
Di dalam ruangan besar nan megah, Dira duduk di kursi kebesaran Arya. Dira merasa bosan dan lapar, apalagi menunggu sesuatu yang lama adalah hal yang paling membosankan.
"Lama banget sih ini orang! Perutku sudah lapar, tapi aku ingin di suapin kak Arya," gerutu Dira sambil mengelus-elus perutnya itu.
Sudah dua jam Dira menunggu pasangan couple itu datang, tapi Arya tak kunjung datang juga. Bahkan agar tidak bosaan Dira sampai membuka laptop Arya untuk nonton flim, tapi tetap saja sia-sia, karena Dira merasakan lapar.
"Daripada nunggu kak Arya, mending pesan sendiri saja. Kelamaan, keburu teriak-teriak ini cacing di dalam perut." Dira pun mengambil telepon kantor, dan menelpon OB untuk memesan makanan.
"Hallo, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, saya Airin OB lantai dua," ucap Airin di balik telepon.
"Mbak tolong buatkan saya mie indomie, pakek sayur, telor setengah matang, dan cabenya 10. Kirim ke ruangan pak Arya, ya mbak?" balas Dira sambil membayangkan makanan itu datang.
"Hanya itu saja, Bu?" tanya Arin sekali lagi.
"Emm ... sama jus Sirsak," jawab Dira dengan air liur yang mulai penuh karena membayangkan jus Sirsak.
"Mohon di tunggu sebentar, Bu. Mungkin 20 menitan, nanti saya antar ke atas," sahut Arin.
"Oke saya tunggu."
Setelah memesan Dira langsung menutup panggilan itu, Dira menunggu di atas sofa. Dia gak mau lagi duduk di kursi Arya, karena Dira ingin merebahkan punggungnya sebentar.
"Aduh, punggung aku sakit banget. Seperti mau copot, apa gara-gara tadi pagi ya? Tapi, aku sangat ingin. Tau ah, pokoknya puas," gerutu Dira sambil tersenyum.
Dira pun membuka ponselnya, dan mencoba mengirim pesan pada Dinda. Dira mengatakan jika dia hamil, dan Dinda sangat bahagia. Dinda juga berkata ingin cucu sepasang, tapi Dira hanya terkekeh geli mendengar itu.
Dira dan Dinda pun bertukar kabar, hingga Dira di kejutkan dengan ketukkan pintu. Dira yang mengira itu pesannya, langsung melempar ponselnya ke sembarang tempat.
Dira melihat seorang OB masuk membawa nampan, yang berisikan mie indomie dan jus Sirsak. Bahagia itu yang di rasakan Dira, bahkan Dira tak sabar memakan itu semua.
"Ini pesanannya, Bu." ucap Arin sambil menaruh pesanan Dira di atas meja.
"Makasih ya, Mbak. Wahh kelihatannya sangat enak, makasih banget," balas Dira sangat gembira. Bahkan Dira terlihat seperti tak pernah merasakan mie indomie, padahal dulu dia sering memakannya saat sekolah.
__ADS_1
"Iya sama-sama, bu Arya. Ini sudah tugas saya, jadi gak perlu berterima kasih sama saya," balas Mbak Arin.
"Sama saja, walaupun ini tugas kamu. Tapi mengucapkan terima kasih itu harus, karena kamu membuatnya dengan baik," ucap Dira sambil meminum jus Sirsak.
"Wahh, Ibu sangat baik. Kalau gitu saya permisi dulu. Semoga makanannya enak, dan bu Arya suka," ucap Arin sebelum pergi.
"Iya, sekali lagi terima kasih," balas Dira.
Setelah Arin keluar Dira merasakan ingin sekali buang air kecil, bahkan Dira sekarang tak bisa menahan sedikitpun. Jadi mau gak mau dia harus meninggalkan mie indomie yang menggiurkan itu.
"Tunggu dulu ya, Sayang. Mommy ingin pipis dulu, kamu sabar sebentar." Dira pun langsung melesaat pergi ke kamar manda. Namun saat Dira di kamar mandi, Arya masuk ke dalam ruangannya dan melihat makanan yang ada di atas meja.
Bahkan Arya mencicipi mie indomie itu, dan baru saja satu sendok, Arya sudah merasakan pedas yang amat luar biasa.
"Anak ini benar-benar gak bisa menjaga kesehatan. Apa dia gak mikir, kalau mie instan gak baik untuk ibu hamil? Apa lagi ini pedesnya gak ketulungan," gerutu Arya sambil memakan mie tersebut. Walau Arya kepedasan, tapi Arya gak perduli yang penting mie itu lenyap dari hadapan Dira.
Dengan keringat yang bercucuran Arya terus memakan mie itu, dan saat Arya lagi lahap-lahapnya makan, Dira keluar dari kamar dengan wajah kesal.
"Kakak!!" teriak Dira saat melihat mienya sudah habis di makan Arya.
Sedangkan Dira langsung merajuk karena makanannya di habiskan, Dira menghentak-hentakan kaki dengan bibir di monyongin. Dira kesal, padahal tadi dia sangat ingin makan itu. Tapi semua langsung lenyap saat Arya datang.
"Mau aku emu*t itu bibir? Jangan menggoda Sayang, aku sekarang gak bisa terus-terusan garap kamu. Aku takut anakku terkejut dengan kelakuan daddy-nya, jadi sembunyikan bibir manismu itu," ucap Arya dengan senyuman nakal.
"Kakak jahat banget sih. Dira lagi pengen makan mie itu, pokoknya Dira ngambek gak mau makan lagi!" balas Dira merajuk.
"Sayang mengertilah. Ini gak baik untuk perkembangan bayi kita, kamu mau anak kita kenapa-napa?" tanya Arya sambil berjalan mendekat ke Dira. Setelah sampai Arya memeluk Dira dari belakang, dan mencium lembut leher Dira dan berharap anak ini luluh.
"Gak mau, tapi Dira ingin makan mie yang pedas, sakali saja ya Kak? Please, ya?" Mohon Dira. Namun Arya tetap tak mau menuruti Dira, Arya lebih baik anaknya ileran dari pada menyesal nantinya.
"Yang lain saja, Sayang. Apa pun pasti akan aku turuti, tapi jangan mie instan." Arya memohon dengan nada lembut.
"Baiklah! Sekarang juga aku mau kita jalan-jalan ke Surabaya, apa kamu mau?" tanya Dira dengan wajah yang sangat sumringah. Namun Arya malah menampilkan wajah bingung, karena untuk apa ke Surabaya.
__ADS_1
"Buat apa kita ke sana?" tanya Arya balik.
"Aku mau jalan-jalan saja. Aku ingin ke rumah sahabatku juga Kak, sudah lama aku gak melihat dia. Boleh ya?" Rengek Dira sekali lagi.
"Apa boleh kita perjalanan jauh? Sedangkan kamu lagi hamil Sayang. Aku gak mau ambil resiko, lebih baik kita jalan-jalan di sini saja," balas Arya dengan memangku Dira.
"Tapi aku ingin bertemu dengan Diah, Kak. Atau gak suruh Seto saja deh cari dia, biar bagaimana pun, Diah pernah menolongku dulu. Dia sangat berjasa Kak, gak ada dia mungkin Dira akan merasa kesepian," ucap Dira sambil memeluk suaminya itu.
"Baiklah, kalau gitu nanti aku akan suruh Seto mencari informasi Diah. Oh ya Sayang, kakak mau ke rumah pak Hendra. Apa kamu mau ikut, kakak mau jenguk istri pak Hendra dan menengok anaknya."
Arya baru saja mendapatkan informasi dari Seto jika istri pak Hendra sedang dalam kesulitan, Arya yang sudah berjanji akan membantu keluarga pak Hendra pun memutuskan akan membawa istri pak Hendra tinggal di rumah Arya.
"Aku mau ikut Kak. Terus itu bagaimana tentang kasus pak Hendra, apa bisa di proses?" Tanya Dira penasaran.
"Masih di urus sama Sean. Sean masih mengumpulkan bukti-bukti tentang semuanya, semoga saja semuanya bisa selesai secepatnya," balas Arya sambil menelusup masuk kedalam blouse Dira.
"Kak! Bisa gak sih tangannya diam? Dari tadi gerak-gerak terus, apa mau minum susu. Kalau mau bilang gak perlu mainin kaya gitu, kan jadi terangzang aku," ucap Dira dengan tersenyum mesum. Inilah Dira yang baru, di pancing sedikit saja dia mulai terangzang.
"Kakak kepedasan makan mie tadi, sekarang kakak mau minum sebentar. sebelum berangkat ke rumah pak Hendra, boleh kan?" Pinta Arya dengan mengecup leher Dira.
"Tentu saja boleh, Kak." Dira pun langsung membuka bajunya ke atas. Sedangkan Arya sangat kegirangan mendapat mangsa empuk, dengan sangat bersemangat Arya men*yedot dua bukit kembar Dira dengan sangat rakus.
"Padahal tidak ada susunya, tapi kamu seperti meminum sesuatu di sana Kak. Apa benar ada susunya?" tanya Dira dengan penasaran karena Arya selalu bilang ada sesuatu di sana.
"Hanya aku yang tau. kamu cukup memberikan asupan giziku, Sayang. Nanti kalau aku gemuk berarti susumu sangat bergizi," balas Arya sambil mengigit kecil kismis Dira.
"Kakak!"
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading...