Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 25


__ADS_3

"Kamu sudah pulang, Arya?" tanya Dinda saat Arya masuk kedalam rumah. Ternyata daritadi Dinda menunggu Arya pulang, dan menantikan kabar baik dari Arya.


"Iya, Ma." Tanpa tunggu lama, Arya langsung masuk kedalam dengan raut wajah sedih. Dinda meyakini, jika ada yang tak beres. Akhirnya langsung bertanya.


"Ada apa denganmu, Arya? Kenapa mukamu ditekuk begitu, jelek tau kamu jadinya," ucap Dinda tanpa di filter.


"Walapun jelek, tapi Arya tetap anak Mama," jawab Arya dengan geram. Terkadang Arya merasa geram dengan orang tuanya itu, tapi Arya masih sadar jika Dinda adalah orang yang rela melahirkan dirinya.


"Gak, kamu bukan anak Mama. Tapi kamu anak kodok, karena sikap kamu seperti kodok!' ejek Dinda sekali lagi. Sedangkan Arya langsung melotot saat di bilang anak kodok, geram jelas lah. Bentuk manusia kok di bilang kodok.


" Ma, jika aku kodok. berarti Mama adalah Mama kodok, dan Papa kodok juga. Sesama spesies gak boleh saling menjelekkan, paham," tegas Arya.


Cukup sudah aku dikatain kodok, walaupun kodok juga hewan hidup. Masih bisa bernapas, masa Mama tega ngatain anak sendiri kodok. gerutu Arya dalam hati.


"Sudah, Mama gak mau bahas kodok. Mama mau bahas masalah kamu dan Fani, gimana apa kamu sudah memutuskan Fani?" tanya Dinda to the point


"Ma, bisakah besok saja? Arya capek Ma, dan ingin istirahat sejenak. Hari masih panjang, jadi gak perlu terburu-buru," jawab Arya. Arya benar-benar bingung mau bicara apa, karena dia tau pasti Dinda akan marah karena tau dia mengurungkan niatnya untuk memutuskan Fani.


"Baiklah! Besok Mama tunggu, jika kamu belum mengambil keputusan. Mama pastikan akan memotong burungmu, agar kamu gak bisa memiliki kenikmatan dunia." Ancam Dinda dengan tegas. Sedangkan Arya langsung menutupi senjata tajamnya, karena merasa ada ancaman yang berbahaya.


Bisa hancur masa depanku, jika junior ini di bantai. Bisa-bisa aku gak akan merasakan nikmatnya bercinta, dan aku gak akan mendapatkan keturunan. Ini adalah alarm bahaya, aku harus bisa memilih kata-kata yang tepat. Dan semua hanya Dira yang bisa menolong, karena Mama akan menurut dengan Dira. gumam Arya dalam hati.


***

__ADS_1


Di tempat lian, Dira masih memandang foto Vano. Dira merasakan rindu yang sangat mendalam dengan mendiang suaminya, ingin sekali Dira bertemu Vano tapi mereka sekarang beda alam.


"Van, aku merindukan kamu. Apa kamu sudah tenang di sana, apa kamu bisa melihat aku disini?" gerutu Dira. Setelah itu Dira kembali menatap foto pernikahan mereka kembali, sesak rasanya karena tak bisa melihat orang yang dia cintai lagi.


"Van, aku mau cerita sama kamu. Tapi, apa kamu akan marah sama aku? Jika aku jujur sama kamu, tentang apa yang aku rasa?" tanya Dira dengan memandang foto pernikahan mereka. Bahkan Dira tak sadar, jika dirinya sedang berbicara sendiri dengan selembar kertas.


"Entah perasaan apa ini, tapi aku merasa nyaman di dekat kak Arya. Aku merasa gelisah saat kak Arya dekat dengan kak Fani, bahkan aku juga sangat rindu saat tak melihat wajahnya. Apa aku salah van, jika merasakan itu semua?" ucap Dira sekali lagi. Namun tak lama setelah itu, dering telpon menghentikan kegiatan Dira yang curhat dengan foto Vano. Dira melihat ponselnya dan tertera nomor baru di sana.


"Siapa malam-malam menelpon, apa dia gak tau kalau sekarang pukul 23:30," gerutu Dira. Namun pada akhirnya Dira menyerah dan memilih mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, ini siapa?" ucap Dira dengan nada ketus. Seketus kaktus.


"Ternyata, calon suami Arya Wiguna judes juga ya?" jawab Arya dengan terkekeh. Arya gak habis pikir jika, Dira punya sisi judes.


"Iya, ini kakak. Memang kamu kira siapa lagi?" jawab Arya dengan terkekeh.


"Ihh, aku serius kak. Oh ya bukannya kak Arya lagi di rumah kak Fani, kok sekarang malah nelpon aku sih?" tanya Dira sedikit dongkol.


"Kamu gak lihat jam? Ini sudah malam, Sayang! Mana mungkin kakak gak pulang, mau di arak seluruh kota jika nginap di apartemen Fani?" Arya pun semakin tertawa sedangkan Dira semakin kesal.


"Tau ah!"


"Sayang kita jauh, kalau dekat pasti udah aku makan kamu Dira," balas Arya sekali lagi. Dan tak lama setelah itu mereka saling tertawa lepas, hingga tak sadar mereka telah berbincang selama 3 jam.

__ADS_1


"Tidurlah, aku akan melihat kamu dari sini," ucap Arya di panggil Video Call. Setelah lama berbincang akhirnya mereka memutuskan untuk merubah panggil mereka, karena sama-sama ingin melihat wajah masing-masing.


"Kakak juga harus tidur, jangan bergadang terus nanti sakit. Dira gak mau kak Arya sakit," ucap Dira.


"Iya Sayang, cepet tidur agar aku bisa tidur," jawab Arya. Bukannya tidur Dira malah tertawa dan membuat, Arya bingung dibuat olehnya.


"Kok, tertawa?"


"Gak apa-apa, hanya ingin saja," balas Dira dengan senyuman indah. Sedangkan Arya langsung berubah sedih, sat mengatakan kenyataan yang ada tadi.


"Dira, aku harap kamu bisa selamanya mengerti. Untuk sementara waktu kita LDR, dan hanya bisa hubungan lewat HP. Tapi aku usahakan, setiap sabtu minggu aku akan kesana," ucap Arya dengan raut bersalah.


"Sudahlah kak, aku mengerti kok. Lagian ini juga demi kebaikan kita, dan aku yakin dengan kak Arya." Lega itu yang dirasakan Arya, karena Dira bisa bersifat dewasa tanpa di ajarin.


"Terima kasih, Sayang. Aku yakinkan, sebelum pernikahan kita akan berusaha mencari kesalahan Fani." Dira hanya menganggukkan kepala dan tak lama setelah itu Dira terlelap di keadaan masih *video call.


"Selamat tidur, honey*."


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2