
"Kak jangan gitu ah! Dira gak bisa lihat TV nya, diam sedikit kenapa kak!" Dira merasa kesal saat Arya terus-menerus mengganggunya, menonton acara azab.
"Kamu nonton terus, Sayang. Aku kan juga ingin di manja, dan di perhatikan," ucap Arya yang terus ngedusel di perut Dira. Bahkan kejahilan Arya tak sampai situ, terkadang kepalanya di masukan kedalam baju Dira. Hingga yang punya perut, kegelian terkena brewokan Arya.
"Ada waktunya lihat FTV, dan ada waktunya mesra-mesraan Kak. Sekarang waktunya nonton FTV, untuk Kakak setelah FTV ini habis," jelas Dira sambil mengelus lembut punggung Arya. Sedangkan Arya yang di dalam baju Dira, terus-menerus mengigit BRA berwarna pink itu.
"Memang apa sih yang kamu lihat, hingga lupa dengan aku?" tanya Arya sangat kesal. Arya merasa di duakan, jika Dira melihat TV.
"Aku lagi lihat azab kubur, Kak. Judulnya juga seru, jadi aku penasaran jalan ceritanya," ucap Dira dengan cuek. Dira sama sekali tak memperdulikan Arya yang mulai menemukan titik kesukaannya, ya itu susu vanilla. Bahkan kini Arya mulai menye*dot bak anak kecil yang kehausan, dan Dira sama sekali tak merasa risih.
"Memang judulnya, apa?" tanya Arya sedikit belepotan karena mulutnya masih aktif di payu*dara Dira.
"Azab seorang suami, keseringan minum susu, mati overdosis," ucap Dira sedikit menyindir.
"Apa? Serius kamu, serius ada yang seperti itu?" Arya pun langsung melepas susu favorit nya, dan ikut melihat TV yang di tonton Dira.
"Lihat saja itu judulnya, nanti Kakak tau," ucap acuh Dira dan tak lama setelah itu terdengar suara ribut-ribut dari arah luar kamar.
"Kak, ada yang ribut di luar. Ayok kita lihat, sapa tau ini penting," ajak Dira. Arya pun menganggukkan kepala, dan mereka berdua pun keluar dari kamar.
Samar-samar mereka mendengar perdebatan kecil, namun menjadi besar saat mereka tak ada yang mengalah. Siapa lagi bukan Dinda dan Dewi, mereka saling berteriak merebutkan Dira akan tinggal bersama siapa.
"Pokoknya Dira harus tinggal di rumah kami! Dira menantu kesayanganku, dan Dira juga sudah aku anggap anakku sendiri!" teriak Dinda saat dia berkunjung ke rumah Dewi. Sebenarnya mereka tadi biasa saja, bahkan bercanda tawa.
Namun saat membahas Dira, suasana menjadi mencengkam. Saat salah satu dari mereka tak ada yang mau mengalah, dan ingin menang sendiri. Jelas Dira bingung, apa yang mereka perebutkan. Hingga membuat mereka bertengkar, di saat baru sehari menjadi besan.
__ADS_1
"Mana bisa! Sintia harus tinggal di sini, kami baru bertemu dengan Sintia, beberapa bulan ini. Seharusnya bu Besan mengerti itu!" teriak Dewi tak kalah melengking.
Sedangkan Dira pelaku yang di perebutkan, mendekati mereka dengan jalan tertatih. Pangkal pahanya terasa nyeri, karena Arya terlalu sering menggempur Dira di atas ranjang. Tak tanggung-tanggung, hingga membuat pinggang Dira patah.
"Saya tau, tapi bu Besan kan ada Fani, lah saya sama siapa?" balas Dinda lagi dan lagi. Sedangkan dua lelaki, yang seharusnya bisa menghentikan pertikaian itu. Malah asik menonton, dan melihat saja.
"Biarkan pak Besan, ini urusan ibu-ibu. Kita lebih baik diam, daripada nanti kita kena imbasnya. Kalau mau bantu, tunggu nanti kalau di panggil," bisik Angga pada Ryant.
"Iya pak Besan, kita diam saja daripada salah lagi seperti tadi." Begitulah curahan hati bapak-bapak.
"Fani kan masih lama, dia juga belum melahirkan. Jadi biarkan Sintia bersama saya dulu," Dewi pun tak mau kalah. Sedangkan Dira dan Arya begitu malu, karena sikap orang tua mereka yang tak bisa dewasa. Meributkan hal sepele, padahal bisa di rundingkan.
"Mama jangan maluin Arya dong, cuma masalah gini jadi ribut sih? Kan kita bisa..."
"Pak Besan, tuh liat Arya saja kena. Apalagi kita? Lebih baik kita jadi penonton saja, daripada kita kena dapat julukan anak kodok," balas Ryant.
"Jika Arya anak kodok, berarti Mama itu juga kodok. Sesama kodok gak boleh saling menghina, kita satu spesies," jelas Arya yang mulai jengkel. Arya sangat kesal dengan Dinda, yang selalu mengatai dirinya kodok. Lebay memang, tapi bagaimanapun juga. Gak ada Dinda, novel gak seru.
(Yang gak suka skip aja wkwkwk)
"Dasar anak durhaka!" teriak Dinda sambil memukul bahu Arya. Sedangkan Dira hanya geleng-geleng melihat anak dan ibu, yang tak pernah akur.
"Aku berasa seperti anak tiri tau gak, Ma? Sebenarnya aku ini anak pungut kali ya?" ucap Arya sambil mengelus bahunya. Arya merasa iri, sangat iri karena Dira di perebutkan dua orang, bahkan Arya merasa heran dengan perlakuan Dinda.
Biasanya di TV, mertua gak mau tinggal dengan menantu. Bahkan ada yang terang-terangan di usir, tapi Mama kok sayang banget sama Dira ya? Malah melebihi batas, aku saja anaknya sering mengalami KDRT. Fixs aku memang anak tiri. gumam Arya dalam hati.
__ADS_1
"Bisa gak sih kalian diam! Dira capek tau lihatnya, Dira juga ingin tinggal dengan kalian, tapi sayangnya tubuh Dira gak bisa di belah jadi dua," ucap Dira sambil memijit pelipisnya. Dira benar-benar pusing menghadapi prilaku kedua orang tuanya, yang terlalu menggebu-gebu.
Namun tanggapan Dira, di balas aneh oleh Arya. Dengan lancang, dan tak tau malu Arya berkata sangat vulgar di depan orang tua mereka masing-masing.
"Jangan di belah, nanti gak enak. Masa kakak harus nidurin separuh badan kamu? kan gak lucu Sayang," ucap Arya tanpa rasa dosa. Ingin sekali Dira hilang dari bumi ini, dan menghilang dari orang-orang yang di sekitarnya.
"Sama sekali gak lucu, Kak! Aku sedang serius kamu malah bercanda, iya kalau bercandanya lucu! Ini garing banget kaya rempeyek," ucap Dira sangat kesal. Kepalanya makin sakit, saat memikirkan semuanya. Dira ingin tinggal dengan mereka semua, tapi gak begini caranya.
"Gini saja, daripada ribut. Mama mau gak, adopsi anak umur sepuluh tahun?Tapi mau menginjak sebelas tahun sih, dia anak perempuan yatim-piatu dan gak punya siapa-siapa. Namanya Aira, dia ada di Malang," ucap Dira yang mencari solusi. Sedangkan Dewi dan juga Dinda bingung dengan ucapan Dira.
"Apa hubungannya, kamu sama anak itu?" tanya Dewi dan Dinda berbarengan.
Ck... Bak kembar siam saja, apa-apa sama. Eh... Astaghfirullah, aku durhaka banget ngejek mereka berdua. Sadar Arya, sadar. gumam Arya sambil geleng-geleng. Sedangkan Dira yang melihat suaminya aneh, langsung bertanya, "kenapa?"
"He He He... Gak apa-apa, kok," balas Arya. Setelah itu, Dira hanya mengangguk dan kembali menjelaskan apa yang ada di otaknya.
"Jadi gini..."
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1