Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Crazy Up Tahap 2


__ADS_3

Karena aku Crazy Lagi, pokoknya harus komen dan Like setiap bab. He ... He ... maksa, canda maksa.


...___...


Seto yang masih murka dengan prilaku Alena, dan Lorena. Memutuskan untuk pergi ke makam Sekar, di sana Seto mengirimkan do'a sekaligus mengeluarkan keluh kesahnya.


Seto sangat menyesal karena tak bisa mendidik anaknya, bahkan sudah terpengaruh dengan Lorena. Seto ingin sekali melabrak mertuanya itu, tapi Seto sadar, Lorena lebih tua darinya.


"Sekar, aku gagal mendidik anak kita. Sekarang dia jadi sosok yang sangat asing bagiku, bahkan aku sudah gak mengenalnya lagi." Seto berkata sambil menabur bunga di atas makam Sekar.


"Kalian itu sama, keras kepalanya kebangetan. Tapi, aku gak tau jika Alena melebihi sikapmu. Andai saja waktu bisa di putar, maka aku gak akan membiarkan Alena dekat dengan Mama," ucapnya sekali lagi.


Tanpa sadar, air mata Seto langsung terjatuh. Seto menunduk, dan mencium batu nisan Sekar. Seto sangat menyesal, karena kurangnya perhatian, bahkan sibuk akan pekerjaan, dirinya melupakan satu tugas untuk mendidik Alena.


Seto merasa dirinya sangat egois, karena menyerahkan seluruh tanggung jawab anak-anaknya pada Lisma. Seto hanya tau, jika Lisma sangat bahagia merawat tiga bayi sekaligus, tanpa dia pikir, apakah Lisma akan kualahan atau tidak.


Demi menenangkan hatinya, ketika Sekar meninggal. Seto memang menitipkan anak-anaknya pada Lisma, karena permintaan terakhir Sekar jangan sampai anak-anaknya jatuh ke tangan Lorena.


Sekar juga bilang, cukup dirinya yang menjadi korban kesayangan Lorena. Karena jika Lorena sudah sayang, dia akan melakukan apapun agar anaknya bahagia. Begitu juga dengan Sekar, dia menjadi pribadi egois, dan manja juga karena Lorena selalu membenarkan apa yang Sekar perbuat.


"Aku bodoh banget ya, Kar. Bodoh karena gak mendengarkan pesanmu, padahal dengan terang-terangan kamu bilang jauhkan anak-anak kita dari Mama. Tapi, sayangnya aku kecolongan, dengan embel-embel merasa kasihan. Bagaimanapun juga Alena, juga Nadia adalah cucu Mama."


Seto kembali menangis lagi. Hatinya sangat hancur, dan tak bisa di ucapkan oleh kata-kata. Seto masih bingung, nasib anaknya bagaimana, karena dia juga gak bisa membenarkan perlakuan Alena.


Karena melihat hari semakin Sore, Seto memutuskan untuk pulang. Seto akan menjelaskan segalanya nanti malam, dan keputusan ada di tangan Lessy. Jika, Lessy meminta di urus secara hukum, maka dirinya akan menurut.


Lagian ini juga bisa di jadikan pembelajaran untuk Alena, agar berbuat kebaikan, bukan malah berbuat kriminal.


***

__ADS_1


Alena POV


Aku berjalan keluar dari rumah Vano, setelah melihat kepergian Papa. Aku sangat menyesal telah melakukan ini, apalagi ini bukanlah keinginanku.


Aku hanya ingin meneror Lessy, dan mengingatkan Lessy untuk menjauhi Vano. Aku sangat tak suka jika milikku di lirik orang, atau sampai di sukai orang lain.


Katakanlah aku ini egois. Tapi, aku begini juga karena takut kehilangan. Nenek selalu bilang, jika lelaki gak di kekang, akan menjadi seperti Papa.


Kata nenek, Mama terlalu lembut, sampai di selingkuhin dia hanya diam. Aku gak mau seperti Mama, aku mau Vano hanya milikku saja. Sebab itu aku selalu ingin mempublikasikan hubungan ini, agar mereka semua tau, jika Vano hanya milik Alena.


Tapi, nyatanya aku salah langkah gara-gara nenek. Jika saja aku nurut sama Vano, untuk diam, dan menjalani hubungan ini sampai dia sukses nanti. Maka hubungan kita gak akan berakhir sia-sia.


Aku sangat yakin, jika Vano akan meninggalkanku saat mengetahui segala nanti, dari mulut Lessy. Nasi sudah menjadi bubur, maka aku harus bisa menerima hukuman.


Kakiku terus berjalan menyusuri komplek Vano. Setelah menemukan taksi aku langsung masuk, dan yang akan Alena lakukan saat ini adalah ke rumah sakit.


"Pak, kerumah sakit TIATAL," ucapku pada supir taksi.


Mobil pun berjalan. Di saat aku menunggu sampai tempat tujuan, aku langsung menatap langit-langit yang sangat cerah. Walaupun menjelang malam, langit kota jakarta hari ini sangat bagus.


Tapi, bagiku semua sangat hancur, lembur jadi satu. Mungkin nanti, aku akan kehilangan semua orang yang aku sayangi. Inilah konsekuensi yang harus aku terima, dan aku harus ikhlas.


Aku juga mulai sadar, ucapan tante Dira juga membuat hatiku ini terbuka. Aku keterlaluan karena mengekang Vano, padahal status kita hanya sebatas kekasih.


Vano pasti berpikir, jika jadi kekasih saja seperti ini. Bagaimana nanti, jika aku sudah menjadi istri. Mungkin karena itu juga Vano gak mau menikah denganku, dan alasan yang paling utama karena dia ingin sukses dulu baru menikah.


"Mbak, kita sudah sampai. Argo nya tujuh puluh delapan ribu, dan parkirnya tiga ribu."


Aku sedikit tersentak mendengar ucapan supir itu. Aku gak tau jika kita sudah sampai, bahkan sudah ada di lobby rumah sakit.

__ADS_1


Jantungku berdetak sangat gak karuan. Aku takut, tapi aku harus jujur. Karena gak mau terlalu lama di dalam taksi, aku langsung memberikan uang seratus ribu pada supir taksi.


"Ambil saja kembaliannya, Pak."


"Ya Allah, makasih ya Mbak."


Aku hanya tersenyum. Setelah itu aku langsung keluar, dan masuk ke dalam rumah sakit. Langkah kaki yang sangat berat membuat aku semakin takut, bayangan bayangan yang akan terjadi langsung terlihat sangat jelas.


Apakah mereka akan langsung mengusirku, atau bagaimana aku juga gak tau. Yang terpenting sekarang aku mau minta maaf, dan berusaha menebus segalanya.


"Mbak, pasien atas nama Lessy. Apakah ada di sini?" tanyaku pada mbak-mbak di tempat administrasi. Gak tau, aku salah atu benar, pokoknya aku tanya saja.


"Sebentar ya, Mbak." Aku mengangguk saja dan menunggu orang itu mengecek.


Tapi, saat aku menunggu, ternyata mataku langsung menangkap sesosok orang yang sangat aku cintai. Dia Vano, mungkin dia dari cafetaria, karena dia membawa makanan.


"Mbak, maaf gak jadi. Saya sudah bertemu keluarga saya, maaf ya."


"Oh, iya gak apa-apa Mbak."


Setelah itu aku langsung berlari mendekati Vano. Tapi sayangnya Vano gak mendengar aku berterima, karena jarak kami agak jauh. Aku berusaha mengejar lagi karena gak mau tertinggal, di sini sangat rame sekali. Aku takut, dia menghilang, dan aku gak tau harus kemana.


"Vano!"


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2