
WARNING...!
BOCIL MINGGIR...
Pagi hari Dira bangun dengan badan yang sangat remuk. Karena tanpa di sadari, Dira tertidur di bawah lantai. Mungkin efek menangis jadi lupa akan tempat tidurnya, dan berakhir meringkuk di lantai.
Setelah membersihkan badannya, Dira langsung bergegas keluar untuk membuat sarapan. Dengan langkah yang sangat cepat, Dira menuruni anak tangga. Namun saat Dira baru beberapa langkah menuruni tangga, Dira melihat sesosok tubuh kekar yang sedang tidur di atas sofa. Terlihat tak nyaman, karena tubuh lelaki itu sangat panjang.
Dira tau jika dia adalah Arya, suaminya yang semalam dia usir dari kamar. Rasa kasihan pun mulai tumbuh di hati Dira, Dira juga merasa bersalah karena dia, Arya jadi tidur di sofa. Dira pun mendekati Arya, dan membangunkan suaminya dengan sangat lembut.
"Kak bangun. Pindah ke kamar sebelum semuanya bangun, aku siapkan air hangat, lalu kak Arya mandi," ucap Dira sangat pelan. Sedangkan Arya yang merasa tidurnya di ganggu pun, langsung terbangun.
"Morning, Sayang," ucap Arya sambil menarik Dira, hingga jatuh di atas tubuhnya.
"Morning juga, Kak. Cepat lepasin aku, nanti di lihat orang gak enak," jawab Dira. Arya pun langsung mengecup kilas bibir Dira, dan langsung melepaskan pelukkan nya itu.
"Cepat bangun, aku akan siapkan air hangat. Setelah itu kita sarapan, dan olaraga bareng pagi ini," ucap Dira. Namun ternyata arya salah mengartikan kata olaraga bersama, Arya pikir dia akan mendapat jatah malam pertama yang tertunda.
Dengan sangat santai Dira masuk kedalam kamar mandi, dan tanpa di ketahui Dira, Arya juga ikut masuk kedalam. Bahkan Arya sudah menampilkan tubuh polosnya, di depan Dira.
"Kak, airnya sudah..."
"Ahhh... Sialan, dasar lelaki gila! Ngapain kamu tela*njag di depanku, Kak!" teriak Dira saat melihat semua tubuh Arya. Biasanya dia hanya melihat dada bidang Arya, tapi kali ini Dira melihat semuanya. Beserta burung lucknut, yang sedang melambaikan tangan jika dia sudah siap bertempur.
"Mau makan, dan olahraga," jawab Arya sambil cengar-cengir gak jelas.
"Ma... Makan ya nanti, olaraga pun juga. Kalau sekarang kamu mandi dulu," ucap Dira sambil berlari keluar. Dira merasa terancam saat melihat Arya yang seperti itu, bak orang yang kelaparan itulah yang di lihat Dira tadi.
"Untung selamat!" ucap Dira. Setelah itu Dira langsung mengambilkan handuk untuk Arya, dan juga merapikan tempat tidur. Namun saat Dira sedang fokus menata sprei, tiba-tiba Arya memeluk tubuh Dira dari belakang.
"Kak..."
"Kamu wangi banget sih, Sayang," ucap Arya sambil menciumi leher Dira.
"Kamu mandi atau cuci muka, Kak? Cepat sekali kamu keluar dari kamar mandi, jangan bilang kamu malas mandi?" ucap Dira sambil memegangi tangan Arya yang sudah melingkar di perut Dira. Sedangkan Arya tetap saja menggigit kecil, leher Dira hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Aku mau bermain dulu, Dira. Aku sudah tak tahan, coba pegang dia. Dia sudah tegang daritadi, malahan dari semalam. Cuma kamu tak mengizinkan aku masuk, jadi sekarang biarkan aku puas menikmati semuanya," ucap Arya sambil mengarahkan tangan Dira ke arah Lele berurat itu.
Terbelalak itu yang dilakukan Dira, benar saja. Lele berurat Arya berdiri kokoh, dan sangat besar. Jangan lupa dengan urat-urat yang membuat Lele itu lebih perkasa, dan juga menggiurkan.
__ADS_1
Astaga, ini berapa CM? Ini sungguh di luar batas, apakah nanti bisa masuk? Aku sungguh takut, apa yang harus aku lakukan. Ini pengalaman pertamaku, dan kak Arya gak tau semua itu. gumam Dira dalam hati.
"Ka... Kak," panggil Dira. Sebenarnya ada rasa takut, takut jika Arya marah jika dia mendapati Dira masih virgin. Tapi belum sempat Dira melanjutkan ucapannya, Arya langsung membungkam mulut Dira dengan bibirnya.
Di cium sangat lembut bibir itu, dan sapuan sapuan kecil pun dilakukan Arya. Luma*t demi luma*tan pun mereka berdua lakukan, saling bertukar saliva dan saling membelit lidah masing-masing.
"Emm... Kak." Arya pun melepas ciumannya, saat Dira kehabisan pasokan oksigen. Wajah mereka saling beradu, napas yang saling menderu. Membuat mereka saling tersenyum, karena bisa melepaskan kerinduan mereka selama ini.
"Aku mencintaimu, Dira," ucap Arya sambil menggendong tubuh Dira, dan diletakkan tubuh mungil itu di atas ranjang dengan sangat perlahan. Sedangkan Dira berusaha menetralisir jantungnya, yang berdetak sangat kencang. Sungguh Dira merasa gugup, dan malu.
"Dira apa aku boleh menyentuhmu? Jujur dari semalam aku menahan hasrat 45, aku di kerjai kakakmu itu. Dia sengaja memasukan obat perangsang di dalam minumanku, dengan bodohnya aku langsung meminum tanpa curiga. Aku sudah coba mandi air dingin tapi dia tak mau tidur dari semalam, dan aku tersiksa," ucap Arya sambil mere*mas dua gundukan itu.
"Tega sekali kakak, lain kali kalau kak Sintal memberikan sesuatu di priksa dulu, Kak. Sekarang lakukan tugasmu, aku sudah siap lahir batin," balas Dira sambil tersenyum.
Sedangkan Arya yang mendapatkan izin, langsung mencium kembali bibir itu. Tangan Arya pun tak tinggal diam, karena tangan Arya kini berada di balik baju Dira dan memelintir kismis yang ada di sana. Desa*han Dira pun langsung lolos, saat Arya memainkan daging kismis itu.
"Kak..." Pekik Dira saat Arya mencubit, daging kismis milik Dira.
"Maaf," ucap Arya. Arya pun membantu Dira melepaskan semua benang yang melekat di tubuh Dira, hingga Dira polos di hadapan Arya. Sungguh indah ciptaan Tuhan, tubuh yang sangat indah dan putih mulus tanpa cacat sedikitpun.
Dira yang merasakan malu, langsung menyilangkan kedua tangannya di atas bukit kembarnya. Namun dengan cepat Arya meraih tangan Dira, dan menyingkirkan tangan Dira yang merusak pemandangan saja.
"Tapi..." Belum sempat Dira berbicara, Arya langsung menyeruput lembut daging kismis yang mulai menggoda. Di hisa*p sangat kuat berharap keluar sebuah cairan bening, tapi nyatanya tak ada. Arya berhitung menikmati gunung kembar Dira, hingga dia bermain begitu lama di sana. Hingga desa*han, demi desah*an keluar dari mulut Dira.
"Aku masukin, ya?" Dira pun hanya bisa mengangguk pasrah. Menolak pun tak bisa, karena kepalang tanggung.
Setelah itu Arya merubah posisinya, dengan duduk di hadapan hutan rimba Dira. Dengan perlahan Arya memosisikan Lele berurat itu, ke lubang V Dira.
Perlahan-lahan Arya mencoba masuk, namun hasilnya gagal. Arya sedikit menyentuh V Dira, dan melihat itu sudah sangat basah tapi Arya tetap kesulitan masuk. Di coba sekali lagi, namun hanya masuk di tutup kepala saja.
Sedangkan Dira hanya bisa meringis menahan sakit di area pangkal pahanya, sungguh perih dan seperti di koyak saat Arya berusaha masuk kedalam. Hanya mengigit bibir, yang Dira bisa lakukan agar tak ketahuan jika Dira kesakitan.
"Sebenarnya berapa kali sih, kamu digauli Vano? Sumpah ini sulit banget sepeti belum pernah di masukin," ucap Arya.
Seketika pipi Dira langsung bersemu merah, saat mendengar ucapan Arya. Namun di balik itu, Dira sangat takut jika Arya marah jika tau dirinya belum pernah di sentuh.
Setelah berkata, Arya kembali berusaha memasukkan batang tongkat sakitnya. Dengan sekali hentakan, Arya berhasil masuk kedalam hingga membuat Dira menjerit kesakitan. Bahkan Dira langsung menarik ujung sprei, karena menahan sakit.
"Aahh..." Dira berusaha menahan air matanya, agar tak jatuh. Dira gak mau Arya tau jika dia menahan sakit, dengan sangat erat dira mencengkram bantal.
__ADS_1
Namun tak bisa di pungkiri, rasa sakit itu membuat air matanya lolos saat Arya menggerakkan pinggulnya. Ada rasa aneh, nyeri, perih, dan ngilu jadi satu. Berasa di sayat, oleh silet itu yang dirasa Dira saat ini.
"Dira apa kamu, haid?" tanya Arya saat melihat Lelenya ada bercak darah, yang keluar dari milik Dira.
Dira hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Arya, Dira tak bisa berkata-kata saat ini, Dira lebih fokus merasakan sakit di bawah sana.
"Tapi ini keluar darah, Dira!" Dengan segera Arya ingin menarik miliknya, namun dengan cepat Dira melarang Arya. Dira menangis, dan memohon untuk berhenti sebentar.
"Jangan di tarik, hiks hiks."
"Kamu kenapa, nangis?" tanya Arya sambil menghapus air mata Dira.
"Sakit." Arya pun semakin curiga dan mengajukan pertanyaan yang membuat Dira tak bisa berkata-kata lagi.
"Dira aku mau tanya sama kamu, tapi kamu harus jawab jujur. Sebenarnya aku merasa aneh saat menggaulimu tadi, apa kamu masih virgin?" tanya Arya yang langsung to the point.
Diam tak bisa menjawab, itulah yang dilakukan Dira. Dia sangat takut, Arya akan marah.
"Sudahlah jangan bohong lagi, karena milikmu tak bisa berbohong. Pertama aku sulit sekali masuk, kedua saat aku masuk kamu selalu menjingkat, ketiga saat aku berhasil masuk aku merasakan ada sesuatu yang aku koyak, keempat milikmu berdara, kelima kamu menangis dan kesakitan. jawab pertanyaanku dengan jujur dira!" tanya Arya dengan nada sedikit kesal, karena Dira tak mau jujur.
"Maaf, pasti kamu marahkan, saat tau aku masih virgin? Aku tau kakak pasti marah, tapi aku sembunyikan semua karena takut kakak menuduh aku gak mau melayani Vano. Tapi sumpah demi Allah, Vano yang tak mau menyentuhku dengan alasan belum waktunya, " jawab Dira sambil terisak.
Sedangkan Arya langsung tersenyum mendengar pengakuan Dira, Arya begitu bahagia karena dialah lelaki pertama yang berhasil merenggut kesucian Dira.
"Siapa yang marah, jika kamu jujur aku akan melakukannya dengan lembut. Tapi iya sih aku marah, karena kamu gak jujur. Jika kamu jujur pasti kita langsung nikah dari dulu," jawab Arya sambil mencium lebut pucuk kepala Arya.
"Aku gak mau terburu-buru, Kak. Jika saat itu aku jujur, pasti kamu akan cepat minta nikah dan aku gak akan mendengarkan pernyataan cinta dari kakak," balas Dira sambil tertawa. Tapi itu juga tak luput, dengan air mata Dira yang terus berjatuhan.
"Terima kasih sudah merubah hidupku, Dira. Jadi ini gimana, dilanjutkan atau nunggu nanti saja?" tanya Arya dengan tatapan jahil.
"Terserah Kakak, di lanjut sakit gak di lanjut sudah terlanjur jebol."
.
.
.
Heppy Reading
__ADS_1