
Sedangkan di jakarta, Arya yang baru saja pulang dari kantor langsung di sambut dengan wajah senduh Ryant. Selama 3 minggu ini, Dinda selalu murung dan sering sekali kambuh karena memikirkan Dira. Tentu Arya tak hanya diam saja, karena Arya sudah menyebar luar Bodyguard nya untuk mencari Dira. Tapi, nyatanya sampai sekarang belum juga ada hasil.
"Pa, bagaimana keadaan Mama?" tanya Arya sambil membuka jas yang dia pakai. Entah kenapa saat Arya masuk kedalam rumah, hawa di sekelilingnya menjadi panas.
"Masih sama seperti seperti kemarin." Ryant menjawab dengan nada yang sangat putus asa. Sungguh Ryant sangat tak bisa melihat istri tercintanya seperti itu, karena memang Ryant sangat mencintai Dinda. sakit sedikitpun, akan di anggap parah.
"Arya apa kamu sama sekali belum menemukan Dira? Perasaan selama 3 minggu ini, kok gak ada hasil. Padahal jalan satu-satunya hanya Dira, agar Mama mu sembuh," ucap Ryant sekali lagi. Arya yang merasa lelah dengan semua pertanyaan Ryant dan Dinda pun langsung menarik nafas panjang, agar menetralisir amarah dan rasa capek yang dia tanggung.
"Arya sudah berusaha, Pa. Semua Bodyguard juga sudah Arya suruh nyebar di seluruh kota, bahkan Arya gak segan-segan menurunkan 20 Bodyguard agar Dira cepat ditemukan. Tapi hasilnya kan tetap sama, Dira belum juga di temukan." Ryant langsung bernafas gusar, saat mendengar penuturan sang putra. Setelah itu, Dinda langsung bersuara saat mendengar perbincangan dua orang laki-laki itu.
"Mama gak mau tau! Kalian harus menemukan Dira bagaimana pun caranya, kalau sampai kalian gak bisa menemukan Dira, berarti kalian harus siap-siap untuk kehilangan Mama," ucap Dinda lirih.
Arya dan Ryant yang mendengar ucapan Dinda, langsung molotot tajam. Mereka sangat tak suka dengan ucapan ngawur Dinda barusan. "Jangan ngawur kalau bicara, Allah sangat membenci orang yang putus asa. Lebih baik Mama berdoa, dan berusaha sembuh kalau ingin Dira kembali." bentak Ryant.
"Benar kata Papa. Kami juga berusaha mencari Dira, Mama bersabarlah sebentar. Dira pasti akan kembali, dan kita akan berkumpul seperti semula," ucap Arya dengan nada lembut. Bahkan Aura ketampanannya, langsung terpancar saat berkata seperti itu.
"Mama, hanya ingin Dira." Dinda pun langsung menangis saat mengingat Dira. Namun tangisan Dinda tak berlangsung lama, saat Fani datang dengan membawa keranjang buah. Sungguh hati Dinda langsung mendidih, dan ingin nampol wanita yang berstatus kekasih Arya.
"Selamat siang, Tante. Apakabar, apa Tante sudah baikan?" ucap Fani yang baru datang. Bahkan setelah menyapa Dinda, Fani langsung memeluk tubuh Arya dengan erat.
Arya yang mendapatkan tatapan tajam dari Dinda, langsung melepaskan pelukan Fani dengan sangat cepat. Karena Arya tak mau membuat Dinda menjadi anfal lagi, jika sampai itu terjadi lagi, nyawa Dinda lah yang menjadi taruhan.
"Kamu kenapa sih, Arya?" tanya Fani tanpa dosa.
"Kamu gak malu apa, peluk-peluk di depan Mama sama Papa?" balas Arya sambil berbisik. Sedangkan Fani yang tau maksud Arya langsung tersenyum dan memandang Dinda dengan senyuman yang sangat dibuat-buat, karena jujur saja, Fani sangat tau jika Dinda tak suka dengan dirinya.
"Tante sudah sehat kan? Ini Fani bawakan buah-buahan, jangan lupa di makan ya Tante." Fani meletakkan keranjang buah di atas meja, dan setelah itu kembali tersenyum palsu di hadapan Dinda.
"Terima kasih, tapi kamu gak perlu repot-repot!" jawab Dinda dengan malas. Bahkan sekarang Dinda langsung memiringkan tubuhnya agar tak melihat wajah Fani, muak itulah yang Dinda rasakan sekarang.
__ADS_1
"Arya kamu harus cepat cari Dira, kalau sampai belum ketemu juga, lebih baik Mama bunuh diri saja," ucap Dinda sambil menghadap tembok.
"Ma..."
"Kenapa harus dicari segala sih, Tante? Kan Dira sendiri yang ingin pergi dari keluarga ini, Dira juga yang memutuskan hubungan dari kalian. Jadi ngapain susah-susah di cari, bikin capek saja Tan," ucap Fani yang memotong perkataan Arya dan tak lama setelah itu. Arya langsung melotot, dan menatap tajam Fani.
"Gak perlu ikut campur urusan kita! Lagian darimana kamu tau Dira memutuskan hubungan dengan kita? Apa kamu yang membocorkan semuanya,Arya?" tanya Dinda dengan sinis. Sedangkan Fani langsung gelagapan saat sadar, jika dirinya keceplosan.
"Aduh, bodoh sekali kamu Fani. Bagaimana bisa kamu keceplosan, bagaimana ini, Arya curiga gak ya?" gunam Fani dalam hati. Dan tak lama setelah itu, Fani memandang Arya, dan benar dugaan Fani. Arya curiga, karena daritadi dia memandang Fani dengan tatapan curiga.
"Arya gak pernah bahas Dira, dengan Fani Ma. Tapi, perkataan Mama benar juga. Darimana kamu tau, jika Dira memutuskan tali persaudaraan dengan kami?" tubuh Fani langsung lemas seketika, saat Arya bertanya seperti itu. Dengan sangat cepat Fani harus memutar otak, agar Arya tak curiga.
"Emm... Emm... Itu hanya feeling fani saja kok," jawab Fani dengan terbata-bata. Bahkan bibir Fani sampai kaku, karena tak bisa berkata-kata.
Dinda yang sangat muak dengan Fani, sudah tak bisa menahan emosinya. Hingga dengan sengaja, Dinda mengusir Fani dari dalam kamarnya.
"Lebih baik kamu pergi saja dari sini! Kepalaku makin sakit saat ada kamu. Arya lebih baik cepat bawa fani keluar, karena Mama benar-benar muak liat Fani." pinta Dinda. Arya yang tak bisa menolak, akhirnya hanya mengangguk dan membawa Fani keluar dari kamar Dinda.
"Mama ogah punya mantu kaya dia! Kalau Papa suka sama Fani, nikahin saja dia. Yang penting jangan Arya, karena Mama gak akan meridhoi mereka berdua" Sungguh kata-kata Dinda sangatlah menusuk hati dan untung saja Fani sudah pergi. Jika dia masih di sini, pasti akan ada pertengkaran yang gak akan mungkin bisa di pisahkan begitu saja.
"Sabar, Ryant. Ini adalah fase dimana istrimu puber ke dua, jika fase itu sudah hilang, kamu akan tenang. Tapi tak ku pungkiri, jika aku terjebak dalam pesonanya. Bibir yang sangat indah, tubuh yang tetap ramping walaupun sudah dikatakan TUA. Tapi dia masih cantik, oh inilah kelebihan istri Ryant Putra Wiguna." gunam Ryant dalam hati.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet kamu, Pa?" bentak Dinda yang membuat lamunan Ryant langsung buyar.
"Tidak kok, Ma." Ryant pun langsung tersenyum dan gak mau membuat masalah dengan macan putih di depannya ini. Ryant lebih memilih bungkam daripada berbicara, karena jika di paksa bicara, macam putih yang ada di depan Ryant bisa menerkam kapan saja.
"Awas ngedumel jelek, sampai ketauan begitu, aku potong itu Buyung Puyuh." Ryant langsung menggeleng gelengkan kepala dengan tatapan horor, setelah mendengarkan perkataan istrinya tadi. Ryant lebih memilih bungkam, daripada masa depannya hilang.
"Kenapa diam! Di tanya itu jawab, bukan hanya diam saja!" bentak Dinda dengan keras, dan tentu saja Ryant langsung tersentak.
__ADS_1
"Papa berani bersumpah, Papa gak pernah ngedumel begitu. Papa hanya memikirkan perkataan Mama, bagaimana bisa Mama bilang Fani lebih baik nikah sama Papa, padahal Mama tau sendirikan, jika Papa itu gak bisa jauh-jauh dari Mama. Tapi dengan mudahnya Mama bilang, seperti itu," jawab Ryan dengan tergagap-gagap. Ryant sangatlah takut dengan istrinya, dibilang suami takut istri itulah julukannya.
"Banyak alasan saja, bisanya hanya ngeles. Tapi tunggu, jika itu bukan Fani Papa mau gak?" tanya Dinda dengan menelisik.
"Mungkin kalau bukan Fani, Papa pikir-pikir pagi," jawab Ryant dengan nada menggoda. Tapi usut punya usut, jika macan putih itu tak bisa membedakan mana bercanda dan bukan. Dan jadinya candaan Ryant berujung malam petaka, kita simak aja yuk 😁
"Jadi maksud kamu, jika bukan Fani kamu mau, Pa!"
"Eh? Ada yang salah ini, astaga aku salah bicara." gunam Ryant dengan takut.
"Ma, itu hanya bercanda." jelas Ryant dengan ketakutan. Bahkan Ryant sangat merutuki kebodohannya, bagaimana bisa membangkitkan macan putih yang sedang tidur.
"Alamak mati aku," gunam Ryant sekali lagi saat melihat siratan tajam dari mata sang istri.
"Ingat ini! Sampai kamu selingkuh, atau nikah lagi. Aku babat habis itu burung kutilang, dan gak akan tersisa sedikitpun. Aku pastikan akan habis!" ucap Dinda dengan sangat serius. Ryant hanya bisa menelen ludahnya sendiri dengan susah payah, saat melihat tangan Dinda memperagakan gaya memotong ayam.
"Kejam amat, Ma? Baru saja Papa merasakan Surga dunia lagi, tapi Mama punya rencana membabat habis junior Papa." balas Ryant. Bahkan tangannya kini menutupi aset berharganya itu, dengan kedua tangannya.
"Kalau gak mau jangan punya niatan aneh-aneh! Sekali lagi Papa bahas nikah lagi, Mama pastikan besok Papa gak punya yang namanya junior!" ucap Dinda.
"Perasaan Mama dulu yang membahas masalah ini, tapi kenapa Papa yang kena? Papa kan hanya meneruskan..." Suara Ryant langsung berhenti, tak kala melihat Dinda yang mulai menatap tajam lagi
"Iya... Iya maaf." Akhirnya Ryant diam dan memilih tidur di sebelah Dinda, sambil memeluk sang istri.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading