Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - My Spoiled Family : Ularku Lebih Gede loh


__ADS_3

Hari demi hari pun berlalu sangat berat. Tak terasa kini sudah hampir 6 bulan berlalu, sejak Dira mengalami pendarahan karena terkejut mendengar jika Arya di bawah pergi Dinda.


Sejak saat itu juga Dira jadi gampang murung, dan tak mau makan. Sering sakit karena memikirkan Arya, apalagi Baby-Twins dia semakin kuat meminum ASI jadi membuat Dira sering ambruk kelelahan.


Hari demi hari Dira hanya berdiam diri di kamar, dan bermain dengan Baby-Twins. Terkadang Baby-Twins mencari Arya, tapi dengan cepat Dewi menujuk mereka.


Jangan tanya apakah Dira tak menyusul Arya? Maka jawabannya sudah, tapi sayangnya Dinda tak mengizinkan Dira masuk kedalam rumah. Beberapa bulan ini Dira sengaja gak kesana, karena sering merasa lelah.


Apalagi perutnya kini semakin besar, dan membuat Dira susah bergerak. Dira kini juga terlihat sangat kurus, tak seperti dulu yang selalu terlihat gemoy.


"Mommy," panggil Raya saat dia sudah kenyang.


Ya Dira masih menyusui Baby-Twins, karena memang Dira ingin menyusui mereka sampai dua tahun. Sedangkan Baby-Twins masih berusia 15 bulan.


"Iya, Sayang. Apa kamu sudah kenyang?" tanya Dira pada Raya. Sedangkan Ardi, langsung turun begitu saja setelah selesai menyusu.


"Daddy ...."


Selalu itu yang di tanyakan Raya. Dari kecil memang Raya yang selalu dekat dengan Arya, jika Arya pulang kerja.


"Daddy masih kerja, Nak. Nanti Daddy pasti pulang, jika sudah selesai bekerja. Jadi sebelum Daddy pulang, Raya harus jadi anak yang pintar," ucap Dira sangat lembut.


Setelah itu Raya langsung minta turun dari gendongan Dira, dan langsung memeluk perut buncit Dira. Sesekali Raya mencium perut Dira, dan kadang kala Raya memukul perut Dira.


"Kamu sayang sama, Adek?" Tanpa tunggu lama Raya langsung mengangguk. Raya memang belum bisa bicara, tapi Raya sangat paham dengan ucapan Dira.


Setelah selesai memeluk perut Dira. Raya langsung pergi begitu saja dari kamar, dan berjalan sangat lucu. Tangannya selalu di rentangkan, jika berjalan. Terkadang Raya jatuh, karena tangannya menabrak benda-benda di sekitarnya.


"Semakin hari, kalian semakin lucu. Hanya kalian yang membuat Mommy bertahan, dan juga adik kalian yang masih di perut Mommy," ucap Dira lirih sambil mengelus perutnya.


"Aduh!" pekik Dira saat merasakan perutnya kencang. Setiap hari Dira merasakan seperti ini, sangat berbeda seperti mengandung Baby-Twins. Tapi Dira tetap positif thinking saja, dan gak mau berburuk sangka.


"Hai, Nak. Kamu pasti merindukan Daddy ya? Kamu sabar sebentar ya Sayang, Mommy yakin Daddy pasti menjemput kita. Bahkan kita akan berkumpul lagi, kamu yang sabar ya," ucap Dira lirih.


Setelah itu Dira kembali duduk di pinggir jendela. Dira melihat pemandangan dari luar, dan tak lama setelah itu ponsel Dira berbunyi.

__ADS_1


"Seto?"


***


"Bagaimana, Mas? Apakah mbak Dira mengangkat panggilan, Mas?" tanya Lisma sangat penasaran.


Sedangkan Seto yang melihat Lisma semakin menggemaskan langsung mencium bibir Lisma, dan sedikit mengigit bibir Lisma.


"Ihh, sakit tau!"


"Biarin, lagian siapa suruh kamu sangat imut," ucap Seto tersenyum jahil.


Jangan tanya apakah mereka melanjutkan hubungan mereka atau tidak, karena dari perlakuan Seto ke Lisma sudah terlihat jelas. Jika mereka menjalani hubungan, namun Lisma masih belum tau jika Seto memiliki istri.


Seto sebenarnya sudah mengajukan perpisahan pada Sekar. Namun Sekar menolak, dan Seto gak mau kehilangan Lisma. Jadi Seto memutuskan untuk berhubungan dengan Lisma, di belakang Sekar.


Jika nanti Sekar tau, Seto akan menjelaskan sekali lagi jika dia hanya menganggap Sekar sebagai saudara gak lebih. Bahkan Seto juga sudah menyiapkan mental, jika suatu saat Lisma tau yang sebenarnya.


"Sudah ah, jangan gini. Cepat hubungi mbak Dira, mumpung bu Dinda sedang keluar kota dua hari," ucap Lisma sangat lirih.


Sebenarnya Aira, Seto, Ryant, merencanakan semua ini. Seto menyuruh Aira untuk berpura-pura ada tugas sekolah, dan harus di dampingin orang tua.


Mereka merasa sangat kasihan dengan Dira, dan berakhir membuat rencana seperti ini. Mereka juga sudah membujuk Dinda, tapi keras Kepala Dinda sangat besar hingga tak bisa di bujuk lagi.


"Hallo, Dira," ucap Seto sangat senang karena Dira mengangkat teleponnya.


"Seto, bagaimana keadaan kak Arya?" tanya Dira sangat lirih.


"Arya aman, kamu bagaimana?"


"Aku baik-baik saja, Seto. Tapi aku sangat merindukan kak Arya, aku ingin memeluk dia." Seto pun mendengar isak kan kecil dari Dira.


Seto sangat merasa iba melihat nasib Dira. Ingin sekali Seto melawan Dinda, tapi sekali lagi Seto gak berani melawan orang tua.


"Dira, kamu jangan nangis lagi. Arya sudah sembuh, hanya saja dia kayak kebo gak mau bangun. Kalau bisa ini aku akan siram dia pakek air comberan biar bangun, tapi aku takut kamu marah." Seto berusaha membuat kekonyolan agar Dira tersenyum lagi.

__ADS_1


"Berani sakiti kak Arya, aku bantai kamu. Mau aku masukkan ke penggilingan bakso, ha!" Dan pancingan Seto pun berhasil. Dira tersulut dengan ucapan Seto, hingga tak terdengar suara tangisan lagi.


"Aku ikhlas deh kamu masukkin ke penggilingan, asal kamu tersenyum lagi. Aku kan hanya remahan rengginang, jadi gak akan ada yang sedih jika aku pergi." Ucapan Seto pun berhasil membuat Lisma langsung terkejut.


"Eh, kata siapa gak ada yang sedih? Lisma gak mau ya kehilangan Mas, apalagi sampai di masukin ke penggilingan. Pokoknya Lisma, gak mau kehilangan Mas," protes Lisma.


Hening, seketika suasana menjadi hening saat Lisma berkata seperti itu. Seto sangat takut kena omelan Dira, yang super pedes itu.


"Seto!"


"He he he, aku jelaskan nanti. Aku mau bicara dulu, karena ini lebih penting. Apa kamu ga mau mendengar berita baik ini, Dira?" tanya Seto mengalihkan pembicaraan.


"Apaan?"


"Gini ...."


Seto pun menjelaskan rencananya, dan Dira sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu Arya. Dira juga langsung mematikan ponselnya, dan langsung berpamitan untuk siap-siap.


Sedangkan Seto hanya mendengus kesal. Karena melihat perubahan Dira yang sangat singkat, setelah mendengar penjelasan dia tadi.


"Beb, kita main yuk," ucap Seto sambil memeluk Lisma.


"Main apaan?" tanya Lisma kebingungan.


"Main, ular tangga lah. Masa mau main Minions, gak mungkin lah. Kan kita belum nikah," jawab Seto sangat ambigu.


"Ih, apaan sih! Otaknya ngeres, aku gak mau main Minions. Aku lebih suka main Ular tangga," ucap Lisma tersipu malu.


"Ularku lebih gede loh, mau liat gak?"


"Massss!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2