
Setelah memastikan data-data Lisma. Arya memutuskan untuk menemui Lisma, dan mengajaknya bicara serius. Arya ingin tau kenapa dia mau mendonorkan ginjalnya, sampai Lisma mau melakukan ini semua.
Walaupun Arya sudah mendengar langsung dari Seto, tapi Arya ingin berbicara langsung dengan Lisma. Dan di sinilah Arya sekarang, duduk di Cafe dekat rumahnya.
Arya daritadi menunggu Lisma bersama Seto. Sebenarnya Dira ingin ikut, tapi Baby-Twins tiba-tiba rewel, dan ingin mengajak Dira tidur-tiduran di kasur.
"Mana orangnya?" tanya Arya sedikit tak sabar.
"Sabar, mungkin masih di jalan. Jadi orang sabar sebentar, napa. Lisma juga butuh waktu untuk jalan kesini, gak langsung luncur-meluncur begitu saja." Seto membalas dengan sangat kesal.
"Oh, gitu. Baiklah kita tunggu dia, tapi jangan lama-lama karena aku gak mau Dira sendirian di rumah. Ehh ... aku lupa, di rumah ada Mama Papa, tapi tetap saja aku gak mau jauh-jauh dari dia," ocehan Arya pun semakin membuat Seto kesal dan ingin meninju sahabatnya itu.
"Ar, aku ingin tanya sesuatu boleh?" tanya Seto sambil memandang lekat Arya.
"Boleh, silakan. Mau bicara apa, aku akan mendengarkan apa yang kamu ingin tanyakan," jawab Arya sambil meminum air Aqua yang tadi dia bawa dari rumah.
__ADS_1
Sekarang ini Arya tak bisa sembarangan makan, apalagi minum-minum hal yang instan. Yang hanya dia minum sekarang hanya air putih, demi menjaga kesehatannya kali ini.
"Sebenarnya kamu sakit beneran, atau tidaknya sih? Aku lihat kamu selalu tenang, bahkan bersikap seperti biasa. Bahkan tak terlihat seperti orang sakit, padahal dulu rasanya aku ingin menyerah akan hidup," ucap Seto sambil memandang Arya. Sedangkan Arya hanya tersenyum kecil, mendengar pertanyaan yang di lontarkan Seto.
"Aku kesakitan, Seto. Bahkan setiap jam aku merasakan sakit, yang amat luar biasa. Tapi semua itu langsung lenyap, saat melihat senyuman Baby-twins dan Dira. Aku juga gak mau membebani mereka karena aku mengeluh sakit, intinya jika aku sudah merasakan sakit. Aku langsung memeluk Dira dengan erat, dan ...." Arya pun menggantung ucapannya.
"Dan apa?" tanya Seto sangat penasaran.
"Dan aku mainin itu, benda kenyal." Seketika Seto langsung melemparkan wadah tisu yang ada di depan Arya.
"Dasar sableng! Otakmu isinya benda kenyal terus, sampai kapan kamu selalu otak mesu?" tanya Seto sambil memandang tak percaya.
"Sampai aku mati. Aku akan tetap seperti ini, dan aku akan di kenal sebagai Arcindi (Arya bucinya Dira)" balas Arya sangat bangga.
Namun tak lama setelah itu, datanglah seorang wanita cantik dan asih muda. Siapa lagi jika bukan Lisma, wanita yang akan mendonorkan Ginjalnya untuk Arya.
__ADS_1
"Permisi, Tuan Seto," ucap Lisma. Sedangkan Seto, dan Arya langsung menoleh ke arah Lisma.
"Lisma, akhirnya kamu datang. Aku hampir saja mati karena bosan, mendengar ke bucinan Arya. Lagian kamu lama sekali, Lisma?" tanya Seto sambil mempersilahkan Lisma duduk.
"Maaf, tadi saya kecopetan. Jadi saya harus ke kantor polisi dulu, jadi maaf saya terlambat," balas Lisma sambil menundukkan kepala.
"Sudahlah, yang penting kamu gak apa-apa kan?" tanya Arya yang membuat Lisma menjadi gugup.
"Emm ... emm ... say .... saya baik-baik saja, Tuan," balas Lisma sangat gugup.
Ya Tuhan, dia sangat tampan. Aku gak mengira jika dia setampan ini, aku kira orangnya tua dan gendut. Ternyata dia masih mudah, gumam Lisma sedikit memandang takut pada Arya.
"Syukurlah, kalau gitu mari kita bicarakan semuanya. Kita langsung to the point saja karena saya gak mau buang-buang waktu," ucap Arya sangat serius. Sedangkan Lisma hanya menganggukkan kepala saja, untuk mengiyakan ucapan Arya.
"Jadi gini Lisma ...."
__ADS_1