
"Dasar, mesum! Kau... Kau apa yang kau lakukan tadi? Berani-beraninya kau menyentuh payu*daraku, sungguh gak ada sopan santun!" teriak Dira sambil menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Dira benar-benar merasa kecewa, dan tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Arya barusan.
"Aduh... Bisa gak sih, kamu kalem sedikit? Bisa remuk ini badan, jika kaget langsung mendorong. Memang kamu mau aku mati, sebelum kita nikah?" Protes Arya tak mengidahkan ucapan Dira.
"Salah sendiri, bertindak senonoh sama Dira! Lagian siapa yang kasih izin untuk gerpein Dira? Dira gak ada kasih izin ya, dan ini sama saja pelecehan!" teriak Dira sekali lagi. Bahkan Dira terus-menerus menutup bagian dadanya, agar Arya tak bisa melihat.
"Salahkan Seto, dia mengirim Vidio yang membuat aku hareudang!" jawab Arya sedikit mendengus. Sedangkan Dira langsung mengernyitkan kening, karena bingung dengan ucapan Arya.
"Vidio apa maksudnya?" tanya Dira dengan tatapan yang sangat tajam, setajam silet.
"Vidio Fani. Seto sudah menemukan kebenarannya, dan memang benar apa yang aku bilang. Fani berbohong, tentang kejadian malam itu," jelas Arya sambil memonyongkan bibirnya.
Ck... Sok imut, memang dia pikir aku bisa luluh? Oh tidak, tapi apa tadi yang dia bilang? Menjadi hareudang karena video, kak Fani! Astaghfirullah, kak Arya melihat secara tak langsung tubuh kak Fani! gumam Dira sangat dongkol.
Dira menatap tajam Arya, dan memancarkan aura membunuh. Sedangkan Arya merasa jika ini tak baik-baik saja, karena Arya yakin dari sorot mata Dira, dia sedang menunjukkan kemarahan yang sangat tinggi.
"Emm... Kamu kok menatap aku, seperti itu? Serem tau," tanya Arya takut-takut.
"Tadi kak Arya bilang apa? Vidio? Vidio tentang malam lucknut itu, maksudnya?" tanya Dira yang sangat mendesak Arya jujur. Sedangkan Arya langsung menelan ludahnya sendiri, dengan susah patah saat mendapat pertanyaan seperti itu.
__ADS_1
"Iya, vidio yang membuktikan jika aku bukan pelaku pemerkosaan itu," jelas Arya sambil cengar-cengir tak jelas.
"Bohong! Pasti kakak pelakunya, dan anak itu benar-benar anak kak Arya. Gak usah bohong deh Kak, jika hanya buat mempertahankan hubungan yang gak jelas ini!" tuduh Dira begitu saja. Bahkan kini mata indah Dira mulai berkaca-kaca, dan akan segera meneteskan sebuah buliran air mata.
"Aku gak bohong, Dira! kalau gak percaya lihat rekaman yang baru di kirim Seto, aku berani bersumpah bahwa bayi yang di kandung Fani bukanlah anakku!" Setelah itu, Arya langsung membuka laptop dan menunjukkan Vidio yang dikirim Seto.
Seketika Dira langsung membelalakan, kedua bola matanya. Saat melihat betapa kejamnya Rangga, memperkosa Fani tanpa ampun. Ada rasa kasihan, yang tiba-tiba muncul di benak Dira. Karena Dira juga wanita, pasti dia juga merasakan apa yang Fani rasakan saat itu.
"Terus, ayah dari bayi itu kemana?" tanya Dira sesegukan. Dira benar-benar tak tega, melihat kondisi Fani saat itu.
"Entahlah. Tapi besok aku akan menemui Fani, dan memaksanya mengaku. Kalau bisa aku akan mempersatukan mereka lagi karena Rangga, dan Fani pernah menjalin hubungan namun harus berpisah karena kedua orang tuanya" jelas Arya. Ya Arya tau siapa orang yang memperkosa Fani, karena Arya sudah tau gimana kisah Rangga dan Fani setelah mereka memutuskan untuk saling melengkapi dalam menjalani hubungan.
"Jika orang itu, tak mau menerima bayi kak Fani. Biar kita saja yang membesarkan anak kak Fani,aku bersedia kok merawatnya," ucap Dira sungguh-sungguh. Sedangkan Arya terlihat protes, dan tak setuju dengan ucapan Dira barusan.
"Memang Kakak serius, mau menjalani pernikahan bersama Dira? Bukannya Kakak Sangat mencintai kak fani?" tanya Dira.
"Itu dulu sebelum aku kenal kamu, Dira! Semenjak aku mengenal kamu, aku merasakan yang namanya cemburu, sakit hati, dan takut kehilangan. Apalagi saat aku melihat kamu, berdekatan dengan Pras! Aku sangat tak suka, itu!" dengus Arya sambil mencibirkan bibirnya.
"Kamu cemburu dengan, Pras?" goda Dira sambil menoel-noel pinggang Arya.
__ADS_1
"Tapi, Kak. Aku lebih suka Pras, karena dia lebih lucu dari kamu. Dia juga lebih tampan darimu," goda Dira sekali lagi. Sungguh Arya ingin sekali membungkam mulut Dira, yang terus-terusan membela Pras apalagi sampai memujinya.
"Aku akan memecatnya sekarang juga!" bentak Arya yang di bakar api cemburu. Setelah itu Arya langsung bergegas menghampiri Pras, namun belum juga Arya melangkah Dira sudah mencekal tanggal Arya agar tak jadi pergi.
"Tapi aku lebih suka Arya Wiguna. Arya lah yang membuat hatiku berdebar tak menentu, Arya lah yang membuat aku merasa galau saat tak bertemu sehari saja, Arya lah yang membuat aku merasakan kebahagiaan yang selama ini tak pernah aku rasakan, dan Arya lah yang bisa menaklukan hati Dira Larasati," ucap Dira yang mampu meluluhkan hati Arya. Apalagi saat Dira mengatakan itu semua, dengan bibir yang digigit sangat sensual.
"Jangan menggodaku, Sayang. Aku bisa memakanmu, sekarang juga. Dan tadi itu sangat enak, lembut dan kenyal. Aku mau lagi kismis, yang kamu tutupi selimut itu," ucap Arya sambil menunjuk ke arah dada Dira. Entah Dira dapat keberanian dari mana, tapi yang jelas Dira benar-benar berani menggoda Arya dan membuatnya ingin menerkam Dira sekarang juga.
"Mau kismis?" tanya Dira sangat sensual. Seketika Arya pun langsung mengangguk, dan mengiyakan apa yang di katakan Dira.
"Sini Sayang, ini milik kamu kok," ucap Dira sambil sedikit membuka selimutnya. Merasa di kasih lampu hijau, akhirnya Arya langsung berlari ingin memeluk Dira. Namun saat Arya berlari, Dira langsung loncat dari tempat tidur dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Yek... Gak kena, kalau mau kismis di dapur banyak. Kalau kismis ini, nunggu kita nikah!" teriak Dira sambil berlari. Sedangkan Arya sudah merasa tegang, tapi hanya di goda oleh Dira. Rasanya seperti mau enak, tapi tertahan di ubun-ubun.
"Dira, sialan kamu!"
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading