
Malam hari pukul 07:13 Arya dan Dira pergi kerumah Ustadz Zakir. Mereka berdua ingin menanyakan tentang masa iddah seorang wanita yang ditinggal meninggal, dan berapa lama masa iddah itu di jalankan. Karena bagaimanapun juga, Arya sangat ingin menikahi Dira secepatnya.
"Jadi gini, pak Ustadz. Saya dan Dira mendapatkan wasiat dari Almarhum adik saya, dia ingin saya menikah dengan istrinya setelah dia tiada. Tapi yang saya bingungkan, apakah saya boleh menikah dengan mantan istri adik kandung saya?" tanya Arya. Sedangkan Dira hanya melotot tak percaya, karena tujuan awal kesini ingin tau tentang madah iddah.
Kak Arya ini gimana sih? Tujuan awal kan tanya tentang masa iddah, bukan masalah boleh gak nya menikah.
"Sebenarya wanita yang haram dinikahi itu disebut dengan istilah mahram. Dan kita mengenal ada dua jenis mahram, yaitu mahram yang bersifat abadi (muabbad) dan mahram yang bersifat sementara (muaqqat).
Isteri adik yang sudah cerai atau pisah karena meninggal, tidak termasuk ke dalam kelompok wanita yang diharamkan secara abadi, namun hanya masuk ke dalam kelompok yang kedua, yaitu mahram secara sementara saja. Yaitu selama masih menjadi isteri dari sang adik.
Dalilnya adalah firman Allah SWT:
وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إَلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ
Dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. (QS An-Nisa: 23)
Bila hubungan suami isteri di antara mereka sudah tidak berlangsung lagi, baik karena cerai atau karena meninggal, maka mantan isteri adik anda akan kembali menjadi wanita yang halal dinikahi.
Maka halal bagi mas Arya untuk menikahi mantan isteri adik anda itu. Tidak ada halangan apa pun secara hukum syariah. Apalagi perpisahan di antara mereka telah lama terjadi," jawab Ustadz Zakir.
(Ini saya dapat dari artikel, dia google)
"Jadi saya boleh menikahi, adik ipar saya?" Ustadz Zakir pun manggut-manggut. Sedangkan Dira hanya diam seribu bahasa, karena dia fokus mendengarkan ucapan Ustadz Zakir.
"Tapi, adik saya baru meninggal enam minggu yang lalu pak Ustadz. Apa saya boleh menikah langsung, atau menunggu massa iddah? Dan jika iya, masa iddah itu berapa hari?" tanya Arya kembali.
"Harus menunggu masa iddah dulu mas Arya. Masa iddah itu ada beberapa katagori mas Arya," jawab Ustadz Zakir.
"Oh," jawab Arya.
"Kalah boleh tau, berapa lama mbak Dira dan suami menikah?" tanya pak Ustadz Zakir sekali lagi.
"Hanya tiga bulan, Pak Ustadz," balas Dira dengan lirih.
"Singkat sekali, ya Allah. Tapi selama pernikahan, apakah mbak Dira pernah di jamah walau hanya sekali?" tanya Ustadz Zakir tanpa memikirkan perasaan Dira sekarang.
Pertanyaan macam apa ini? Gak mungkin kan aku jujur, jika aku belum di sentuh sama sekali waktu menjalani pernikahan dengan Vano. Kalau sampai kak Arya tau, bisa mati aku.
"Maksud Ustadz Zakir, apa ya?" tanya Arya yang sedikit kesal. Arya sangat tak suka jika ada seseorang yang bertanya dengan sangat detail, karena entah mengapa hati Arya panas, saat menayangkan Dira pernah di jamah Vano.
__ADS_1
Panas! Ini hati kenapa panas, aku gak suka. Tapi aku terlihat kayak orang bodoh, toh mereka pernah menjadi suami istri. Jadi wajar jika mereka melakukan itu.
"Saya hanya memastikan agar saya tidak memberikan informasi yang salah. Mengingat cerita mbak Dira, yang hanya menikah tiga bulan saja. Terlebih lagi suami mbak Dira sering sakit-sakitan jadi, wajar saya bertanya mbak Dira pernah melakukan atau belum," jawab Ustadz Zakir dengan tersenyum tipis. Bagaimana tidak tersenyum, jika melihat tingkah Arya yang tiba-tiba melotot pada Ustadz Zakir.
"Su ... Sudah." Dira menjawab dengan tergagap-gagap. Sakit itu yang dirasakan Arya, dan rasa tak enak mulai tumbuh di hati kecil Arya.
Ah... Hatiku patah, tapi kenapa juga sih aku ini? Sadar Arya, mereka suami istri dan wajar melakukan itu. Lagian dua manusia dalam satu kamar, gak akan pernah kuat jika tak melakukan itu. Itu sudah jadi hak Vano, tapi entah kenapa hati ini terasa nyeri nyut-nyutan.
"Apa sekarang, mbak Dira hamil?" Dira sedikit terkejut, namun dia tetap menggelengkan kepalanya.
Mana mungkin hamil. Disentuh saja belum, hamil darimana. Ini semua karena aku harus bohong, jadi ditanya aneh-aneh.
"Baiklah karena saya sudah mendengar semuanya, maka saya akan jelaskan. Masa iddah ada banyak, tapi berbeda kondisi," jelas Ustadz Zakir.
"Berbeda bagaimana, Pak?" tanya Arya yang bingung.
"Biar saya jelaskan." Arya dan Dira pun menganggukkan kepala, dan mendengarkan penjelasan Ustadz Zakir sekali lagi.
"1.Masa iddah di tinggal meninggal dunia.
wanita yang di tinggal meninggal oleh suaminya, maka masa iddah nya adalah empat bulan sepuluh hari. hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 234,228 dan 227.
wanita yang di tinggal meninggal dunia oleh suaminya dan tengah hamil maka masa indah nya sampai saat melahirkan. hal itu seperti firman Allah SWT dalam Quran surat al-thalaq ayat 4. (Ini juga dari artikel, maaf jika ada yang salah)
Tapi, jika mbak Dira belum pernah di setubuhi sama sekali saat menjadi istri mas Vano, maka tak ada masa iddah. Dan berhubung mbak Dira pernah melakukannya, jadi masa iddah mbak Dira empat bulan sepuluh hari," jelas Ustadz Zakir. Sedangkan Arya langsung terkejut.
"Apa! Jadi maksudnya, saya gak bisa menikah dengan Dira sampai 17 minggu 3 hari?" teriak Arya sangat kencang. Sedangkan Dira yang merasa malu, langsung mencubit lengan Arya.
"Aw, sakit Dira!" pekik Arya sambil mengelus tangannya.
"Diam, dan dengarkan dulu!" Akhirnya Arya hanya bisa menurut dan mendengarkan kembali ucapan Ustadz Zakir.
"Iya betul sekali. Jadi mas Arya harus bersabar. Berhubung masih 6 minggu jadi, mas Arya harus menunggu 11 minggu 3 hari lagi, dan setelah itu baru bisa menikah," ucap Ustadz Zakir.
Disini aku bisa melihat, yang sangat ingin menikah adalah mas Arya. Dan aku juga melihat ada cinta di mata mereka, cuma mereka belum menyadari semuanya. gumam Ustadz Zakir.
__ADS_1
"Gak ada cara lain gitu, agar saya bisa nikah 3 minggu lagi? Dan kamu Dira, coba kamu ingat-ingat lagi, apa dulu kamu pernah melakukan dengan Vano? Barang kali kamu hanya mimpi waktu itu." Terkejut itu yang dirasakan Ustadz Zakir dan Dira. Mereka berdua sekali tak percaya, jika arya bisa berkata seperti itu di hadapan seorang Ustadz. Sungguh Dira sekarang ingin lompat dari gedung yang tinggi, dan berharap amnesia.
Gila! Ini benar-benar gila, malu banget aku ya Allah. Sungguh orang ini gak ada akhlak! gerutu Dira dalam hati.
"Kakak ini apa-apaan sih! Malu tau di dengar pak Ustadz. Lagian kak Arya ngebet banget sih, apa salahnya nunggu 11 minggu? Itu hanya 11 minggu bukan 11 tahun, Kak!" Omel Dira. Sedangkan Ustadz Zakir hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Arya, yang tak tahan menunggu masa iddah Dira.
"Sekali lagi saya minta maaf ya, pak Ustadz. Maaf atas kelancangan, kakak ipar saya. Kalau gitu saya pamit, dan terima kasih atas pengetahuannya. Entah jadi apa saja jika, tak menemui pak Ustadz. Mungkin besok saya akan dinikahi oleh manusia satu ini!" pamit Dira dengan sopan. Sedangkan Arya langsung merajuk karena perkataan Dira, yang menurut Arya sangat melukai hatinya.
"Iya Mbak, saya senang jika memberikan ilmu pengetahuan," jawab Ustadz Zakir.
Setelah berpamitan, Arya dan Dira bergegas meninggalkan rumah Ustadz Zakir. Mereka berdua berjalan beriringan, tanpa ada yang bersuara. Dira yang merasa kesal akhirnya memecahkan keheningan, yang seperti kuburan itu.
"Terus saja jadi manusia bisu! Sudah dewasa tapi, tak bisa berfikir dewasa. Lagian itu hanya 11 minggu, Kak!" Omel Dira.
Dasar orang gila! Seenaknya saja cuekin aku, liat saja nanti kamu Kak! maki Dira dalam hati.
"Aku bukan bisu Dira! Aku hanya menyesal, kenapa tadi aku menurut dengan kata-katamu untuk pergi ke rumah Ustadz Zakir. Andai saja kita tak pergi kesana, mungkin pernikahan kita akan tetap berlangsung," ucap Arya dengan lesu.
Maafkan Aku, Kak. Aku juga gak mungkin bilang kalau Vano belum menyentuhku sama sekali. Lagian aku juga ingin melihat keseriusanmu selama sebelas minggu kedepan, mampukah kamu mencintaiku dengan tulus atau kamu melakukan ini hanya karena amanah vano saja.
"Dira, ayo kita nikah sekarang saja! Kamu bilang ke Ustadz Zakir, kalau belum dijamah Vano..."
Plakk...
Spontan Dira memukul punggung Arya, dan itu berhasil membuat Arya menghentikan ucapannya itu. Dira merasa kesal dengan usul yang gak masuk akal, yang diberikan Arya. Sungguh itu bukan kelakuan seorang Arya.
"Kenapa kamu pukul, Kakak?" gerutu Arya dengan mengelus punggungnya.
"Karena ucapanmu nyeleneh tau gak sih, Kak! Sekarang begini, aku mau tanya sekarang. Apa tujuanmu menikahi aku? Apa karena cinta, amanah, atau hanya nafsu semata?" Arya pun tak bisa menjawab pertanyaan Dira.
Jujur aku masih bingung. Rasa apa ini? Cinta, atau hanya nafsu. Tapi yang pasti, aku sangat menginginkan Dira. Entah kenapa semenjak Vano tiada, aku merasakan perasaan aneh dengan Dira.
"Gak bisa jawab kan? Jadi terima saja keputusan tadi, dan tunggu sampai masa iddah ku selesai. Tapi jika dalam sebelas minggu nanti kamu belum bisa mencintaiku sama sekali, aku akan terima itu dan menjalani pernikahan tanpa cinta. Bahkan aku akan tetap menunggu sampai kamu mengucap, kata cinta!" Setelah itu Dira langsung meninggalkan Arya sendiri, dan memilih mendahului Arya.
Jika iya aku mencintaimu. Tetap saja aku tak bisa mengatakan semuanya, karena aku takut akan satu hal. entah apa itu, tapi yang pasti aku sangat menginginkan kamu menjadi istriku
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading