sengaja Bayu melihat sebuah dompet di dekat olahraga TKP.
Karena merasa sangat penasaran, akhirnya Bayu mendekati Dompet itu. Tapi, sebelum mengambilnya, Bayu memakai sarung tangan agar sidik jari yang ada di dompet itu tidak hilang.
"Ck! Sangat ceroboh, pintar membunuh orang tapi gak bisa menjaga barang berharganya." Celetuk Bayu sambil memasukkan dompet itu ke dalam kantong plastik.
"Pak, saya sudah menemukan CCTV yang berhadapan langsung ke jalan Raya. Apakah kita langsung ke rumah orang itu, atau bagaimana?" tanya Joko dengan napas ngos-ngosan.
"Kita ke sana sekarang, semakin banyak bukti, maka kita akan menemukan pelakunya."
Joko hanya bisa mengangguk saja. Setelah itu mereka langsung menuju rumah yang ada CCTV nya tadi.
__ADS_1
***
"Nak, kamu mau makan apa? Biar Tante belikan kamu sesuatu, atau mau tante masakin sesuatu?" tanya Dira sangat perhatian pada Lessy.
Dira sangat bersyukur Lessy bisa sehat kembali seperti sedia kala. Walaupun Lessy lebih banyak diam, tapi Dira gak berhenti dari situ saja.
"Lessy gak lapar, Tante. Lessy masih kenyang, serius Lessy gak apa-apa," jawab Lessy dengan senyuman terpaksa.
"Kamu belum makan sama sekali, Nak. Oh ya, kamu jangan panggil Tante. Panggil saja, Mommy, Ibu, Bunda, apa aja senyamannya kamu. Tapi jangan Tante, karena sudah tak pantas di panggil Tante," ucap Dira sambil mengelus lembut pipi Lessy. Sedangkan Lessy langsung berkaca-kaca, karena Dira mau dirinya di panggil Ibu atau sejenisnya.
"Loh, kok nangis?"
Lessy pun langsung memeluk Dira, dan menangis sejadi-jadinya. Dira pun juga ikut menangis, entah kenapa dia sekarang menjadi gampang menangis, sejak melahirkan Arleta.
"Aku terharu, Tante. Aku kira setelah ibu pergi, aku gak akan memiliki keluarga lagi. Tapi, nyatanya Tante mau menerima aku ini." Jelas Lessy sangat terharu.
"Kamu sudah Mommy anggap sebagai anak. Jadi, kamu sekarang anak Mommy. Semenjak orang tuamu menitipkan kamu pada kami, mulai saat itu juga kamu jadi keluarga kami." Lagi-lagi Lessy gak bisa menahan air matanya.
Lessy sangat bangga bertemu dengan keluarga Dira, yang gak pernah memandang fisik, dan kekayaan seseorang. Jika Dira orang lain, mungkin Lessy gak akan di terima dengan muda seperti ini.
"Makasih, Mommy."
Mereka saling berpelukan lagi, dan menumpahkan isi hatinya. Mereka seperti sepasang anak dan ibu kandung, padahal mereka baru kenal, tapi sudah seakrab ini.
__ADS_1
"Ehem!" Deham Arya sambil melirik Vano. Mereka baru saja masuk kedalam ruangan, tapi mereka sudah melihat dua wanita itu menangis.
"Kak, apaan sih! Ganggu urusan orang saja, kamu gak bisa apa ngasih waktu untuk kita?" Protes Dira sambil menghapus air matanya.
"Maaf, bukannya mengganggu. Aku cuma mau bilang, kita harus pulang. Kamu tau kan, di rumah ada tahlilan untuk orang tua Lessy? Di rumah gak ada orang, Papa juga di bandung. Jadi biarkan Vano di sini, jagain Lessy." Jelas Arya sangat lembut.
Sedangkan Lessy langsung melotot mendengar ucapan Arya. Dia gak mau berdekatan dengan Vano, mungkin untuk sekarang, dia akan memilih menghindari Vano. Dia juga gak mau ada kesalahpahaman lagi dengan Alena, karena merasa Lessy merebut Vano.
"Aku bisa di sini sendirian, Om eh Daddy."
Arya yang mendengar Lessy memanggilnya Daddy, langsung melotot. Bahkan Arya menatap tajam Dira, dan Dira menjawab dengan senyuman.
Arya yang sudah paham, hanya tersenyum. Entah kenapa Arya merasa sangat bahagia, mendengar Lessy memanggilnya Daddy.
"Gak bisa, kamu harus dengan Vano. Kalau kamu menganggap aku sebagai Daddy mu, maka kamu harus nurut sama Daddy."
Lessy tak bisa menolak lagi, dia hanya bisa pasrah dan mengiyakan ucapan Arya. Toh, pikiran Lessy, sebentar lagi dia akan pergi.
"Baiklah."
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading