
Arya menggandeng Dira melangkah keluar kamar. Hari ini Arya gak perduli lagi dengan ucapan Dinda yang melarang dirinya untuk pergi, dan Arya juga gak perduli lagi dengan teriakan Dinda yang begitu histeris.
"Kak, sepertinya kamu di sini saja dulu. Kasian Mama, lihatlah apakah kamu gak kasihan?" tanya Dira memandangi Dinda sambil berjalan.
"Gak perduli! Aku ingin Mama menyadari kesalahannya, dan gak terus-terusan menyalahkan kamu. Sudah tau ini semua karena takdir, tapi Mama masih saja egois," ucap Arya dengan tatapan sinis.
Arya sudah terlanjur kecewa, dan tak mau berhubungan lagi dengan Dinda. Jika saja saat ini Dinda mau meminta maaf, mungkin Arya akan pertimbangkan. Tapi nyatanya Dinda masih enggan untuk meminta maaf, dan malah menuduh Dira yang tidak-tidak.
"Kak! Tapi Mama itu orang tuamu loh, jangan egois. Aku tau Mama sangat menyesal, tapi dia masih enggan mengakuinya. Jadi aku mohon jangan seperti ini, atau aku yang akan marah denganmu." Dira pun langsung menepis tangan Arya dan kembali ke dalam.
Arya yang merasa sangat frustasi hanya bisa mengacak-acak rambutnya, dan setelah itu mengikuti Dira. Arya gak mau sampai Dira kenapa-napa, karena ulah Dinda.
Sesampainya di ruang tamu, Arya melihat istrinya itu di maki-maki oleh ibunya. Hatinya sangat sakit, karena Dinda sama sekali tak bisa melihat kebaikan Dira.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu, Dira! Jika kamu gak hadir di sini, Arya gak akan membangkang seperti ini!"
Dinda pun langsung melayangkan tangannya ke arah pipi Dira. Namun sebelum menempel, Arya langsung mencekal tangan Dinda. Apa yang Arya takutkan terjadi, Dinda tak bisa kontrol emosi walaupun tau Dira sedang hamil.
"Mama, apa-apan sih? Kenapa Mama berubah, mana Mama Arya yang selalu menyayangi Dira? Kenapa Mama sekarang seperti ini? Apa salah Dira sesungguhnya, Ma?" tanya Arya sangat murka. Kesabaran Arya sudah habis, dan Arya juga gak suka dengan perlakuan Dinda yang semakin hari semakin menjadi.
"Arya, Mama lakukan ini juga karena kamu Nak. Mama sebelum tau segalanya, ada teman Mama yang bilang jika Dira pembawa sial. Teman Mama juga bilang, jika Dira selalu membawa aura buruk hingga membuat semua orang di rundung masalah," balas Dinda tak masuk akal.
Arya pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dinda. Jaman gini, masih percaya dengan tahayul dan yang membuat Arya semakin kecewa karena Dinda percaya itu semua.
Namun tak lama setelah itu, datanglah Ryant dengan tertawa lebar. Ryant sungguh menyayangkan sikap Dinda, bahkan Ryant juga merasa malu dengan sikap istrinya.
"Kenapa tertawa?"
__ADS_1
"Aku menertawakan kebodohan-kebodohanmu, Dinda. Sekarang lihat itu TV, dan lihat dengan mata kepalamu sendiri. Siapa Sicka dan apa juga profesi dia. Sudah berkali-kali aku bilang jangan percaya, tapi kamu selalu menentang ucapanku. Sekarang lihat hasilnya sendiri, Dinda!" Ryant pun melemparkan surat kabar dari tukang antar koran pagi ini.
Dengan sangat cepat Dinda membuka koran itu. Namun betapa terkejutnya dia, saat melihat namanya juga ada di dalam koran itu. Bahkan di sana tertera sangat jelas, jika Dinda melakukan penggelapan dana bersama temannya itu.
Bahkan Dinda baru mengetahui fakta jika sahabatnya seorang paranormal palsu, yang mengincar hartanya dengan cara mengatakan keburukkan dari keluarga.
"Mama kena tipu, 110 juga!"
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading