
Setelah memikirkan rencana untuk menjebak Serlin, akhirnya kini Dira dan Angga sampai di rumah Serlin. Namun sayangnya, saat mereka sampai, Serlin tak ada di rumah. Entah pergi kemana anak itu, tapi yang pasti mereka akan menunggu sampai Serlin pulang.
"Silahkan di minum dulu. Mungkin Serlin sebentar lagi datang, karena sudah tiga jam dia keluar," ucap Eri sambil menaruh dua cangkir teh hangat.
"Gak usah repot-repot, Bu," balas Dira. Dira merasa tak enak hati, karena Eri terlalu baik.
"Iya, benar kata anak saya. Gak perlu repot-repot." Angga membenarkan ucapan Dira.
Eri pun tersenyum, dan menatap Dira. "Aku gak merasa direpotkan. Oh ya, kalau boleh tau anda siapa? Kok bisa kenal dengan Serlin?" tanya Eri.
Setelah itu Dira menatap Angga, untuk meminta izin. Angga yang paham, langsung mengangguk.
"Saya Sintia dan ini Papa saya Angga. Kami kesini untuk berbicara dengan Serlin, saya mau Serlin mengeluarkan suami saya dari penjara," ucap Dira sangat sopan. Sedangkan Eri langsung mengerinyitkan kening, karena bingung.
"Maksudnya apa,ya? Saya kok gak bisa mencerna perkataan anda, buat apa Serlin menjebloskan seseorang ke penjara?" balas Eri dengan tatapan bertanya-tanya. Angga hanya bisa memaklumi, karena Eri belum tau jika Dira istri Arya.
"Jadi begini ceritanyanya, Bu. Anak saya ini istrinya Arya Wiguna, atau bisa di bilang Arya adalah mantan tunangan Serlin. Anak Ibu datang ke Bali, waktu anak saya bulan madu. Di sana mereka bertengkar, bahkan adu mulut. Tapi, itu karena anak anda menuduh anak saya, sebagai pelakor. Kan Ibu tau sendiri, siapa yang pergi terlebih dulu, kok anak saya yang di tuduh pelakor?" ucap Angga panjang lebar.
Eri merasa sangat malu, karena kelakuan Serlin. Eri bingung harus pakai cara apa lagi, supaya anaknya itu sadar.
"Anak itu, selalu saja bikin masalah! Terus apa yang bisa saya bantu, agar kalian bisa membebaskan Arya?" tanya Eri sangat malu. Siapa sih yang gak malu, jika anaknya seperti ini. Bahkan harga diri Eri sudah tercoreng, karena tak bisa mendidik anak.
"Apakah anda pernah melihat Serlin membawa sesuatu, seperti surat dari kedokteran? Saya membutuhkan itu," balas Angga to the point. Angga tak mau berbelit-belit, jika sudah di depan mata kenapa harus berputar-putar.
"Kemarin sih dia pulang dengan membawa dua amplop, tapi yang satu di taruh di sini. Bentar ya, saya ambilkan dulu." Eri pun bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar Serlin.
Setelah masuk kedalam, Eri langsung mencari amplop itu di dalam lemari. Hingga 10 menit kemudian, amplop yang di cari ketemu. Tanpa tunggu lama, Eri langsung keluar dan menunjukkan amplop itu pada Angga.
"Ini amplop yang di bawa, Serlin." Eri pun menyodorkan amplop itu. Tanpa tunggu lama, Angga langsung mengambil amplop itu dan membuka isinya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Angga saat tau logo rumah sakit itu, adalah rumah sakit miliknya. Angga sangat geram, karena salah satu dokternya ada melakukan kecurangan demi urusan pribadi orang lain.
"Ini memang laporan asli dari rumah sakit. Tapi aku yakin ini sudah di palsukan catatanya, di sini juga tertera nama dokter Ara," ucap Angga sangat kesal.
"Ara?"
"Iya! Yang mengeluarkan surat ini adalah dokter Ara, dia juga ada di rumah sakit kami," balas Angga. Angga tak mau tinggal diam, karena ini merupakan pelanggaran.
"Papa, kok tau?" tanya Dira penasaran. Pasalnya Angga bilang Ara ada di rumah sakit, jadi otomatis Angga tau tentang Ara.
"Dokter Ara adalah dokter di rumah sakit kita, Sayang. Dia suka dengan Sintal, tapi kamu tau sendiri kan kakak kamu kayak apa? Susah jatuh cinta, tapi sekali dia cinta, dia akan perjuangkan sampai dapat," balas Angga dan Dira langsung menganggukkan kepala.
"Ara dan Serlin, sepupu," ucap Eri tiba-tiba. Dira, Angga pun langsung memandang tak percaya pada Eri. Fakta baru, ternyata Ara dan Serlin sepupu. Jelas Ara membantu Serlin.
"Iihh... Dunia sempit sekali," gerutu Angga. Tak lama setelah itu, Serlin datang dengan keadaan ngomel-ngomel gak jelas.
"Awas saja kamu, aku pastikan kamu membusuk di penjara, aku juga pastikan istrimu akan menderita. Aku akan membuat semuanya hancur!" gerutu Serlin sambil berjalan. Bahkan Serlin tak menyadari kedatangan Dira, dan Angga.
"Ngapain kamu, kemari?" tanya Serlin dengan tatapan judes. Serlin terlalu benci dengan Dira, hingga melihatnya saja ogah
"Mau bicara sama kamu! Cepat cabut gugatan kamu di kantor polisi, aku camkan sekali lagi. Jangan pernah main-main dengan keluargaku, jika kamu gak mau tersakiti!" balas Dira sangat lantang.
"Aku gak akan bebaskan Arya, kalau dia gak mau menikah dengan aku! Lagian aku juga mau ngalah jadi istri ke dua, tapi Arya tetap gak mau. Jadi maaf aku gak akan mau keluarkan Arya dari penjara."
Plaak!
Sebuah tamparan pun mendarat bebas di pipi mulus Serlin. Eri lah yang menampar Serlin, karena menganggap Serlin sudah keterlaluan.
"Cepat cabut laporanmu itu Serlin! Jangan karena ambisi kamu menjadi gila, ingat Allah sangat membenci seseorang yang merusak rumah tangga orang lain Serlin! Kamu keluar dari jalur Serlin, taubat sebelum Allah memberi mu azab Serlin!" teriak Eri sangat murka. Eri malu, malu memliki anak seperti Serlin.
__ADS_1
"Sebelum menceramahi Serlin, lebih baik mama ngaca dulu! Sekarang Serlin mau tanya sama mama!" tantang Serlin dengan nanar yang gak enak di pandang.
"Kapan sih, Mama dukung Serlin? Kapan Mama perhatian sama Serlin? Mama selalu hidup dengan dunia Mama, dan melupakan serlin. Lihatlah almarhum Papa, dia meninggal karena siapa? Semua karena Mama yang selalu doyan selingkuh! Jadi jangan pernah menceramahi Serlin, jika Mama sendiri bukan orang baik!" Eri pun semakin sakit hati, saat mendengar anak satu-satunya berkata seperti itu.
"Kamu gak tau cerita aslinya, Serlin! Terserah kamu mau nuduh Mama apa, tapi yang pasti Mama lakukan itu demi melindungi papa kamu!" balas Eri sambil menangis. Eri tak menyangka, jika pengorbanan dia selama ini di salah artikan oleh Serlin.
"Ceritanya sudah jelas, Ma! Serlin jadi begini juga karena kalian, jadi sekarang jangan ngeluh, apalagi menyalahkan Serlin! Lagian apa salahnya jika Serlin berbuat curang agar mendapatkan cinta Arya lagi. Serlin lakukan ini juga demi anak Serlin, agar dia mendapatkan seseorang Ayah!" Dira pun diam-diam membuka alat perekam dari ponselnya untuk mendengar pengakuan Serlin.
Sebenarnya ini rencana mereka, mereka menjebak Serlin agar dia sendiri yang mengaku. Tanpa harus mengeluarkan uang, ataupun otot.
"Tapi kamu salah, Serlin!" balas Angga. Serlin pun langsung menatap tak suka, dia tak suka jika ada orang luar ikut campur.
"Salahnya dari mana? Om gak tau apa-apa lebih baik diam, dan jangan pernah ikut campur!" jawab Serlin sangat murka.
"Dan kamu Dira. Cepat lepasin Arya atau kita bisa menjadi madu, aku gak apa-apa jika jadi yang ke dua. Nanti aku akan mencabut laporanku di kantor polisi, tapi jika kamu gak mau, aku akan meminta Ara untuk membantuku lagi. Aku akan meminta dia untuk membuat surat palsu lagi yang akan memberatkan Arya di sana!" Tanpa Serlin sadar, dia sudah mengungkap kebusukan dia sendiri.
Angga hanya bisa tersenyum licik, karena dia pikir Serlin sangat pintar. Tapi ternyata dia sangat bodoh, bodoh akan ambisi.
"Lakukan sesuka hatimu Serlin.Tapi yang jelas aku gak mau di madu, lebih baik kak Arya di penjara dari pada harus berbagi ranjang!" jelas Dira yang sedikit menohok. Jujur saja, Dira gak mau berbagai ranjang, cinta, maupun raga Arya. Karena Arya, hanya milik Dira seorang.
"Dasar sok jual mahal! Baiklah jika itu maumu, kita lihat siapa yang akan menang. Kau atau aku!" Setelah itu Serlin pergi meninggalkan ruang tamu, hari ini Serlin terlalu banyak marah. Hingga membuat dia sakit kepala.
Sedangkan Dira, langsung mematikan rekaman yang dia pencet tadi. Dan langsung memandang Serlin, yang mulai sedikit menjauh.
"Kita lihat saja, nanti!"
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading