
Malam harinya Arya juga Dira sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta, mereka berdua memutuskan pulang saat mendapatkan telpon dari Dinda.
Dinda kembali menelfon Arya dan mengatakan, jika dirinya tak jadi menyusul ke Bali. Melainkan mereka lah yang harus segera pulang, karena ada masalah yang sangat penting. Sebenarnya Arya enggan untuk kembali, tapi saat mendengar suara isak tangis Dinda. Mau tak mau, Arya akan kembali ke Jakarta hari ini juga.
Mereka pun kini memasuki rumah, dengan sangat tergesa-gesa, saat mereka masuk Arya sangat terkejut melihat Dinda menangis dan juga Ryant yang berbicara dengan polisi. Saat Arya masuk semua orang melihat ke arah Arya, juga Dira.
Dira merasa ada yang tak beres, tapi tak tau apa itu. Toh mereka juga baru datang, tapi sudah banyak polisi. Terhitung ada empat polisi, yang berbicara dengan Ryant.
"Kak, aku takut," ucap Dira lirih. Arya pun semakin menggenggam erat tangan Dira, dan menggandeng Dira untuk mendekati mereka semua.
"Ada aku, yakinlah." Dira hanya tersenyum. Tapi tak bisa dipungkiri, saat ini Dira sangat ketakutan.
"Sebenarnya ada apa, ini?" tanya Arya saat dia sudah dekat dengan polisi-polisi itu.
"Apa anda, Arya Wiguna?" Polisi pun berbalik tanya. Tanpa tunggu lama, Arya langsung membalas pertanyaan Polisi.
"Iya saya, Arya. Ada apa anda mencari saya, apa ada keperluan?" jawab Arya sangat tegas. Sedangkan Dira langsung memegang erat tangan Arya, Dira takut kehilangan Arya. Apalagi melihat raut wajah polisi itu, sangat mengerikan.
"Saya dari kepolisian membawa, surat penangkapan Anda. Karena tuduhan penganiayaan terhadap nona Serlin waktu di Bali, jadi mohon kerja samanya untuk ikut kami ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan yang pasti," ucap salah satu polisi.
"Apa-apaan ini? Kapan suami saya menganiaya Serlin, dia yang tiba-tiba datang ke Bali dan mempermalukan saya di hadapan semua orang. Kenapa sekarang malah suami saya yang di tuduh seperti ini, memang kalian punya bukti apa hingga menangkap suami saya?" protes Dira yang tak terima. Dira langsung menyembunyikan tubuh Arya di balik tubuh mungilnya itu, padahal jika di bandingkan. Tubuh Arya lebih besar, jadi percuma Dira melindungi Arya.
__ADS_1
"Kami punya bukti Visum nona Serlin, di situ tertera jika tuan Arya lah yang melakukan penganiayaan itu dan kami akan membawa anda ke kantor polisi!" Polisi pun langsung menyingkirkan tubuh Dira dan menarik tangan Arya.
"Jangan kasar dengan, istriku! Silakan kasar dengan aku, tapi jika kalian berani menyentuh Dira. Jangan salahkan aku, jika aku mematahkan tangan kalain!" bentak Arya. Polisi tak mendengarkan Arya, namun polisi memborgol tangannya hingga terkunci semuanya.
Aku sudah tau, jika akhirnya begini. Sifatmu sungguh tak berubah, Serlin. Kamu tetap licik, dan penuh tipu muslihat! gumam Arya.
"Lepasin suami saya! Dia gak bersalah, lepaskan suami saya," teriak Dira sambil menangis. Bahkan Dira berusaha mendorong polisi itu, sedangkan Dinda tak bisa menenangkan Dira karena dia juga syok. Akhirnya Ryant yang memegang kendali.
"Dira kamu harus sabar, Nak," ucap Ryant dengan memeluk tubuh Dira. Dira terus meraung, dia tak terima suaminya di tahan polisi.
"Pa ... Laporan itu palsu, kami setiap hari ada di kamar jarang keluar hotel. Setiap waktu, kami habiskan di kamar dan bertemu Serlin hanya sekali. Itu pun waktu malam hari, setelah itu sudah gak bertemu lagi," ucap Dira semakin menangis di pelukan Ryant. Hati Arya terasa pilu, dia tak bisa melihat Dira seperti ini.
"Pak, bisa saya bicara sebentar dengan istri saya? Hanya sepuluh menit saja, setelah itu saya akan ikut anda," pinta Arya. Arya ingin menenangkan Dira terlebih dahulu, Arya juga tak mau Dira terlalu stress.
"Sini peluk aku bentar. Mungkin aku akan tidur di sana untuk beberapa hari, jadi kamu tidur dulu sama Mama," ucap Arya sambil mencium Dira. Sedangkan Dira langsung menggelengkan kepala, tanda tak setuju.
"Dira mau tidur sama, Kakak saja. Gak apa-apa kita di Bali sampek setahun, asal dengan Kakak," balas Dira dengan linangan air mata. Pilu hati Dira saat ini, mereka baru saja menikmati bulan madu. Tapi sekarang Dira harus merasakan pahit, karena Arya harus masuk penjara.
"Hey ... Kakak hanya sebentar. Sekarang kamu dengerin Kakak, suruh Seto pergi ke Bali dan suruh dia cari bukti CCTV di Restaurant. Satu lagi suruh Seto cari CCTV di hotel kita menginap, di dompet Kakak ada kartu debit, itu kasih ke Seto barang kali dia butuh uang untuk keperluan di Bali." Dira pun langsung mengangguk dan mengambil dompet Arya di dalam saku.
"Kamu jangan menangis. Ingat nasip kakak ada di tangan Seto, jika Seto lama kakak akan berada lama di sana. Dan jika Seto cepat mencari bukti, berarti kakak hanya akan beberapa hari saja. Kamu mengerti kan?" Dira pun menganggukkan kepala. Namun tetap saja, Dira masih tak terima Arya di hukum.
__ADS_1
Cup! Cup! Cup!
Tiga kecupan pun mendarat di bibir Dira, setelah itu polisi langsung menarik Arya dan membawanya pergi. Sungguh pilu hati Dira saat ini karena melihat sang suami pergi meninggalkan dia. Karena ulah mantan tak punya hati.
"Kakak hati-hati di sana, Dira janji akan bawa secepatnya rekaman itu. Kakak tunggu Dira, Dira akan mengeluarkan kakak," teriak Dira saat melihat Arya diseret keluar dari rumah, dan di perlakuan tidak senonoh dengan petugas.
"Kakak tunggu, Sayang!" balas ar6ya sebelum menghilang dari balik pintu. Setelah itu, Dira langsung mencari ponselnya dan menghubungi Seto.
"Pa, Dira mau bertemu Seto. Bisa berikan nomor atau alamat Seto, dira ingin pergi dengan Seto ke Bali," ucap Dira dan membuat Dinda terkejut.
"Buat apa kamu ke Bali, Dira? Suami kamu masuk penjara gara-gara wanita ular itu, dan kamu malah memilih pergi ke Bali lagi dengan Seto?" ucap Dinda sambil menangis histeris.
Sungguh Dinda berburuk sangka dengan Dira, padahal niatnya baik. Dan ingin menunjukkan tempat apa saja yang dia datangi dengan Arya.
"Dira mau cari bukti, Ma! Aku yakin, Arya di jebak!" Balas Dira sambil memohon. Namun Dinda ya Dinda, dia tak membiarkan Dira pergi dengan Seto.
"Tidak!"
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading