Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Senyum Moy


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Mahen langsung di tangani oleh dokter di UGD. Tak membutuhkan waktu lama, Mahen sudah sadar dari pingsannya. Bukan karena lukanya yang membuat Mahen pingsan, melainkan darah yang mengalir deras itu yang membuat Mahen pingsan.


Ternyata orang tua Mahen menjelaskan, jika Mahen sangat phobia dengan darah. Oleh sebab itu, dia ingin mengambil jurusan dokter gagal, karena Mahen takut darah.


"Wah kamu ini masih saja takut darah, Alfa. Kamu bikin istrimu takut, sampai gemetar," ucap pak Mahendra—selaku Ayah Mahen.


"Ayah kan tau sendiri, jika Alfa takut darah. Sebenarnya Alfa sudah tahan, tapi saat melihat darah, pandanganku langsung pudar," balas Mahen dengan tersenyum malu.


Mahen benar-benar ingin menjeburkan dirinya di kolam, saat ini juga. Karena merasa malu dengan Raya, yang daritadi ada di sebelahnya.


"Kamu kok diam saja sih, Moy. Senyum gitu, masa sama suami sendiri gak ada manis-manisnya." Goda Mahen saat melihat Raya diam saja.


"Apaan sih, gak usah sok manis. Mau ku pukul lagi nie, biar sekalian kamu berangkat ke akhirat!" seru Raya yang membuat semua orang terkejut, bahkan sangat kaget dengan ucapan Raya.


"Raya, kamu kok gitu sih Nak! Mommy gak pernah ngajarin kamu seperti ini, apalagi kutang ajar sama suami sendiri," bentak Dira. Raya yang merasa takut langsung menundukkan kepalanya, dan sedikit kesal karena Mahen dia di bentak Dira.


"Maaf, Mommy."


"Gak apa-apa kok, Mbak. Mungkin Raya belum terbiasa, apalagi pernikahan mereka sangat mendadak," ucap ibunya Mahen sangat lembut.


"Tapi Raya perlu di ajarin, Bu. Kalau gini terus, lama-lama dia semakin ngelunjak," balas Dira. Setelah itu Mahen langsung menggenggam tangan Raya, ingin sekali Raya menepis tangan Mahen, tapi dia tahan karena gak mau kena omel lagi.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Tante. Nanti Pimoy akan luluh dengan Mahen, Mahen yakin itu." Mahen pun menatap Raya.


"Cih ... amit-amit jika sampai aku suka kamu, bisa-bisa dunia kiamat jika aku jatuh hati denganmu," gerutunya yang masih bisa di dengar Mahen.


Mahen hanya tersenyum geli mendengar ucapan Raya. Mahen bukannya marah tapi malah suka, karena Mahen yakin suatu hari nanti Raya akan bertekuk lutut padanya.


"Sudah-sudah, biarkan mereka berdua saja. Lebih baik kita ke kantin, karena aku sangat ingin tau lebih banyak tentang pak Mahendra. Kita sudah sangat lama gak bertemu, tapi sekali bertemu sekarang jadi besan," ucap Arya yang membuyarkan suasana canggung itu.


Arya gak mau terlalu ikut campur dengan rumah tangga anaknya itu. Karena pernikahan ini atas permintaan mereka sendiri, jadi Arya hanya bisa menurutinya saja.


"Benar, lebih baik kita reunian di kantin. Biarkan mereka bisa saling kenal, karena kita hanya bisa melihat saja, dan mereka yang menjalani." Arya pun mengangguk. Tak menunggu lama, mereka langsung keluar dari kamar rawat inap Mahen. Mereka memilih pergi ke kantin untuk melepaskan rindu, karena sudah lama mereka tak saling bertemu.


***


Arleta memang sengaja gak ikut ke rumah sakit, karena Ryant memerlukan istirahat. Jadi Arleta memilih tinggal, daripada ikut ke rumah sakit.


"Mau dong, memang apa yang mau kamu ceritakan? Kelihatannya sangat serius, hingga cucu Opa sangat berbinar saat ingin mengatakan ini semua," balas Ryant sambil mencubit pipi tembem Arleta.


"Hi ... hi ... hi ... sebenarnya Arleta mau cerita kalau Arleta punya pacar, namanya kak Edo. Setiap hari kita kirim surat, dan suratnya yang bawa papa Sintal," bisik Arleta sambil terkekeh kecil.


"Wah, cucu Opa sudah punya pacar? Wahh, ini minta di cubit pipinya. Masih kecil kok pacaran, nanti gak fokus sekolah Opa hukum loh," canda Ryant. Arleta kembali tertawa, dan mengeluarkan selembar surat-surat yang di kirimkan Edo.

__ADS_1


"Liat Opa, kak Edo kirim surat untuk Arleta. Arleta juga sudah membalas semua pesan kak Edo," ucap Arleta.


Ryant pun mengambil surat itu dan membacanya. Ryant terkekeh geli, melihat surat-surat itu. Apalagi Edo terlihat sangat lucu, saat menulis surat itu.


Walaupun tulisan surat Edo acak-acakan, tapi Ryant bisa menjawab semuanya. Bagaimana Edo mengatakan jika dia sangat menyukai Arleta, dan ingin menjadikan Arleta istrinya kelak.


Edo : Hai Arleta, apa kabar. Aku hari ini datang ke depan rumah om Sintal, tapi kata tante Vani kamu sudah balik jakarta. Sebenarnya aku sedih, tapi mau bagaimana lagi kamu memiliki keluarga di sana. Oh ya, Hati-hati ya di sana.


Edo: Selamat pagi Arleta, bagaimana hari-harimu di sana. Aku sangat merindukanmu, tapi sayangnya kamu gak ada di sini. Arleta boleh aku jujur, sebenarnya aku suka kamu. Apakah kamu suka aku?


Edo: Aku sangat bahagia teryata kamu menyukaiku juga. Kamu do'akan aku, agar cepat besar. Nanti kalau aku sudah besar, akan ku jadikan kamu orang pertama yang menjadi nyonya di rumah ku. Tunggu aku, jangan sampai kamu suka orang lain. Sekarang kita resmi pacaran ya.


"He he, dasar bocah."


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


yang tanya umur Edo, dia umur 11 tahun beda 5 tahun dengan arleta.


__ADS_2