
Dewi yang sedang bingung antara masuk atau tidak pun hanya mondar-mandir di depan pintu kamar Fani, setengah jam sudah Dewi bergelut dengan batinnya dan akirnya Dewi memutuskan untuk masuk ke kamar Fani. Dewi sangat ingin melihat calon menantu nya itu, karena dia juga sangat penasaran dengan wanita malang yang di sukai anaknya.
"Aku harus siap, dia akan jadi calon menantuku mau gak mau dia tetap akan menikah dengan Sinyal, karena beberapa minggu lagi Tia akan menikah. Jadi aku harap Sintal bisa menikah lebih dulu," ucap Dewi sangat lirih. Setelah itu Dewi langsung membuka pintu kamar rawat Fani, dengan perlahan Dewi masuk dengan jantung berdetak kencang.
Saat Dewi masuk, dia melihat seseorang yang sedang tidur dengan tubuh bergetar. Dewi pun merasa ibah dan menghampiri Fani.
"Kamu menangis karena anak saya ya?" tanya Dewi sangat lembut. Sedangkan Fani langsung terkejut saat mendengar suara seseorang dari belakangnya, bahkan Fani langsung menoleh ke arah Dewi sambil menatap bingung.
"Tante siapa?" tanya Fani.
"Tante, mamanya Sintal. Pasti Sintal yang membuat kamu menangis, maafkan anak Tante ya?" balas Dewi sambil mengelus lembut rambut Fani.
"Tante, mamanya montok? Eh maaf maksud saya dokter Sintal, maaf ya Tante." Fani merasa malu Karena salah sebut nama, saat berada di depan Dewi. Sedangkan Dewi hanya terkekeh mendengar perkataan Fani.
"Tak apa, memang kami selalu memanggilnya Montok kok. Jadi gak perlu takut gitu," ucap Dewi sangat lembut.
"Bagaimana keadaan kamu, dan bayi kamu? apa sehat dia sehat?" tanya Dewi.
"Sehat Tante," Fani merasa terharu karena masih ada yang memperdulikan keadaannya, selain Dira dan Sintal.
"Kenapa menangis lagi? Apa Tante salah bicara, kalau iya Tante minta maaf." Fani pun langsung menggeleng saat Dewi meminta maaf.
"Tante gak salah, mungkin karena hormon jadi Fani agak cengeng. Tapi apa boleh Fani memeluk tante? Fani sangat ingin di peluk saat ini," pinta Fani. Tentu Dewi memperbolehkan Fani memeluknya, tanpa menjawab Dewi langsung memeluk Fani dengan lembut.
"Peluk lah sesuka hatimu, anggaplah aku ibumu, jangan sungkan-sungkan," ucap Dewi sambil mengelus kepala Fani. Sedangkan Fani langsung menangis baru kali ini dia merasakan pelukan seorang ibu yang sangat tulus.
__ADS_1
"Fani apa kamu mau menikah dengan anak Tante, Tante sangat ingin kamu menjadi menantu Tante. apa kamu mau?" Fani pun langsung terbelalak mendengar perkataan Dewi. Karena dia merasa tiba-tiba di lamar, oleh seorang.
"Maksud Tante apa ya?" tanya Fani sangat bingung.
"Tante mau kamu jadi menantu, Tante," Dewi mengulang perkataannya kembali.
"Tapi Tante tau kan kalau saya sedang hamil, mana boleh menikah saat sedang hamil tante. Lagian apa Sintal mau menerima saya dan anak saya?" tanya Fani dengan ragu.
"Kamu bisa menikah kok. Tapi setelah anak kamu lahir, kamu bisa menikah ulang dengan Sintal dan masalah Sintal pasti dia mau. Sintal urusan Tante," jawab Dewi.
"Tapi, Tan..."
"Kamu percaya deh sama Tante, Tante akan membahagiakan kamu dan anak kamu. Tante akan menganggapnya seperti cucu Tante sendiri, kamu jangan takut akan hal itu," bujuk Dewi. Karena dia sangat ingin Fani tetap menjadi menantunya.
"Boleh kah Fani memikirkannya, dulu?" Dewi pun mengangguk dan memberikan waktu untuk Fani berfikir.
****
Sedangkan di lain tempat, Sintal dan Dira sudah ada di rumah dengan bergelut ria di dapur. Setelah dari rumah sakit, mereka berdua langsung menuju Minimarket untuk mencari bahan-bahan yang di perlukan.
"Dek, bahannya sudah lengkap kan?" tanya Sintal.
"Sudah Kak," jawab Dira. Dengan semangat Sintal langsung membantu Dira memotong bawang dan bumbu lainnya, Dira yang melihat Sintal semangat menjadi geli sendiri.
"Kak apa kamu menyukai, kak Fani?" tanya Dira yang membuat Sintal menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
"Entahlah," jawab Sintal sangat cuek. Setelah itu Sintal kembali asik memotong bawang dan terong.
"Kak! Aku serius, kalau Kakak serius Dira mohon jaga kak Fani. Cukup sudah penderitaannya, Kak," ucap Dira sedikit memohon. Bahkan Dira sampai menghentikan kegiatannya, untuk memasak.
"Jangan berhenti, nanti Fani kelaparan kalau kamu kelamaan buatnya. Kamu gak kasihan sama anakku yang ingin memakan nasi jagung?" ucap Sintal tanpa menyadari perkataannya itu.
"Ya... Ya... Anakku," ejek Dira. Sedangkan Sintal semakin geram karena di ejek adiknya terus-menerus.
"Jangan bahas aku terus, kamu bagaimana dengan Arya? Jika kalian menikah siapa yang akan menjadi wali nya?" tanya Sintal. Seketika wajah Dira menjadi senduh, saat mendengar penuturan Sintal.
"Entahlah... Dulu Dira sama Vano memakai wali hakim, sepertinya akan sama aku harus wali hakim lagi," balas Dira.
"Jangan wali hakim, biar papa saja yang menjadi wali kamu dan kamu tak perlu memakai wali hakim," ucap Sintal.
"Tapi apa boleh? Kan Dira bukan anak papa Angga?" tanya Dira sangat serius.
"Boleh biar Kakak yang atur, nanti." Dira pun tersenyum dengan lebar saat Sintal mengatakan hal itu. Mereka berdua pun kembali memasak dengan canda tawa yang tiada henti, dan setelah selesai tanpa tunggu lama mereka membawa makan itu ke rumah sakit.
Fani pasti akan senang, jika nanti dia tau aku membawa makan yang dia suka. Fani tunggu aku, di sana.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading