Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 89 Dasar anak kodok


__ADS_3

"Lepaskan, aku!" teriak Serlin saat dia sampai di kantor polisi. Serlin daritadi terus berontak dan meminta di lepaskan, namun teriakan itu tak di hiraukan oleh polisi.


"Bisa diam gak, kamu!" bentak polisi saat mulai kualahan menghadapi Serlin.


"Kamu yang diam! Awas kalian, aku pasti akan menuntut kalian. Aku pastikan kalian mendekam di penjara, camkan ini!" bentak Serlin balik. Namun dengan cepat Polisi langsung menyeret Serlin, dengan sangat kasar.


"Lepaskan aku bodoh, mau aku pecat kamu? Berani sekali kamu menyeretku, aku pastikan jabatanmu akan di turunkan!" teriak Serlin lagi dan lagi.


"Atasan saya bukan, kamu. Jadi ayo cepat jalan, kalau kamu gak mau aku tembak!" balas Polisi tak kalah menantang. Setelah itu Serlin di bawa keruangan interogasi, bahkan di sana juga sudah ada Ara.


Saat Serlin tau Ara juga ada di dalam, dia langsung menatap tajam sepupunya itu. Serlin benar-benar kesal dengan Ara, karena sampai ketahuan oleh polisi.


"Bodoh banget sih kamu! Masalah gini aja sampai ketahuan, percuma aku minta tolong kamu kalau ujung-ujungnya masuk penjara!" bentak Serlin sambil meronta-ronta minta di lepaskan.


"Kamu yang bodoh! Asal kamu tau, orang yang ingin kamu hancurkan adalah anak dari pemilik rumah sakit SS! Gara-gara kamu, aku harus kehilangan pekerjaan dan muka di hadapan Sintal! Sekarang pasti Sintal gak akan mau sama aku, belum ada masalah ini saja, susah banget dapetin dia apa lagi sekarang?" ucap Ara dengan nada menyesal.


"Walau pun tak ada masalah ini, aku gak akan mau dengan kamu Ara! Aku sudah memiliki calon istri, bahkan kami akan menantikan buah hati kami. Jadi jangan harap kamu mencoba memimpikan aku, ingat mimpi terlalu tinggi akan sakit jika jatuh!" ucap Sintal yang baru masuk dengan Dira dan Arya.


Ara terkejut, begitu juga dengan Serlin saat mendengar suara lantang Sintal. Mereka berdua sangat takut, melihat tatapan tajam dari kedua lelaki itu. Tatap seperti ingin membunuh, mereka berdua.


"Sintal maafkan, aku. Sungguh aku gak sengaja, ini semua salah dia." Ara pun menunjuk ke arah Serlin. Sedangkan Serlin hanya menatap sinis, karena dia yang terpojok kan.


"Gak perlu menyalahkan seseorang, jika kamu mau ikut dalam misinya. Jika memang kamu wanita baik-baik, kamu gak akan mau menolong seorang rubah!" balas Sintal dengan tatapan tajam.


"Aku terpaksa, Sintal!" Ara pun membela dirinya sendiri. Tapi tetap saja, Sinyal tak mau tau. Sintal menganggap perlakuan Ara sudah melewati batas, dan ini tak bisa di maafkan.


"Gak ada kata-kata terpaksa, Ara! Aku sungguh kecewa dengan kamu, asal kamu tau. Tindakanmu ini membuat adiku satu-satunya menderita, karena harus berpisah dengan suaminya," balas Sintal sambil menarik Dira dalam pelukannya.


"Dan kamu Serlin. Sebenarnya kamu punya urat malu gak sih? Kamu itu wanita tapi gak punya harga diri banget, harusnya kamu bisa bedakan mana yang benar mana yang salah, jangan karena ambisi kamu jadi gila seperti ini," ucap Sintal terus menerus. Sebenarnya Sintal juga merasa kecewa, karena tau masalah ini paling akhir. Tapi Sintal juga merasa beruntung, masih dapat kesempatan ngomel-ngomel dan memberikan nasehat pada dua penjahat itu.

__ADS_1


"Gak perlu ikut campur, kamu!" balas Serlin dengan malas. Serlin sangat muak melihat orang yang sok suci, menurut Serlin. Bukan menurut aku, ya 😄


"Sintia adikku, jelas aku kan ikut campur. Jika yang kamu ganggu bukan Sintia, aku gak akan ikut campur dodol!" Kini Sintal mulai terpancing lagi dengan ucapan Serlin. Namun dengan cepat Dira menahan Sintal, agar tak kebablasa


"Kak, percuma ngomong sama dia. Lebih baik kita keluar, biarkan polisi yang urus. Dan kamu Serlin, lihatlah siapa yang menang? Kamu begitu pede bilang jika kamu yang akan menang kan, tapi apa nyatanya?" ucap Dira dengan tersenyum sinis. Serlin yang di sindir hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa, sedangkan Arya hanya tersenyum melihat Dira yang semakin berani.


"Sekarang urusan kita sudah selesai. Semoga kalian bisa berubah, aku harap pikiran kalian bisa jernih jika ada di dalam penjara." Setelah berkata Dira langsung menarik tangan Sintal untuk keluar. Sedangkan Arya langsung melongo melihat kelakuan Dira, yang lebih memilih Sintal daripada dia.


"Loh! Aku kok, gak di ajak?" tanya Arya sambil cemberut, karena Dira tak menghiraukan dia.


"Oh ya, lupa. Kakak bisa jalan sendiri kan? Aku lupa jika punya bayi besar, gak papa kan kakak ngalah dulu?" ucap Dira sambil memandang Sintak. Sedangkan Sintal mendengus kesal, karena Dira lebih mementingkan Arya.


"Urus sana bayimu. Semakin lama aku jijik liat kelakuan suamimu, sekarang seperti bayi yang berumur 1tahun," balas Sintal sambil meningalkan Dira.


"Kenapa, iri ya?" Ejek Arya yang membuat Sintal semakin kesal, hingga Sintal memiliki ide jahil untuk Arya. Agar dia merasakan apa yang dia rasa, saat melihat orang yang dia sayang di bawah kabur.


"Kak!" Dengan sangat cepat, Sintal menggendong Dira dan membawanya pergi meninggalkan Arya yang terperangah.


"Diamlah. Kakak akan menculikmu sayang, sepertinya aku juga membutuhkan kamu bukan hanya Arya." ucap Sintal sambil ngos-ngosan menggendong Dira. Sedangkan Arya yang tak terima, langsung mengejar Sintal tampa memperdulikan pandangan semua orang.


"Woooeee! Itu istriku, mau kamu bawa kemana!" Arya pun terus mengejar Sintal yang membawa kabur istrinya, sedangkan Dira hanya terkekeh melihat Arya berlari. Dira merasakan bahagia, hingga Dira melambai-lambaikan tangan agar Arya semakin terpancing.


Sintal berlari dengan cepat hingga berkali-kali menabrak seseorang. Sintal tertawa puas, karena berhasil mengerjai adik iparnya itu. Namun usaha pengejaran Arya terhenti di saat polisi menahannya, dengan senyuman puas Sintal langsung keluar dari kantor polisi.


"Babay, adik ipar. Aku pinjam istrimu sebentar ya, kamu enak-enakin dulu di dalam sana!" teriak Sintal sebelum melesat pergi. Sedangkan Arya merasa kesal bahkan mengumpat berkali-kali, karena polisi tak mengizinkan dia keluar.


"Lepasin gak! Liat itu istri saya di bawah kabur kakaknya, saya baru bertemu sudah di bawa kabur," gerutu Arya sangat kesal.


"Maaf, bapak gak bisa keluar. Karena proses pembebasan anda belum selesai, nanti jika sudah selesai kejar sesuka hatimu Pak," balas polisi. Arya semakin kesal, karena masih belum bisa keluar sedangkan Arya tak tau di bawa kemana istrinya itu.

__ADS_1


"Sebentar saja, masa gak boleh sih Pak?" Rengek Arya. Namun tetap, polisi tak mengizinkan Arya untuk keluar sebelum menyelesaikan berkas-berkas pembebasan dia.


Namun tak lama setelah itu, Dinda juga Ryant datang dan langsung memanggil Arya dengan lembut dan penuh kekhawatiran. "Arya," panggil Dinda dengan sangat lembut.


"Mama!" balas Arya sedikit terkejut.


"Kamu itu malu-maluin tau gak. Ini kantor polisi bisa-bisanya kamu berbuat kaya gitu, Sintal itu kakaknya Dira jadi terserah dia mau bawa Dira. Lagian kamu pelit amat sih jadi orang!" gerutu Dinda dengan nada pelan, karena takut di dengar orang banyak.


"Tapi...."


"Gak ada tapi tapian!" Akhirnya Arya hanya bisa pasrah walau hatinya gak rela. Dia gak rela jika Dira di sentuh lelaki lain, walaupun itu kakaknya sendiri Arya gak akan ikhlas. Dan tak lama setelah itu, Angga keluar dari ruangan dan langsung mengajak Arya pulang.


"Ayok Arya, kita pulang. Semuanya sudah selesai, kamu sudah bebas," ucap Angga tiba-tiba.


"Serius sudah boleh ini?" Angga pun mengangguk. Dan tanpa di duga semuan orang, Arya langsung melesat pergi untuk mengejar Sintal. Semua orang terperangah, begitupun juga Angga.


"Benarkah dia mantuku?" gumam Angga. Sedangkan Dinda merasakan malu yang amat luar biasa.


"Dasar anak kodok!"


*


*


*


*


happy Reading

__ADS_1


__ADS_2