
"Mama ketipu 110 juta, Pa!" teriak Dinda sangat histeris.
Mereka semua tak bisa berkata-kata lagi, karena memang ini murni kesalahan Dinda sendiri. Di kasih tau juga gak mau, dan selalu mempercayai temannya itu.
Namun tak lama setelah itu, seorang Polisi masuk kedalam rumah. Dinda sangat bingung kenapa ada polisi, terlebih lagi mereka masuk dengan mudah tanpa permisi.
"Permisi, Pak Ryant. Apakah saya sudah boleh membawa istri anda, dan untuk di mintai keterangan?" tanya Polisi itu.
"silahkan." Dinda pun sangat terkejut. Suaminya sendiri membiarkan dia di bawah ke kantor polisi, tanpa mencegah mereka semua.
"Pah!"
"Ini hukuman untukmu, Dinda. Agar kamu bisa berpikir dewasa, dan tau mana yang salah, mana yang benar," ucap Ryant sambil menahan tangis.
Sebenarnya Ryant gak tega, tapi mau gimana lagi. Dinda bersalah dalam kasus ini, bahkan namanya juga terseret dengan tuduhan penggelapan dana sebesar 1M.
Mungkin ini hukuman dari Allah, karena kami selalu melalaikan nya. Semoga dengan ini Dinda bisa berubah, dan gak akan menjadi egois lagi.
"Pa, tapi Mama gak bersalah. Ini hanya salah sangka saja, malahan Mama yang di tipu. Ayolah Pa, jangan egois. Kasihan Mama, dia ada riwayat Asma," pinta Dira.
Dira gak mau mertuanya sampai di penjara. Apalagi ini juga bukan murni kesalahan Dinda, karena emosi Dinda gampang di manfaatkan seseorang di sebelahnya.
"Nak, Mamamu bersalah. Jangan waktunya dia membenarkan dirinya, dan mungkin dengan cara ini Mamamu bisa berubah," balas Ryant.
__ADS_1
Dinda pun melihat Dira terus membela dirinya. Ada rasa penyesalan di dalam sana, tapi mungkin sudah terlambat. Dinda sudah melukai hari Dira, bahkan Dinda sampai gak tau Dira sempat hamil lagi.
Ini semua salahku. Jika aku mau mendengarkan Ryant, kejadiannya gak akan seperti ini. Aku memang egois, dan mau menang sendiri. Maafkan aku, Dira. Mungkin dengan cara seperti ini, Mama bisa menebus kesalahan Mama, gumam Dinda sebelum polisi membawanya keluar.
Arya juga memohon pada polisi, tapi dia tetap kalah karena polisi juga membutuhkan keterangan dari Dinda. Dira juga terus menangis, melihat mertuanya di giring polisi. Hatinya gak rela, orang yang sangat dia sayangi harus menderita.
"Aku harus hubungi, Sean. Hanya Sean, yang bisa membantu Mama." Dengan cepat Dira menghubungi Sean. Sean berkata akan menangani kasus Dinda, dan menyuruh Dira tenang. Karena jika panik, maka semua akan semakin runyam dan tak terkendali.
Setelah selesai menghubungi Sean. Arya mengajak Dira pulang, karena Dewi sudah menghubungi Dira. Dewi bilang Baby-twins sudah merengek minta susu, dan stok ASI sudah habis di kulkas.
Di perjalanan mereka masih saling diam. Mereka gak ada yang mau berbicara, apalagi sekarang mereka juga bergelut dengan batin mereka masing-masing.
Setelah sampai di rumah, Dira juga Arya langsung turun dari mobil dan masuk bersama-sama ke dalam rumah. Dari luar saja Dira dapat mendengar Baby-twins sedang menangis, hingga membuat Dewi kualahan.
"Daddy ...."
Baby-twins pun langsung minta di turunkan. Dengan cepat, mereka lari menghampiri Arya. Arya sangat terkejut melihat si kembar bisa jalan dan lari, ada rasa khawatir mereka jatuh tapi nyatanya mereka berhasil sampai di depan Arya.
"Daddy ...." Panggil mereka secara bersamaan. Bahkan mereka saling berebut minta gendong, hingga membuat Arya kualahan.
"Hai anak Daddy, jangan rebutan Nak. Sini Daddy gendong semua, jadi gak perlu berebut." Arya pun langsung menggendong kedua anaknya itu. Mereka sangat senang, bahkan langsung mengalungkan tangannya di leher Arya.
Arya sangat tau, jika anak-anaknya sangat merindukan dia. Terlihat bertapa manjanya mereka, saat ini. Mereka seakan rindu dengan Arya, hingga tak memperdulikan Dira lagi.
__ADS_1
"Aduh, Mommy di lupakan. Padahal tadi ada yang minta susu, tapi sepertinya kalian gak mau susu lagi," ucap Dira sambil berusaha duduk.
Hamil kali ini Dira sangat kesulitan di manapun. Mungkin karena dulu ada Arya, apapun di bantu Arya. Sedangkan hamil yang sekarang, dia lalui sendiri hingga kuku kakinya minta di potong kan Dewi.
"Dira, Mama senang akhirnya Arya sadar. Mama sangat bahagia akhirnya kalian bisa bersatu lagi. Mama harap ini adalah yang terakhir, dan kalian gak akan pernah terpisahkan lagi," ucap Dewi sambil mengelus perut besar Dira.
"Semoga, Ma. Dira juga berharap seperti itu. Semoga ini yang terakhir, karena Dira ingin melihat anak-anak tumbuh dewasa dengan kak Arya. Kami juga ingin melihat anak-anak menikah dengan seseorang, dan kami juga ingin memiliki cucu," balas Dira sambil tertawa.
Memang terlihat lucu, tapi ini kenyataannya.
Dira ingin melihat anak-anaknya memiliki anak, dan setelah itu Dira baru ikhlas jika di panggil sang kuasa.
"Amin, semoga Mama juga bisa melihat cicit cicit Mama nanti." Dira pun mengaminkan ucapan Dewi. Mereka memiliki harapan yang sama, melihat anak cucunya bahagia.
.
.
.
Happy Reading.
Oh ya, aku mau bilang. Nanti jika kisah anaknya Dira agar blangsak, jangan protes ya 🤣🤣
__ADS_1
Soalnya salah satu dari mereka ada yang somplak, ada yang galak ples kaku, ada juga yang manja. Jadi sifat mereka bertolak belakang 🤣🤣